
Berdiri sendiri, menyisakan seperempat tanah kosong sebagai halaman. Sekelompok rayap seketika menghilang, hanya meninggalkan jejak berupa tanda-tanda kerapuhan kayu jendela. Hujan berkepanjangan melahirkan lumut-lumut hijau yang menutupi sebagian besar atap. Dan di belakang rumah, sebuah pohon jambu air yang tumbuh dengan sendirinya tidak lepas dari serangan para tentara lumut.
Bertolak ke tempat yang menjadi titik pertemuan antara pencari, pembeli, penjual dan penyedia barang-barang bekas. TV bekas, radio bekas, kulkas bekas, mesin cuci bekas, handphone bekas, sparepart kendaraan bekas, baju bekas, celana bekas, alat musik bekas, semua bekas. Bahkan kalau malam, hampir di setiap sudut-sudut gelap pasar loak sering kali ditemukan alat kontrasepsi bekas.
Assalamualaikum. Sebuah kalimat mulia, pengetuk pintu yang terkunci. Sekali lagi, anak sulung dari dua bersaudara itu mengulang usahanya mengetuk pintu yang kalau dibuka, harus sedikit diangkat agar engsel atasnya tidak ikut rusak seperti engsel pintu bagian bawah.
Tidak ada jawaban salam dari dalam rumah. Tidak juga terlihat dari balik kaca jendela ada orang tertidur di atas kasur. Selebihnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan penghuni rumah. Padahal dua jam yang lalu, mereka semua ada di sana.
Walau sudah terikat, seekor kambing jantan bercorak belang dengan bulu-bulu didominasi warna krem-hitam terus saja mengembek, melompat-lompat, berputar-putar mengelilingi batang pohon jambu air, seakan ingin mempertontonkan wujud dari sebuah pemberontakan. Sebentar berhenti, lalu mengembek lagi.
Seirama dengan merdunya suara adzan yang berkumandang, terselip lengking suara sirine mobil ambulance. Semakin lama, bertambah keras. Bahkan hingga adzan telah selesai dikumandangkan, suaranya justru terdengar semakin melengking.
Pertama, suara seekor kambing jantan yang terikat pada sebatang pohon jambu air di belakang rumah. Itu pertanda bahwa setiap makhluk menginginkan kebebasan. Kedua, merdunya suara adzan berkumandang. Itu pertanda bahwa Allah rindu kepada hamba-hambaNya. Ketiga, suara sirine mobil ambulance. Itu pertanda buruk!
__ADS_1
Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak menunggu hingga besok saja? Kenapa tidak begini? Kenapa tidak begitu? Sia-sia! Semua pertanyaan dan segala bentuk penyesalan tidak kuasa menunda takdir Allah.
“Apakah harus berhenti percaya pada bulan saat matahari mulai bersinar?
Apakah harus berhenti percaya pada matahari saat hujan deras sedang melanda? Apakah harus berhenti percaya pada siang saat malam datang? Percayalah. Tidak ada perbuatan baik yang sia-sia, karena mereka akan tetap bersama kita.”
Serangkaian kalimat penguat berusaha dikeluarkan dari dalam jiwa yang sesungguhnya sedang rapuh. Karena hanya dengan begitu, semangat untuk berbuat kebaikan bisa tetap terjaga.
***
Sudut lainnya, sedikit memasuki pasar.
“Kangkung bu, kangkung. Mari bu, kangkungnya masih segar.”
__ADS_1
Sekali lagi wanita nan keriput itu mendapat lambaian tangan dari setiap orang yang berlalu lalang. Sekejap menghusap wajahnya dengan ujung kerudung. Menghela nafas. Setengah bakul kangkung belum terjual.
Beginilah keseharian Inaq Huniah. Selepas shalat subuh, saat matahari masih bersemayam di ujung malam. Ia bergegas melangkahkan kaki menuju pasar tradisional. Di atas kepala, sebuah bakul menampung lima puluh ikat kangkung segar untuk dijual. Belum lagi udara dingin selalu berhasil menembus lapisan kulit sampai ke tulang. Barisan giginya yang tersisa pun saling bersentuhan.
“Silahkan, bu. Seribu tiga ikat.”
Seorang wanita datang menghampiri, kemudian berjongkok. Tangan kanannya mengambil seikat kangkung, dibolak-balik. Ulangi lagi. Mengambil seikat kangkung lain, dibolak-balik. Tangan kirinya menjaga dompet agar tetap aman.
Inaq Huniah tersenyum. Tangan kanannya sengaja diayunkan untuk mengusir lalat yang hinggap di dahi keriputnya. Syukurnya, tanpa tawar menawar wanita tersebut membeli semua sisa kangkung yang ada. Dua puluh satu ikat, tujuh ribu rupiah.
Ucapan terima kasih dari bibir tua Inaq Huniah perlahan terbang menghampiri sepasang telinga lawan bicara. Inaq Huniah senang, kangkung hari ini habis terjual. Dengan kedua tangan, bakul yang telah kosong kembali diletakkan di atas kepala. Lalu pulang.
Sesampai di rumah, kesenangan Inaq Huniah atas kangkung-kangkung yang habis terjual justru berganti tangisan sesal.
__ADS_1
***