
Zack meletakkan jas yang dia pakai di tubuh Gadis. Pria itu menatap tak tega saat mendapati baju Gadis yang sudah lusuh akibat aksi David, ironisnya lagi baju milik Gadis ada yang sobek di beberapa bagian.
"Pakailah." ucap Zack lirih sambil menatap iba. Sementara Gadis hanya tertunduk malu dengan penampilannya yang amat lusuh menyedihkan. Kemudian Zack meraih bahu Gadis, menuntunnya keluar dari ruang rahasia milik David.
Zack sudah tak mempedulikan lagi keberadaan David di sana. Akhirnya, Gadis berhasil dibawa masuk ke dalam mobil milik Zack.
Sejak keluar dari ruangan, tatapan Gadis menyelidik ke sekitar, dia ingin sekali mengetahui nama tempat ini. Tapi, dia kesulitan. Mungkin karena kondisi Gadis yang sudah lemah, membuatnya sulit untuk berpikir.
Di dalam mobil Gadis hanya diam, tak ada sepatah katapun terucap dari mulut Gadis, begitupun dengan Zack yang lebih memilih fokus mengemudi.
•••
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya Zack menghentikan laju mobilnya. Pria itu memarkirkan mobil di area basement. Sementara Gadis masih dalam posisi tertidur, mungkin tubuhnya merasa lelah tak terkira setelah aksi perlawanan yang dilakukannya terhadap David.
Zack tak ingin banyak bicara saat kedua bola matanya tertuju pada Gadis. Pria itu langsung turun dari mobil, lalu langkahnya mengitari ferarri hitam untuk membuka pintu mobil di samping Gadis.
Saat tangan Zack menarik handle pintu, tiba-tiba mata Gadis langsung mengerjap. Gadis berusaha bangkit, dan menegakkan posisi duduknya.
"Kita dimana Pak?" tanya Gadis yang masih menyusuri pemandangan sekitar dari jangkauan kaca mobil.
"Apartemen." jawab Zack santai.
"Tolong antarkan aku ke rumah saja Pak." pinta Gadis yang masih tak percaya terhadap Zack. Dia lebih memilih pulang ke rumahnya sendiri.
"Kalau aku mengantarmu ke rumah, itu sama saja aku menyerahkanmu kembali pada David." ungkap Zack yang masih memikirkan keselamatan Gadis.
__ADS_1
"Trust me Gadis." tandas Zack lagi, dia masih berusaha meyakinkan hati Gadis. Akhirnya, Gadis mau turun dari mobil dengan langkah yang sedikit terhuyung.
Saat Gadis menginjakkan kaki, tiba-tiba mata Zack terbelalak. Zack baru sadar kalau kaki Gadis tidak menggunakan alas kaki. Zack langsung meraih tubuh Gadis ke dalam gendongan. Sontak Gadispun menjerit histeris.
"Lepaskan aku!" seru Gadis sambil memukul dada bidang Zack.
"Tundukkan kepalamu di dadaku Gadis! Jika tidak ingin menjadi trending topic di DZ Production besok pagi." ucap Zack sambil mengeratkan tangan kekarnya di tubuh Gadis. Akhirnya, Gadis menuruti perintah Zack setelah dia melihat beberapa orang lalu-lalang di area basement.
"Gadis pintar." ujar Zack dengan senyuman nakalnya. Kemudian Zack bergegas menuju unitnya di lantai 23.
•••
"Minum dulu." titah Zack sambil menyodorkan segelas air putih untuk Gadis. Mereka sudah sampai di unit apartemen milik Zack. Apartemen dengan desain warna moccasin yang sangat terasa di sana.
"Terimakasih Pak." ucap Gadis lirih. Tangan Gadis langsung meraih gelas air minum, lalu meminumnya sampai tandas, sampai tegukkan di tenggorokan Gadis terdengar.
Sampai sampai Zack tak kuasa menahan gairahnya saat menatap Gadis meminum air putih yang ia bawakan. Menurut Zack, ada momen sexy di sana.
"Di sini panas!" seru Gadis yang mulai melepaskan jas milik Zack, lalu mengibaskan tangannya di depan dada. Sementara Zack masih tak habis pikir akan tingkah Gadis. Padahal, di dalam apartemen AC sudah on. Tapi, kenapa Gadis masih merasa gerah?
"Apa aku boleh minta air lagi Pak?" tanya Gadis dengan menunjukkan gelas yang sudah kosong.
"Sure." jawab Zack yang langsung bangkit dan meraih gelas milik Gadis. Pria itu kembali berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan satu gelas air putih lagi.
Kini Gadis menyenderkan punggungnya di sofa dengan mata terpejam. Ada rasa pening yang hebat di kepala Gadis.
__ADS_1
"Sakit..." racau Gadis dengan memijat mijat pelipisnya. Bahkan Gadis mulai menjambak rambutnya sendiri untuk mengurangi rasa pening yang dia rasakan. Namun, semakin lama kepalanya semakin tak tertahankan.
"Gadis! Kau kenapa?" Zack langsung panik saat mendapati Gadis menyenderkan kepala di sandaran sofa dengan mata terpejam. Rintihan sakitpun keluar dari mulut Gadis.
Zack segera duduk di samping Gadis setelah meletakkan segelas air minum di meja depan sofa.
"Gadis! Lihat aku!" pinta Zack yang takut sesuatu tidak beres terjadi pada Gadis.
"Kepalaku pusing... Tolong aku." ucap Gadis yang mulai menempelkan kepalanya di bahu Zack.
Tangan kekar Zack langsung menegakkan kepala Gadis, dia mencoba menatap lekat wajah Gadis yang mulai terlihat pucat bercampur keringat dingin di dahinya. Suhu tubuh Gadis demam tinggi, pantas saja kalau dia merasa kehausan.
"Apa yang sudah David lakukan padamu sebelum aku datang?" pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis Zack.
"Ayo jawab Gadis!" tegas Zack lagi. Dia sudah tak tahan akan sikap Gadis yang tak mempedulikannya, bahkan Gadis nampak seperti orang mabuk.
"Panas!" ucap Gadis sambil membuka kancing bajunya satu per satu. Zack berusaha menepiskan tangan Gadis yang mulai membuka bagian dadanya. Bagaimanapun Zack adalah pria normal, naluri lelakinya tetap tak kuasa saat menyaksikan lekuk tubuh Gadis yang sedikit terbuka.
"Axel, temani aku." pinta Gadis dengan manjanya bergelayut di bahu Zack. Bahkan dengan beraninya Gadis memanggil Zack dengan nama Axel saja.
"Apa David memberimu obat semacam injeksi?" kembali Zack menegaskan lagi pertanyaannya.
"Dia menusukkan jarum di lengan kananku Axel. Selebihnya aku tidak tahu lagi itu obat apa?" mendengar jawaban Gadis barusan, kini Zack mengerti kalau obat yang disuntikkan ke dalam tubuh Gadis adalah obat pemicu untuk Gadis. Agar Gadis mau melayani David seolah dibuat tanpa paksaan.
"Bangsat kau David!" gumam Zack dengan mengeratkan rahangnya. Kebenciannya pada David semakin membuncah, sementara reaksi obat yang sedang diderita Gadis harus segera dilepaskan. Karena, efeknya bisa mengancam nyawa Gadis.
__ADS_1
•••
Tinggalkan jejak jempol kalian ya 😉