
Hari ini, Inaq dan kak Arif tidak ke pasar. Mereka sedang menunggu Doni dan Rahman datang menjemputnya. Sore kemarin, Rahman menghubungi kak Arif. Ia menyampaikan bahwa esok lusa kak Arif akan tampil di atas panggung festival musik di kota provinsi. Doni yang meminta kepada Rahman agar Inaq juga ikut menyaksikan penampilan kak Arif. Itu sebabnya ia meminjam mobil ayahnya untuk menjemput mereka di desa.
Seperti biasa, Rahman tidak bisa menolak permintaan sahabatnya sekalipun telah berusaha. Terkadang, muncul perasaan sungkan dari dalam hatinya. Tapi Doni selalu mampu meyakinkan kalau ia tidak pernah merasa direpotkan oleh Rahman. Tidak sama sekali. Doni justru menganggap Rahman layaknya saudara sendiri. Orang tua Doni pun tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh anak bungsu mereka.
Sebenarnya, sepulang dari pusat perbelanjaan tadi malam, Rahman terlibat adu pendapat dengan Doni terkait gitar baru yang dibeli untuk kak Arif. Rahman ingin langsung memberikan gitar itu kepada kak Arif. Ia berharap kak Arif bisa menggunakannya tampil di atas panggung.
Doni mencegah. Ia mengerti, tidak ada hak untuk ikut campur. Tapi bukankah Doni sudah beranggapan bahwa ia adalah saudara Rahman? Benar. Hal itulah yang mendasarinya untuk berpendapat. Menurutnya, akan lebih baik gitar itu diserahkan nanti setelah kak Arif tampil. Alasannya cukup kuat; chemistry antara kak Arif dan si Blacky telah terbentuk sejak lama. Jadi, kalau kak Arif tampil dengan gitar baru, Doni merasa penampilan kak Arif tidak bisa sebaik saat ia memainkan si Blacky.
__ADS_1
Rahman Setuju. Ia semakin bangga memiliki sahabat seperti Doni. Di saat seperti ini, di saat kecerdasannya tidak sempat memikirkan hal-hal sederhana. Doni selalu mampu mengisi celah itu dengan memberikan saran yang sepenuhnya berguna. Perdebatan berakhir.
Empat puluh menit sudah mereka menduduki jok mobil keluarga keluaran Jepang ini. Sepanjang perjalanan, mereka banyak berandai-andai. Andaikan kak Arif menang dalam festival musik ini. Andaikan aku bisa seperti kak Arif, kata Doni. Andaikan ini. Andaikan itu. Dan masih banyak andai-andai yang terucap dari mulut keduanya.
Roda kendaraan telah melewati gapura perbatasan antar dua kabupaten berikutnya. Ini adalah perbatasan terakhir. Hanya butuh beberapa puluh menit lagi sebelum mereka sampai di rumah tempat Inaq dan kak Arif menunggu.
Bertambah satu lagi andai-andai terucap dari mulut Rahman. Kali ini menyangkut orang-orang yang pada umumnya terlihat tanpa beban menerobos traffic light yang sedang menyala merah. Terlepas mereka remaja, dewasa, ataupun orang tua. Sebegitu berharganya kah waktu mereka sehingga untuk menunggu tiga puluh detik saja mereka enggan bersabar?
__ADS_1
“Tling.”
Traffic light berubah warna, hijau. Doni menginjak pedal gas sedikit dalam. Hal itu sekaligus membuat Rahman terjungkal ke belakang. Doni tertawa sebab baru saja berhasil mengusir kesadaran dari benak sahabatnya. Dan terus tertawa meski raut wajah Rahman menunjukkan tanda-tanda kekesalan. Tidak marah, hanya sedikit kesal. Karena Rahman pun ikut tertawa.
Erat memang, persahabatan yang terjalin antara dua anak manusia yang terlahir dengan kondisi ekonomi berbeda ini. Seerat tali tambang yang mengikat jangkar kapal besar. Jika lebih diperhatikan, persahabatan mereka sepertinya telah terjalin berpuluh-puluh tahun lamanya. Padahal, pertemuan pertama keduanya baru terjadi sekitar dua tahun lalu. Saat Rahman sedang duduk membaca buku berjudul Kisah-kisah Para Nabi.
***
__ADS_1