Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
31. Hewan Kurban Untuk Ibu


__ADS_3

“Alhamdulillah. Ikat di sana kambingnya, Don.”


Kak Arif dan Doni sudah tiba di rumah. Kak Arif meminta Doni mengikat kambing jantan yang masih saja bersuara itu pada batang jambu air yang ada di belakang rumah. Doni mengerti. Ia melakukan perintah kak Arif bersama senyuman.


“Assalamualaikum.”


Kak Arif mengetuk pintu rumah yang terkunci. Sekali lagi, ia berucap salam. Hasilnya sama, tidak ada sahutan dari dalam rumah. Hal itu kemudian menimbulkan tanya dalam benak kak Arif. Kemana Rahman? Demi memastikan, kak Arif mengintip dari balik jendela. Ia tidak melihat ada Inaq tertidur di atas kasur. Ia pun tidak melihat tanda-tanda ada orang di rumah.


“Kenapa, kak? Rahman mana, kenapa ia tidak membukakan pintu?”

__ADS_1


Entahlah. Kak Arif menjawab pertanyaan Doni dengan menggelengkan kepala. Baiklah, kita tunggu saja. Tidak lama, suara sirine mobil ambulance terdengar dari kejauhan. Suaranya semakin mendekat. Semakin keras. Kak Arif berlari menuju pintu gerbang. Berusaha memastikan. Dan yah, kak Arif terpaku ketika mobil ambulance itu berhenti tepat di depannya. Belum lagi Rahman yang turun dalam keadaan menangis. Ia masih berusaha membangunkan Inaq tanpa mampu menjelaskan apa-apa. Tapi kak Arif tahu, ini pertanda buruk.


Pertama, mobil ambulance yang berhenti tepat di depannya. Kedua, Rahman tidak pernah menangis seperti ini selain saat Amaq meninggalkan mereka untuk selamanya. Itupun terjadi puluhan tahun silam.


“Tidak, tidak. Tidak mungkin.”


Kak Arif berusaha mengusir fikiran buruknya. Tapi kenyataan terlalu kuat sehingga fikiran kak Arif tidak mampu merubah keadaan meski hanya sedikit saja.


Inikah alasan kenapa kambing jantan itu terus menerus bersuara tanpa henti? Inikah hasil akhir dari usahaku mewujudkan keinginan Inaq untuk berkurban? Ya Allah, kenapa harus sekarang? Kenapa tidak menunggu sehari saja agar Inaq bisa menerima hewan kurban yang kami persembahkan kepadanya ini? Inikah, itukah, kenapa begini, kenapa tidak begitu? Sia-sia. Semua pertanyaan maupun segala bentuk penyesalan kak Arif tidak akan kuasa menunda takdir Tuhan. Inilah kenyataan! Inaq telah pergi meninggalkan mereka, juga kambing jantan yang baru saja dibeli untuk Inaq bisa berkurban tahun ini.

__ADS_1


Tangisan Rahman, kak Arif, diikuti Doni. Kembali, ia memeluk tubuh kak Arif, juga Rahman. Doni benar-benar bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kak Arif dan sahabatnya. Begitupula istri Setiawan, ia menangis di pelukan suaminya.


Tidak ingin larut dalam tangis, juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan adiknya. Kak Arif sebagai satu-satunya pelindung Rahman berusaha bangkit dari kesedihannya. Ia menghusap air matanya, sekejap mencium kening Inaq sebelum akhirnya dibawa memasuki rumah.


“Mereka sudah tidak bersama kita. Semua yang kita lakukan ini bukan lagi untuk mereka. Sekarang Rahman sadar satu hal. Kita terlambat!”


Kak Arif menoleh. Ia membalik badan Rahman. Menghela nafas. Sejak dulu sampai saat ini Rahman tetap menjadi pewaris tunggal ketebalan iman dan taqwa mendiang Amaq. Tapi kali ini, mungkin karena merasa menyesal atas kesadaran yang datang terlambat, keimanan dan ketaqwaan Rahman seakan goyah.


“Apakah harus berhenti percaya pada bulan saat matahari mulai bersinar? Apakah harus berhenti percaya pada matahari saat hujan deras sedang melanda? Apakah harus berhenti percaya pada siang saat malam datang? Percayalah. Tidak ada perbuatan baik yang sia-sia, karena mereka akan tetap bersama kita.” Jawab kak Arif berusaha menguatkan. Rahman mengerti. Ia menyambar tubuh kak Arif. Menangis.

__ADS_1


Lihatlah. Mereka kembali mengulang apa yang pernah mereka lakukan belasan tahun lalu. Saat mereka berjalan menuju puskesmas tempat Amaq dirawat sebelum akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Kini, mereka melakukannya lagi. Setelah Inaq pun pergi menyusul Amaq yang telah lebih dulu bersanding di beranda istana Surga. Berpelukan.


Selesai.


__ADS_2