
Sekitar pukul delapan malam Gadis datang ke rumah Bryan. Sebenarnya tubuh Gadis sudah sangat lelah akibat projek iklan yang memaksanya lembur beberapa jam. Walau demikian, Gadis tetap memaksakan diri untuk datang menemui Bryan.
Langkah kaki Gadis sudah menyusur ke area taman rumah milik Bryan. Tapi, menurut Gadis seperti ada yang aneh di rumah Bryan. Tak biasanya rumah Bryan dipenuhi beberapa mobil mewah. Biasanya hanya ada mobil Bryan saja yang terparkir di halaman. Tapi, kali ini ada tiga mobil yang berderet di sana.
Apa mungkin ada tamu spesial yang datang ke rumah Bryan?
Batin Gadis bertanya tanya, sementara kedua bola matanya menyelidik ke sekeliling rumah Bryan.
"Selamat malam Pak Maman." sapa Gadis pada pria paruh baya yang sudah setia menjadi tukang kebun di rumah Bryan.
"Ya ampun... Neng Gadis kemana saja Neng? Tuan muda dari kemarin nyariin Neng. Tuan hampir gila kehilangan Neng Gadis." tutur Maman menjelaskan semua kecemasan yang dirasakan Bryan sejak Gadis menghilang tanpa kabar.
"Ada sedikit masalah kecil Pak. Jadi, Gadis baru bisa ke sini." ungkap Gadis yang tak ingin menjelaskan semua kejadian yang menimpanya.
"Oh, gitu ya Neng. Tapi, kenapa telpon Neng Gadis susah dihubungi? Berkali kali tuan Bryan coba hubungin Neng. Tapi, tetap saja tidak bisa." rupanya Maman sudah menyaksikan sendiri bagaimana kalutnya pikiran Bryan saat kehilangan kabar dari Gadis.
__ADS_1
"Handphone Gadis hilang Pak Maman." hanya itu yang mampu Gadis sampaikan untuk Maman.
"Oh iya Pak, sepertinya Bryan sedang ada tamu ya?" akhirnya Gadis menanyakan pada Maman akan rasa penasarannya. Sesaat Maman terdiam, dia bingung harus menyampaikan apa kepada Gadis. Karena, malam ini adalah malam pertemuan orangtua Bryan dengan orangtua Friska.
"Kok diem sih Pak?" melihat raut wajah Maman yang masih kebingungan membuat Gadis menghentakkan tangannya di bahu Maman.
"Itu Neng... Itu..." lidah Maman semakin kelu untuk menyampaikan situasi yang sebenarnya. Maman tahu betul kalau Gadis adalah kekasih yang sangat Bryan cintai, begitupun dengan Gadis yang hanya mencintai Bryan.
"Itu apa Pak Maman? Ayo jawab!" Gadis semakin menekan Maman untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Pak Maman sebenarnya tidak tega menyampaikan ini sama si Neng." ujar Maman dengan mata menelisik ke semua sudut rumah Bryan.
"Bilang ajah Pak Maman. Ada apa?" melihat ketakutan dari raut wajah Maman membuat Gadis semakin penasaran.
"Tuan muda dijodohkan oleh tuan besar Neng." bisik Maman di telinga Gadis. Sesaat pikiran Gadis seperti melayang, ucapan Maman bukan hanya menembus gendang telinga Gadis saja. Tetapi, sukses menembus hati Gadis. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau perjodohan itu akan terjadi.
__ADS_1
"Pak Maman tidak sedang bercanda dengan Gadis kan?" Gadis kembali memastikan ucapan Maman dengan nada bicara yang mulai terbata.
Lidah Gadis terasa kelu untuk berucap, ada sesak tak terkira di hatinya. Pria yang Gadis cintai selama ini dengan mudahnya menghempas namanya begitu saja. Tapi, bukankah niat awal Gadis datang ke rumah Bryan hanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Bryan?
"Pak Maman serius Neng." jawab Maman sembari mengangkat jari tengah dan telunjuknya. Sementara Gadis masih berdiri mematung di hadapan Maman.
Otak Gadis kembali teringat akan masa masa awal hubungannya dengan Bryan. Sejak awal Gadis selalu merasa rendah diri bersanding dengan Bryan yang terlahir dari keluarga kaya. Kini ketakutan Gadis selama ini terjadi.
"Selamat tinggal Bryan." akhirnya kalimat itu lepas dari bibir Gadis. Wanita cantik yang masih berbalut pakaian kerja itu langsung melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari rumah Bryan.
Biarlah semuanya berakhir di sini. Mungkin cinta tidak akan pernah ada untuk Gadis. Apalagi Gadis yang sudah kehilangan kehormatan sebagai wanita, membuatnya semakin merasa tak sebanding dengan Bryan.
•••
Tinggalkan jejak jempol kalian ya 😉
__ADS_1