Hanya Satu Malam

Hanya Satu Malam
bab 32


__ADS_3

butuh satu jam untuk tiba di gedung apartemen milik Rayzel. mobil berhenti di basement. ketika hendak membuka pintu mobil. Rayzel melirik Raisha yang sudah terpejam dengan menyandarkan baby boy di dada.


nafas Rayzel terasa sesak melihat wajah letih Raisha. tak terbayangkan bagaimana ibu dari anaknya itu menjalani satu bulan merawat bayi seorang diri. pasti sengat berat baginya.


tak tega membangunkan. Rayzel memilih turut lebih dulu. berniat mengendong Raisha ke kamar. namun. baru menyalipkan tangan di bawah lutut dan punggung. wanita itu tiba-tiba membuka mata.


;;Anda mau apa tuan?;; tanya Raisha terkejut.


;;kaki mu masih sakit. kan? biar aku yang gendong ke atas.;;


;; tidak usah. saya bisa jalan sendiri!;;


;; jangan keras kepala. kalau kaki mu tambah parah dokter bisa saja memotongnya!;; ucapan lalaki itu membuat Raisha Merinding.;; pegang boy baik-baik.;;


Raisha tak lagi menoleh. ia merapatkan kedua tangan memaluk putranya. Rayzel membopongnya menujuh sebuah lift khusus yang akan membawa mereka menujuh lantai teratas. sementara j-hope dan sopir tetap mengikuti dari belakang.


sepanjang lift bergerak ke atas. Raisha terdiam. berada dalam posisi sedekat ini dengan Rayzel membuat jantungnya seperti akan melompat keluar. saking dekatnya. ia dapat merasakan hangatnya embusan nafas lalaki itu. aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya benar-benar memanjakan indera penciuman. tanpa sedar Raisha menyesap. lagi dan lagi. seolah aroma tubuh Rayzel adalah candu baginya.


;;hubungi seorang dokter wanita dan minta datang untuk memariksa Raisha!;; perintah Rayzel pada j-hope.


;;malam ini?;;


;;tentu saja!;; dengus Rayzel kesal.

__ADS_1


;;tapi mana ada dokter yang mau datang mendadak di malam seperti ini?;;


;;aku tidak peduli bayar berapa pun asal dokternya mau datang!;; ucapnya tanpa bisa di tawar-tawar.


;;baiklah. aku akan hubungi dokter Kamila nanti.;;


sejenak Raisha mendongak menatap wajah Rayzel. sikap Rayzel menciptakan rasa hangat pada hatinya. untuk pertama kali Raisha merasa terlindung oleh seseorang.


pintu lift akhirnya terbuka.


di lantai teratas gedung itu hanya ada satu pintu. ya itu unit penthouse milik Rayzel. Raisha masih ingat pertama kali ia di seret memasuki tempat itu. tubuhnya seketika gemetar. terlebih saat Rayzel membawanya menujuh sebuah kamar.


;;tidak! tolong jangan bawa Saya ke kamar ini. tuan!;; lirih Raisha. suaranya gementar. keningnya berkeringat dan matanya berbelut kristal bening.


;;Sa-saya takut! saya bisa tidur di lantai. asal jangan di kamar ini!;;


bayangan malam kelam itu terlintas jelas dalam ingatannya. di kamar inilah dulu Rayzel menjamah tubuhnya secara brutal. tanpa ampun. bahkan ketika Raisha memohon untuk menyudahi pengumulan panas itu. Rayzel tidak peduli. malah semakin menghujam dengan kasar. berulang-ulang seolah tak ada kata puas.


Alis tebal Rayzel saling bertaut. perlahan mulai mencerna arti di balik sikap wanita itu. Rayzel bukanlah seseorang yang mudah peka dengan perasaan orang lain. namun entah mengapa dengan Raisha sengat berbeda. melihat matanya saja ia dapat mengartikan segalanya.


;;baiklah. kalau begitu di kamar sebelah saja.;;


Rayzel membawa Raisha menujuh kamar sebelah. baru membuka pintu. Raisha sudah terpaku. memandangi kamar bercat biru yang identik dengan anak laki-laki itu. pelangkapan bayi di dalamnya lengkap. ada box bayi dan ayunan dan beberapa mainan.

__ADS_1


;;aku membuat kamar ini untuk boy.;;


Raisha kembali terkesiap. hatinya bertanya-tanya jika dia memang mau melenyapkan baby boy. dia tidak mungkin membuat kamar sebagus ini untuk bayi itu.


********


Raisha merasa lebih baik setelah mandi air hangat. kini ia sedang duduk bersandar dengan kaki membentang di sofa. seorang dokter wanita sedang memariksa dan melakukan perawatan atas luka-luka di tubuhnya.


sementara Rayzel duduk di sudut sofa lain sembil sesekali mencuri pandang ke arah Raisha. bibirnya terkatup rapat demi menahan tawa. Raisha terlihat sengat lucu dengan piyama milik Rayzel yang tampak sengat kedodoran di tubuhnya.


;;tidak ada luka yang serius. kan?;; tanya Rayzel hendak memastikan.


;;sejauh ini tidak ada luka yang serius. ini hanya lebam yang akan sembuh dalam beberapa hari.;; jawab sang dokter sembil tersenyum ramah.


namun. jawab sang dokter tak langsung membuat Rayzel bernafas lega. ia harus memastikan benar-benar bahwa Raisha baik-baik saja.;;bekas operasinya bagaimana? periksa sekali lagi dan pastikan tidak ada yang perlu penanganan serius.;;


;; jangan khawatir. tuan. tidak ada masalah dengan bekas operasinya. saya akan resepkan obat untuknya setelah ini.;;


setelah memastikan semuanya aman. sang dokter menuliskan sebuah resep dan berpamitan. Rayzel meminta sopirnya untuk segera ke apotik demi menebus resep obat.



__ADS_1



__ADS_2