
"Hey Gadis! Kalau makan itu gak boleh bengong." seru Tania yang tiba-tiba datang di samping Gadis. Mereka sedang menikmati jam istarahat untuk makan siang di kantin seperti biasa.
Pikiran Gadis masih terbayang akan perpisahannya dengan Bryan. Hatinya masih bertanya-tanya kenapa harus Friska dalam perjodohan itu?
Rasanya dunia ini terlalu sempit. Baru saja kemarin dia melihat langsung wajah Friska di DZ Production, kini Gadis harus mengakui kalau Friska adalah saingan terberat dalam kehidupan cintanya bersama Bryan.
"Lo kesambet apaan sih Dis?" Tania menghentakkan bahu Gadis. Karena, Gadis masih tidak merespon keberadaan Tania.
"Gue putus Tan." hanya itu jawaban dari bibir tipis Gadis.
"What?" Tania terkejut mendengar pernyataan Gadis barusan.
"Iya." jawab Gadis simpel. Saat Gadis bergelut dengan kesibukkan, dia bisa melupakan Bryan. Tapi, saat situasi santai seperti ini bayangan Bryan kembali hadir dalam pikiran Gadis.
"Kenapa Dis? Kok bisa putus sih." ucap Tania menyayangkan hubungan Gadis dengan Bryan.
Sebelumnya Gadis sudah sedikit cerita pada Tania tentang Bryan. Tania tahu kalau Bryan bukan level pria sembarang. Sosok Board of Director dari perusahaan Victor memang tak bisa dianggap remeh.
"Jarak kita terlalu jauh Tan." ucap Gadis sambil menghela nafasnya, dan mengaduk jus alpukat kesukaan Gadis.
"Kenapa sih harus status sosial yang jadi masalahnya?" kilah Tania sedikit kesal akan pengakuan Gadis.
"Lagian lo cantik, punya karier, mau cari yang gimana lagi sih Bryan?" rentetan pembelaan Tania membuat Gadis tersenyum getir.
"Kalau Bryan itu simpel. Tapi, tidak dengan papihnya." memang benar, andai saja David bukan ayah kandung Bryan. Mungkin saja Gadis akan sedikit berani meruntuhkan dinding pemisah antara dirinya dengan Bryan. Tapi, ini David. Pria yang sudah menghancurkan kehormatannya.
"Terus lo yang gak simpel gitu? Lo juga yang mutusin Bryan kan?" pertanyaan Tania semakin menyelidik.
"Bryan dijodohkan sama papihnya. Apa lo mau tahu siapa cewek yang dijodohkan sama Bryan?" ucapan Gadis memancing rasa penasaran Tania.
Gadis yakin setelah mendengar nama wanita yang akan dijodohkan dengan Bryan, pasti Tania akan teriak histeris.
"Siapa emangnya?" respon Tania terdengar santai.
__ADS_1
"Afriska Meidina." bisik Gadis di telinga Tania.
"Serius?" mata Tania membulat tak percaya. Sementara Gadis hanya merespon dengan satu anggukkan kepala.
"Gila, dunia sempit banget." ujar Tania sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya.
"Terus apa rencana lo ke depannya? kembali Tania mempertanyakan pilihan hidup Gadis.
"Gue cuma ingin fokus karier dulu Tan, soal kehidupan cinta mending gue kesampingkan dulu." mendengar jawaban Gadis membuat Tania sedikit terkekeh.
"Jawaban klasik dari orang yang baru putus cinta." ujar Tania, lalu Gadis sedikit mendorong bahu Tania untuk meluapkan kekesalannya pada ejekan Tania.
"Calm down Gadis, lagian masih cantikkan lo kemana mana dari pada Friska. Dia cuma menang popularitas doang kok." kali ini Tania berusaha ingin mengembalikan semangat Gadis.
"Gue yakin, lo bisa dapetin cowok yang lebih dari Bryan." mendengar ucapan Tania membuat seutas senyuman yang terkesan geli, terbit dari bibir Gadis.
"Bisa ajah lo." ujar Gadis melanjutkan kembali makan siangnya yang belum habis.
•••
Pikiran Bryan kembali teringat akan ancaman David semalam. Setelah kepergian Friska beserta keluarganya, David benar benar mengancam keselamatan Gadis. David bisa saja melenyapkan Gadis dari dunia ini, karena diapun takut Gadis menceritakan aksi penculikan itu pada Bryan.
"Aku masih mencintaimu sayang." bisik Bryan dengan menatap foto Gadis dari gallery handphone.
Tiba-tiba notifikasi whatsapp masuk ke dalam handphone Bryan, menampilkan nama Papih di atas beranda.
[Papih]
Tinggalkan Gadis yang sudah tak gadis lagi.
David masih saja menekan Bryan. Entah kenapa ada perasaan sesak tersendiri setelah tahu kesucian Gadis sudah direnggut oleh pria lain.
Bryan enggan membalas pesan David. Namun, tak lama kemudian David kembali mengirimkan pesan untuk Bryan. Tidak ada chat apapun di sana, rupanya David hanya mengirimkan pesan video dengan durasi satu menit saja.
__ADS_1
Bryan langsung memutar video tersebut, ternyata David sedang merekam aktivitas Gadis di kantor. Dapat Bryan lihat sosok Gadis yang sedang fokus di depan pc monitor.
Ancaman David tidak main-main kali ini, bahkan Bryan sudah mengerti maksud David mengirimkan video tersebut.
[Bryan]
Jika berani menyentuh Gadis, maka nyawa Friska taruhannya.
Akhirnya, Bryan berani membalas pesan dari David. Kini, Bryan mengerti kalau David semakin menekan dirinya untuk mau menikahi Friska.
"Agghhhhhhrrrr!" pekik Bryan dengan mengacak rambutnya kasar. Pria itu semakin merasa kalau dirinya tidak beda dengan boneka yang selalu dipermainkan oleh papihnya.
"Kapan aku bisa terlepas dari semua aturan hidupmu David?" bisik Bryan dengan rahang yang sudah mengeras.
Bryan bangkit dari kursi kebesarannya, tangannya meraih kunci mobil yang dia letakkan di meja samping. Langkahnya setengah berlari, dia ingin segera pergi dari kantor Victor Group.
Bryan putuskan kalau hari ini dia tidak ingin bekerja. Perpisahannya dengan Gadis membuat hatinya kacau, Bryan masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.
Entah kemana Bryan akan pergi? Yang jelas dia tidak ingin berada di kantor Victor.
"Pak Bryan mau kemana?" tanya Aira, sekertaris cantik yang sudah setia menemani Bryan sejak dua tahun terakhir.
Letak meja Aira selalu dilewati oleh Bryan. Karena, desain interior kantor sudah mengatur meja sekertaris untuk berdekatan dengan ruangan Bryan.
"Saya ada urusan." hanya itu jawaban Bryan.
"Tapi tunggu dulu Pak, mohon tandatangani ini dulu." Aira mencoba menahan langkah gesit Bryan. Lalu dia menyodorkan secarik dokumen penting yang harus ditandatangani oleh Bryan.
"Oke, kalau kakek tanya saya kemana? Tolong kamu jawab saja kalau saya sedang meeting dengan relasi bisnis di luar." titah Bryan dengan menekan pena di atas meja Aira.
"Baik Pak." hanya itu jawaban Aira.
Selama Aira bekerja dengan Bryan, belum pernah bosnya bertindak seperti ini, meninggalkan pekerjaan tanpa alasan.
__ADS_1
•••
Up lagi kakak 😉