
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Semua karyawan DZ sudah berhambur keluar ruangan untuk pergi makan siang, begitupun denganku yang sudah beranjak dari kursi. Karena, Tania sudah menungguku di kantin.
Tania adalah partner kerjaku, aku satu tim dengan Tania. Mengenal Tania lebih jauh semakin membuatku nyaman bekerja di perusahaan ini. Setidaknya, aku masih punya partner kerja sekaligus sahabat di kantor ini.
Sesampainya di kantin, aku langsung duduk di samping Tania. Dia sedang asyik melahap satu mangkok baso dengan level pedas yang paling pol.
"Maaf ya Dis, gue duluan ke kantin." ucap Tania setelah aku berhasil duduk di sampingnya.
Mungkin Tania merasa tidak enak padaku, biasanya kita selalu datang bersamaan.
"Santai Tan. Gue tahu kalau lo udah laper dari tadi." ucapku yang sudah mengertikan kondisi perut Tania.
"Lo udah pesen makan belum Dis?" tanya Tania.
"Udah, gue jadi ikutan ngiler lihat lo makan baso pedes begitu." jawabku sambil menatap ke arah mangkok di hadapan Tania yang hampir tandas.
"Asli enak banget Dis, pengen nambah lagi. Tapi, perut gue udah gak kuat." ujar Tania sambil menyesap es teh manis yang diletakkan di samping mangkok baso.
Tania memiliki bentuk tubuh ramping, rambut panjang, dan kulit putih. Sebenarnya nyaris sama dengan bentuk tubuhku.
Beberapa karyawan bilang kalau aku dengan Tania sedikit mirip. Hanya saja, selera fashion kita yang beda.
Akupun tidak habis pikir dengan Tania yang selalu makan banyak. Tapi, tubuhnya tetap langsing.
Ah, bukankah aku juga sama?
"Buruan dimakan basonya! Nanti kalau udah dingin malah gak enak loh." ucap Tania setelah ibu kantin menyodorkan semangkok baso di depanku.
"Kayanya selera makan gue lagi hilang Tan." aku mencoba jujur pada Tania tentang kejadian di ruangan ibu Gress.
Sejak pertemuanku dengan Axel tadi pagi, membuatku merasa gelisah akibat rasa takut. Wajah Axel masih terlihat sangat mengerikan dalam ingatanku.
"Kenapa?" tanya Tania.
"Apa karena revisi naskah dari ibu Gress?" Tania mencoba menebak pikiranku.
__ADS_1
"Bukan soal itu Tania." jawabku sambil mengaduk mangkok baso.
"Terus kenapa?" tanya Tania lagi, sepertinya dia semakin penasaran.
"Apa lo tahu dengan pemilik DZ Production?" tanyaku pelan di hadapan Tania.
Aku yakin Tania pasti tahu sedikit sedikit tentang Axel. Karena, dia lebih dulu bekerja di DZ.
"Hmmm gimana ya? Kalau tahu orangnya sih nggak. Tapi, desas-desus soal pemilik DZ itu kabarnya masih muda. Ya, mungkin usianya sekitar tiga puluh tahunan. Katanya sih orangnya charming banget." tutur Tania yang berusaha memberikan informasi padaku.
"Emangnya kenapa sih Dis? Jangan bilang lo mau ikut ikutan kaya golongannya si Rachel lagi." umpat Tania yang tidak ingin mengikuti jejak Rachel.
"Emangnya Rachel siapa? Terus kenapa dengan Rachel?" maafkan aku Tania kalau aku banyak nanya.
"Rachel itu staff keuangan di DZ. Sudah lama dia tergila-gila dengan pemilik DZ. Tapi sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Lagipula tidak ada ceritanya pemilik perusahaan akan jatuh cinta dengan kita yang hanya staff biasa." penjelasan Tania memang sangat masuk akal.
Pantas saja, Tania mengkhawatirkanku bernasib sama dengan Rachel.
"Tadi pagi aku bertemu dengan pemilik DZ." bisikku di telinga Tania. Bahkan, aku menutupi telinga Tania dengan telapak tanganku.
"What? Sumpah lo?" tanya Tania setengah menjerit.
"Beneran Tan. Tadi pagi gue ke ruangan ibu Gress, dia ada di sana." kali ini aku menyampaikan informasi tanpa berbisik lagi. Aku justru mulai sibuk mengunyah baso.
"Jangan lo bilang itu pak Axel." kini, justru Tania yang berbisik di telingaku.
"Emang." jawabku simpel. Namun, berhasil membuat Tania tersentak kembali.
"Wow! Ayo ceritain gimana paras aslinya? Gue cuma tahu dari akun sosmed aja Dis." ujar Tania yang semakin penasaran dengan pengakuanku.
"Ya... Bener yang lo bilang tadi, pantas saja Rachel tergila-gila dengannya. Doi cakep Tan." jawabanku membenarkan perasaan Rachel. Wajar saja, kalau wanita itu tergila-gila pada Axel.
"Cakepan mana sama cowok lo?" tiba-tiba Tania langsung mengingatkanku pada Bryan.
"Sebelas dua belas lah Tan." ungkapku asal. Tapi, tunggu dulu. Memang ada mirip miripnya kok antara wajah Axel dengan Bryan.
__ADS_1
"Ah, ngarang lo!" seru Tania yang tidak mempercayai ucapanku.
"Beneran Tania. Dari bentuk tubuh, bentuk rahang wajahnya mirip. Hanya saja, bos besar kita auranya lebih serem." ucapanku sedikit mendesis di kata akhir.
"Jangan jangan cowok lo masih saudara lagi sama dia." menurutku, ucapan Tania kali ini sangat konyol.
"Jangan suka mengada-ngada." cara berpikir Tania terlalu jauh.
"Terus apa yang bikin lo hilang selera makan? Setelah lo ketemu sama dia. Jangan bilang lo jatuh cinta lagi. Jadi, lo males makan." emang bener bener rese si Tania ini, suka sok tahu. Tapi, kalau tidak begitu, bukan Tania namanya.
"Gue kepikiran Tan. Dia bilang setelah jam kerja selesai, gue harus nemuin dia di lantai 15." pandanganku sedikit kosong saat kuutarakan beban pikiranku pada Tania.
"Gila! Logikanya, CEO perusahaan mau ngapain coba ketemu dengan staff biasa seperti kita? Ketemu kepala bagian seperti ibu Gress saja jarang." timpal Tania yang tak mempercayai pertemuan Gadis dengan Axel akan membahas perihal pekerjaan.
"Itu dia Tan, gue juga gak tahu. Apalagi gue semalam lihat dia di club malam. Jangan jangan gue mau dipecat. Gara-gara gue nongkrong di tempat begitu." pikiranku semakin jauh, sementara Tania hanya terkekeh mendengar kekhawatiranku.
"Lo tuh suka lucu hahaha!" ujar Tania sambil tertawa lepas.
"Kalau masalah nongkrong di club malam, semua karyawan sini juga begitu kali Dis." tambah Tania lagi.
"Terus apa dong?" tanya gue polos.
"Mungkin doi mau ngajak lo ke club malam lagi. Hahaaha!" celotehan Tania sudah tak karuan. Dia justru dengan jahatnya tertawa di atas penderitaanku.
"Jahat banget sih lo. Temen susah malah ngakak begitu." seketika wajah Tania berubah sedikit serius setelah mendengar protesku.
"Iya, iya, maaf. Udah gini ajah, mendingan lo temuin dia sore ini. Gue yakin dia gak akan macem-macem sama lo Dis, palingan juga semacem. Hahaha!" kembali Tania tergelak, bahkan tawanya semakin pecah.
Akupun sudah tak ingin bercerita lagi pada Tania, itu hanya membuatku merasa semakin tersudut.
•••
Sahabat gila memang Tania ini 😅
Jangan lupa klik like ♡♡
__ADS_1