Hanya Istri Kontrak Tuan Zack

Hanya Istri Kontrak Tuan Zack
Thank you, Mr. Zack


__ADS_3

"Bangun!" suara itu tidak terdengar asing di telinga Gadis.


"Zack." bisik Gadis yang langsung menutup mulutnya.


Wanita itu baru menyadari tidak ada yang boleh tahu nama Zack di DZ. Apalagi di sana ada Rachel.


Tubuh Gadis mulai dibantu berdiri oleh Zack, namun tetap dengan sirat yang seasing mungkin di mata Rachel. Karena, Zack tidak ingin orang lain mengetahui kalau Gadis adalah istrinya.


Biarlah Faris saja yang tahu tentang pernikahan mereka.


"Tak seharusnya sesama karyawan saling menjatuhkan." ucap Zack sinis dengan tatapan yang tertuju pada Rachel.


"Saya rasa Pak Axel sudah salah paham, dia yang tidak hati hati pas jalan. Sudah tahu bawa kopi, matanya kemana mana." kilah Rachel, berusaha membela diri.


Sementara Gadis tak ingin memperkeruh keadaan, ia memilih diam. Tak ingin menimpali kebohongan Rachel.


"Bukankah kakimu yang sudah menghalau Gadis." ujar Zack tanpa sadar menyebutkan nama Gadis.


Padahal, seumur-umur Zack datang ke kantor DZ hanya dalam hitungan jari saja. Mana mungkin ia bisa tahu nama staff DZ.


Tatapan Rachel nampak curiga terhadap Zack, setelah Zack menyebutkan nama Gadis. Sedangkan Rachel sendiri tidak tahu nama Gadis.


"Pak Axel kok bisa tahu nama dia?" tanya Rachel penuh selidik.


Zack mulai kebingungan akan pertanyaan Rachel barusan. Begitupun dengan Gadis, wanita itu semakin takut kalau hubungannya dengan Zack tercium oleh karyawan lain.


"Lihat saja id card yang dia kenakan." kilah Zack, berhasil menemukan alasan untuk Rachel.


"Tapi Pak, ini bukan salahku." pengakuan Rachel masih mencoba meyakinkan Zack.


Wanita itu tidak ingin mati gaya di depan Zack, apalagi Rachel yang telah lama menyimpan hati untuk Zack.


"Siang ini juga siapkan mentalmu untuk membaca surat peringatan dari divisi HRD." ucap Zack datar.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya permisi." ucap Gadis yang tak ingin berlama-lama dalam suasana kikuk di antara Rachel dan Zack.


Gadis mulai melenggangkan langkahnya, namun jemari Zack langsung menahan lengan Gadis.


"Ke lantai lima belas, sekarang juga." bisik Zack sangat pelan di telinga Gadis.


Ingin sekali Rachel mendengarkan ucapan Zack untuk Gadis, namun suara Zack sulit Rachel dengar.


Perlakuan Zack terhadap Gadis semakin menguatkan asumsi Rachel kalau diantara mereka ada hubungan spesial. Bukan hanya sebatas urusan bisnis dan pekerjaan saja.


Gadis hanya menatap Zack sesaat, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya. Karena, dari ucapan Zack barusan Gadis sudah mengerti kalau ia harus menemui Zack di ruangannya sekarang juga.


"Sepertinya Pak Axel sangat dekat dengan Gadis." ujar Rachel penasaran, bahkan api cemburu mulai merasuk dalam hati Rachel.


Bukannya Zack menjawab pertanyaan Rachel, ia justru menatap Rachel sesaat, lalu berbalik arah untuk kembali ke ruangannya di lantai lima belas. Karena, Zack yakin kalau Gadis sudah menunggu di sana.


•••


Ceklek. . .


"Sial! Aku kira bukan kamu Zack." hardik Gadis untuk Zack, sementara tangannya masih mengelus dada akibat rasa takut tadi.


Tidak ada jawaban apapun dari Zack, pria itu hanya berjalan mendekat ke arah Gadis, lalu ia ikut duduk di samping Gadis.


"Coba kulihat lukamu." ucap Zack langsung menarik jemari Gadis yang sempat berdarah akibat pecahan gelas.


"Sakit! Jangan ditekan!" seru Gadis sambil meringis kesakitan.


Terlihat tangan Gadis yang berdarah dan juga merah akibat guyuran panasnya air kopi.


Kemudian Zack bangkit dari sofa, langkahnya menuju kabinet yang tergantung di samping meja kerjanya.


Ternyata Zack beranjak dari sofa hanya untuk mengambil kotak P3K di sana. Kemudian ia kembali duduk di samping Gadis.

__ADS_1


"Pelan pelan Zack." bisik Gadis, takut kalau alkohol yang akan dioleskan oleh Zack untuk membersihkan lukanya akan terasa sedikit perih.


"Tidak di sini, tidak di ranjang, kamu selalu saja memintaku pelan." goda Zack sedikit nakal, diiringi senyum yang sangat mesum menurut Gadis.


"Dasar bos mesum!" pekik Gadis yang suka sekali mengatai Zack mesum.


"Aku tidak suka punya istri lembek." gumam Zack yang masih setia mengobati tangan Gadis.


Menurut Zack, harusnya Gadis sedikit memberikan perlawanan pada Rachel.


"Bukan lembek, aku hanya malas berdebat saja." Zack hanya tersenyum saat mendengar alasan Gadis barusan, lalu tangannya langsung mengambil ponsel dari saku jasnya.


"Faris, siapkan baju ganti untuk Gadis sekarang juga." rupanya Zack menelpon Faris untuk menyiapkan baju untuk Gadis.


Hati Gadis merasa tersentuh saat melihat perlakuan Zack terhadap dirinya. Ternyata dibalik sikap Zack yang misterius, masih tersimpan rasa manusiawi.


"Thank you, Mr. Zack." bisik Gadis tepat di telinga Zack.


Ucapan terimakasih yang disampaikan Gadis terdengar sangat sensual di telinga Zack.


"Jangan memancingku Nona Gadis." bisik Zack dengan menarik dagu Gadis.


Gadis mencoba melepaskan tangan Zack dari dagunya perlahan, lalu bangkit dari sofa.


"Aku mau mandi!" seru Gadis sambil berlari menuju toilet yang berada di sudut ruangan Zack.


Kembali Zack merasa dibodohi lagi oleh Gadis. Namun, sikap Zack justru nampak senang akan tingkah menggemaskan Gadis.


Pria itu tersenyum sendirian dengan menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir kalau kehadiran Gadis menjadi warna baru di hidupnya.


•••


Kau masih tetap gadis nakalku.

__ADS_1


(Axelio Kevin Zack)


__ADS_2