Hanya Istri Kontrak Tuan Zack

Hanya Istri Kontrak Tuan Zack
Pernikahan politik


__ADS_3

Jam istirahat sudah selesai. Aku dan Tania beranjak dari kantin untuk kembali ke meja kerja masing-masing.


Sesampainya di ruangan, aku mulai sibuk menyusun revisi naskah, lalu menghubungi manager Friska. Sesuai permintaan ibu Gress.


Sebelum tanganku menekan nomor handphone manager Friska, tiba-tiba perhatianku teralihkan oleh isi pesan whatsapp dari kekasihku, yaitu Bryan. Akibat kesibukkan masing-masing membuatku sedikit melupakan Bryan.


...[Bryan]...


...Sepertinya kekasihku terlalu sibuk dengan projek baru. 😔...


Begitulah isi pesan whatsapp yang aku baca dari Bryan, dan membuatku sedikit merasa bersalah padanya. Karena, akhir akhir ini frekuensi pertemuan kita sedikit terhambat oleh rutinitas kerja.


...[Gadis]...


...Maaf sayang, aku sibuk dengan berbagai revisi projek iklan. Tapi, aku selalu mencintaimu. 😉...


Setelah membalas pesan Bryan, aku kembali melanjutkan tujuan utamaku mengambil handphone, yaitu menelpon manager Friska untuk mengajaknya menjalin kontrak kerjasama.


•••


Tak terasa waktu sudah hampir petang, sementara aku masih disibukkan oleh persiapan beberapa projek iklan. Sampai sampai aku lupa kalau Axel sedang menungguku di ruangannya.


Sepertinya aku sedang cari mati kalau aku tidak menuruti perintah bos besar DZ Production.


Akhirnya, akupun mengemasi semua barang yang akan aku bawa pulang. Aku akan melanjutkan pekerjaanku di rumah.


Suasana kantor sudah lumayan sepi, Tania sahabatku juga sudah pulang lebih dulu. Sebenarnya ada ketakutan yang mendalam saat aku tekan tombol lift angka 15.


Aku belum pernah menginjakkan kaki di sana, kabarnya lantai 15 hanya dihuni oleh ruangan Axel saja.


Sekitar lima menit aku sudah sampai di tujuanku. Tangan ini terasa sangat berat untuk mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan Chief Executive Officer.


Jantungku sudah berdetak tak menentu, bahkan keringat dinginpun mulai terasa di dahiku.


Tok... Tok...


Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Axel. Namun, tidak ada jawaban dari dalam sana.


"Apa mungkin Axel sudah pulang?" bisikku dalam hati.


Aku yang penasaran mencoba mendorong handle pintu yang tidak terkunci. Pandanganku mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Hingga akhirnya kutemukan bayangan Axel dibalik jendela besar yang menembus langit senja.


"Selamat sore Pak Axel." walau dengan nada takut takut aku berusaha menyapanya.


"Sore." ucapnya seraya membalikkan tubuhnya, lalu menatap ke arahku.

__ADS_1


"Aku sudah menunggumu dari tadi Nona Gadis." tuh kan, benar saja dugaanku.


Kenapa juga aku harus mengulur-ngulur waktu? Tapi, sudahlah.


Axel berjalan semakin dekat ke arahku, sampai aroma tubuhnya mampu menusuk hidungku.


Sial! Pantas saja Rachel bisa tergila-gila dengan Axel. Rupanya dia adalah pria dengan sejuta pesona.


"Apa kamu takut bertemu denganku?" tanya Axel sambil menelisik raut wajahku.


"Iya." jawabku pelan berusaha mengakui apa yang aku rasakan saat ini.


"Bukankah kamu itu wanita pemberani?" ujar Axel dengan sedikit senyuman masam.


"Semalam saja, aku bisa menyaksikan bagaimana bengisnya kamu saat menampar wajah David." tandas Axel lagi. Tapi, David siapa? Aku tidak mengerti akan ucapan Axel.


"Pria paruh baya yang sudah kamu tampar semalam." tuturnya lagi, seperti tahu pertanyaan di dalam otakku.


"Dia sudah kurangajar kepadaku. Jadi, wajar saja kalau aku bersikap seperti itu." aku berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku malam itu.


"Apa kamu tahu David itu pria seperti apa?" tanya Axel lagi padaku. Sementara aku hanya mampu menggelengkan kepala.


Memang kenyataannya aku tidak pernah mengetahui tentang David.


"Menikahlah denganku, jika kamu ingin selamat dari kejaran David." sepertinya telingaku sedang salah dengar. Seorang Axelio Kevin Zack memintaku untuk menikah.


Benar kata Tania, itu tidak mungkin!


"What? Menikah." ucapku reflek saat mendengar tawaran pernikahan dari mulut Axel.


"Kenapa? Apa kamu keberatan?" rentetan pertanyaan itu semakin membuat Axel lebih berani padaku.


Axel menarik daguku untuk saling tatap. Akupun memberanikan diri untuk menatap balik wajahnya.


Batinku masih berpendapat sama seperti tadi pagi, Axel sangat mirip dengan Bryan. Apalagi dilihat dalam jarak sedekat ini.


"Jelas aku keberatan!" ucapanku tegas.


Ini menyangkut hal pribadiku, Axel bukanlah siapa siapa di sini, dan aku berhak menolaknya.


"Apa karena cincin yang melingkar di jarimu?" tiba-tiba pandangan Axel tertuju ke arah jemariku.


Memang benar ada cincin milik Bryan yang sudah tersemat di jari manisku.


"Bisa dibilang begitu." jawabku dengan santainya, seolah aku sudah melupakan siapa Axel.

__ADS_1


"Tinggalkan kekasihmu!" ucap Axel dengan nada menekan.


"Aku tidak siap untuk menikah muda Bapak Axel, mimpiku masih panjang." akhirnya, aku lebih mengakui alasan utamaku yang tidak ingin menikah dalam waktu dekat.


"Aku tidak akan merusak mimpimu Gadis. Cukuplah menjadi nama di buku nikahku saja, selebihnya aku tidak akan menuntut apapun." ucapan Axel terasa sedikit memaksa. Tapi, sekali lagi aku tidak mau. Lagipula pria yang aku cintai hanya Bryan.


"Sebenarnya apa tujuan utamamu memintaku untuk menikah denganmu?"


"Aku yakin pasti ada tujuan lain dibalik pernikahan politik ini." ucapku tegas, seolah mengerti isi kepala Axel. Pria itu hanya tersenyum sesaat.


"Ternyata kamu terlalu pintar membaca situasi Gadis." dia pikir aku tidak akan berpikir sejauh ini. Mungkin dalam benaknya semua wanita akan dengan mudah menerimanya.


"Aku harus segera menikah sebelum kembali menemui kakekku, agar aku bisa merebut kembali hak ayahku. Aku berjanji padamu Gadis, pernikahan ini tidak akan mengubah kebebasanmu." tutur Axel saat dia melihatku tak berkata apapun, giliran dia yang bersuara lagi.


"Kenapa harus aku?" tanyaku yang masih tak habis pikir mengapa Axel lebih memilihku.


"Aku yakin banyak wanita di luar sana yang menginginkan tawaran ini." ucapanku berhasil membuat seutas senyuman di bibir Axel terbit kembali.


"Karena, David hanya tertarik padamu Gadis. Aku ingin melihat bagaimana murkanya David saat mengetahui kalau kau adalah istriku." jujur, aku semakin tak mengerti apa yang disampaikan oleh Axel.


"David adalah pamanku, dia sudah membunuh ayahku sekitar lima belas tahun lalu. Kalau aku harus jujur, mengapa semua asset perusahaan aku atasnamakan kepada Alfiyana Faris? Karena, aku tidak ingin keberadaanku tercium oleh keluarga David." kini kumengerti maksud dari Axel memintaku menikah dengannya.


Rasanya, semakin membuat kepalaku terasa mau pecah saja.


"Aku tidak ingin terlibat dengan aksi balas dendammu pada David." ucapku dengan tatapan tajam ke arah Axel.


"Harusnya memang begitu Gadis. Tapi, dua pria dari keluarga Victor sudah tertarik padamu." ucap Axel sambil mengungkungku di dalam lengannya. Posisi tubuhku kini sudah tersudut di tembok ruangan Axel.


Tok... Tok...


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dan berhasil membuat Axel sedikit lengah. Akupun tak ingin menyiakan kesempatan ini.


Lengan Axel segera kutepiskan, agar aku bisa melepaskan diri dari ruangan yang mengerikan ini.


"Maaf Pak Axel, saya permisi." ucapku lembut, seolah tidak terjadi apapun. Karena, di ujung pintu sudah menampilkan sosok pria bernama Alfiyana Faris. Pria yang sudah Axel percaya untuk menjadi direktur utama DZ.


Faris sudah menyaksikan sikap Axel yang terlihat sangat dekat denganku. Pastinya Faris akan mengira yang tidak tidak padaku.


"Masalah baru lagi." batinku mengatakan demikian.


Setelah ini, namaku pasti habis. Faris pasti sudah mengira kalau aku ini karyawan yang sedang berusaha menggoda bos besar DZ Production.


•••


Tinggalkan jejak kalian di episode ini dengan klik like ya. 😉

__ADS_1


__ADS_2