
Setelah Maman melihat Gadis melangkah pergi dari teras rumah Bryan, Maman segera menyusur masuk ke ruang tamu. Maman tidak mampu berpikir panjang lagi, tekadnya sudah bulat. Dia ingin memberitahukan pada Bryan kalau Gadis datang ke rumah.
"Ada apa Pak Maman?" tanya Bryan setelah Maman sampai di pintu ruang tamu. Pria paruh baya itu nampak terengah nafasnya, sekuat tenaga langkah Maman berlari menuju ruang tamu milik Bryan.
Maman tidak langsung menjawab pertanyaan Bryan, dia hanya melangkahkan kakinya untuk lebih dekat lagi dengan Bryan.
"Neng Gadis datang ke sini." bisik Maman tepat di telinga kiri Bryan. Maman tidak ingin informasi yang dia berikan terdengar oleh orang lain, apalagi di sana ada David, dan juga kedua orangtua Friska. Sementara Friska belum nampak di sana. Model cantik itu akan datang menyusul ke rumah Bryan.
"Serius Pak Maman?" ucapan Bryan meragukan informasi yang Maman berikan. Kedua bola matanya terbelalak menatap Maman. Tidak ada jawaban lagi dari Maman, dia hanya menganggukkan kepala, pertanda membenarkan informasi yang dia berikan.
Seketika itu juga Bryan langsung bangkit dari sofa, dia tidak mempedulikan keberadaan orangtua Friska, dan juga David.
Langkah kaki Bryan setengah berlari, menyusur keluar rumah. Sesampainya di teras, mata Bryan menyisir seluruh sudut halaman. Namun, tidak ada siapapun di sana. Akhirnya, Bryan memutuskan untuk berlari lebih jauh lagi, tepatnya ke pintu gerbang.
Benar saja, sosok wanita cantik berbalut rok sepan yang sedikit di atas lutut tengah berdiri di depan gerbang, membelakangi gerbang rumah Bryan. Sepertinya wanita itu tengah menunggu jasa angkutan online.
Tak banyak bicara lagi, Bryan langsung menggeser pintu gerbang, lalu menarik lengan wanita yang beberapa hari ini dia cari. Tanpa diragukan lagi, dari postur tubuhnya Bryan sangat mengenali wanita itu.
"Gadisku." bisik Bryan setelah berhasil menarik lengan Gadis, membalikkan posisi tubuh Gadis menjadi berhadapan dengannya.
Mata Bryan nampak sumringah menatap Gadis, seperti tidak ingin kehilangan lagi wanita pujaan hatinya.
"Jangan tinggalkan aku lagi sayang." bisik Bryan tepat di ceruk leher Gadis. Bryan sudah memeluk erat tubuh Gadis. Sementara Gadis masih tak percaya kalau Bryan akan datang menemuinya.
Kini, Gadis membalas pelukan erat Bryan. Hati Gadis juga tak kuasa menahan sesak, tergambar jelas perpisahan yang pasti terjadi diantara mereka.
"Kamu kemana saja? Aku hampir gila mencarimu Gadis." pertanyaan itu keluar dari mulut Bryan dengan melepaskan pelukannya, lalu memaksa Gadis untuk saling tatap. Terbesit dalam pikiran Bryan kalau Gadis sudah tidak jujur pada Bryan.
__ADS_1
"Lupakan aku Bryan." ucap Gadis dengan suara terbata menahan sesak di dadanya. Lidah Gadis terasa sangat kelu untuk berucap, apalagi ucapan perpisahan.
"Kenapa?" tanya Bryan penasaran.
"Aku tidak pantas denganmu Yan. Lagipula aku tahu kalau kamu akan dijodohkan dengan wanita lain." ucapan Gadis memang terkesan seperti tidak ada cinta lagi di hatinya, agar Bryan mau melepaskan Gadis.
"Apa tidak ada alasan lain lagi? Selain kamu merasa tidak pantas denganku." Bryan memang sudah bosan mendengar kalimat itu sering diucapkan oleh Gadis.
"Sudahlah Yan, diantara kita memang sudah tidak ada lagi yang perlu kita pertahankan. Jarak aku denganmu terlalu jauh, sampai kapanpun kita tidak akan pernah satu." ingin sekali Gadis mengatakan yang sebenarnya terjadi. Namun, keberaniannya hanya sampai itu.
Ucapan Gadis tadi membuat Bryan sadar kalau kemarin David sudah mengancam dirinya. Jika Bryan tidak mau menikahi Friska, maka nyawa Gadis taruhannya. Bryan sangat tahu benar bagaimana sikap papihnya yang sering berbuat nekad.
"Apa kamu masih mencintaiku Gadis?" hanya pertanyaan itu yang ingin Bryan pastikan dari Gadis, sebelum hubungan mereka kandas malam ini.
Gadis hanya menjawab tanya Bryan dengan buliran air mata disertai satu anggukkan kepala, dapat Bryan mengerti dari respon Gadis barusan. Pria tampan bermata sedikit sipit itu membawa Gadis ke dalam dekapan hangat penuh cinta.
"Tapi, takdir tak ingin melihat kita satu Yan." potong Gadis yang tak kalah sendunya dengan Bryan.
"Aku berjanji padamu Gadis, setelah perjodohan ini, aku akan menceraikan dia. Aku akan kembali padamu sayang." niatan Bryan memang tidak main-main. Setelah ikatan kerjasama bisnis terjalin, Bryan akan segera menceraikan Friska, lalu kembali bersama Gadis.
"Tidak mungkin Yan." bisik Gadis lagi sambil melepas dekapan Bryan.
"Kenapa?" tanya Bryan sembari menelisik raut wajah Gadis.
"Kehormatanku sebagai wanita sudah hilang, aku tidak pantas untukmu." akhirnya, Gadis mampu mengungkapkan apa yang telah terjadi dengan dirinya.
"Tidak mungkin!" pekik Bryan.
__ADS_1
"Siapa yang berani melakukan itu padamu?" amarah Bryan mulai terbias dari wajahnya. Bahkan Bryan menggoyang-goyangkan bahu Gadis, memaksa Gadis untuk mengatakan nama pria yang sudah merenggut kehormatannya.
"Ayo jawab Gadis! Siapa?" melihat Gadis yang hanya tertunduk diam membuat nada bicara Bryan sedikit meninggi.
"Tidak perlu kamu tahu, yang terpenting sekarang aku sudah mengatakan kalau aku memang semakin tidak pantas untukmu." tutur Gadis yang tak ingin mengingat malam panas bersama Zack.
Tiba-tiba David datang menyusul Bryan. Pria paruh baya itu langsung menarik lengan Bryan.
"Jangan membuat Papih malu dengan keluarga Afriska." ancam David dengan sedikit rahang yang mengeras. Ucapan David mampu terdengar oleh Gadis. Rupanya nama wanita yang akan dijodohkan dengan Bryan adalah Afriska.
"Papih tolong kali ini saja beri ruang untuk Bryan, untuk terakhir kalinya Bryan bertemu dengan kekasih Bryan." pinta Bryan sedikit memohon pada David. Kemudian sepasang bola mata David tertuju pada Gadis, dia tertegun setelah mengetahui kalau kekasih putranya adalah wanita yang sudah dia culik beberapa hari lalu.
Pandangan David dengan Gadis sempat bertemu satu titik. Namun, David yang lebih dulu membuang muka. Ada gurat malu terbias dari wajahnya.
Sial! Ternyata, Gadis adalah kekasih anakku sendiri.
Lalu siapa laki-laki yang sudah menyelamatkan dia malam itu?
Batin David merutuki ketakutannya sendiri. Tak pernah disangka kalau dunia akan sesempit ini. Begitupun dengan Gadis yang sama terkejutnya seperti David. Ternyata, pria yang sudah meracuninya dengan cairan racun injeksi itu adalah ayah Bryan.
"Selamat tinggal Bryan, semoga kamu bahagia." ucap Gadis sebelum melangkah pergi dari hadapan Bryan.
Ingin sekali Bryan menahan kepergian Gadis. Namun, kedua bola mata David penuh isyarat ancaman. Seakan mengatakan kalau keselamatan Gadis sedang dalam bahaya.
•••
Ayo tinggalin jejak kalian dengan like ataupun comment 😉
__ADS_1