
Rahman bersyukur. Meskipun pak Muttaqillah merobek lembar jawabannya, ia tetap bisa mendapatkan haknya karena IPK (Indeks Prestasi Komulatif) yang diperoleh berada di atas standar nilai rata-rata peraih beasiswa. Hanya saja, nilai semester Rahman sedikit menurun dari nilai semester sebelumnya.
Doni ikut senang mendengar kabar yang disampaikan pihak kampus tentang beasiswa yang telah ditransfer ke rekening masing-masing penerima. Selain itu, Doni juga senang karena nilai semesternya kali ini mengalami peningkatan cukup signifikan. Walaupun tetap tidak melebihi nilai semester sahabatnya.
Terangnya cahaya rembulan terpancar di segenap penjuru kota. Pantulan cahayanya menampilkan sillouette pepohonan, perumahan, juga memperjelas bayangan. Tidak ada awan sebagai penghalang. Rembulan sempurna bulat. Sungguh, purnama yang indah. Terlalu indah untuk dilewatkan.
Duduk di beranda rumah sahabatnya, Rahman tidak sabar menunggu. Doni bilang hanya lima menit, tapi ini sudah lima belas menit. Apa pula yang membuat Doni begitu lama mengganti pakaian? Padahal Doni seorang laki-laki, bukan perempuan.
Rahman bergumam. Apa jadinya jika impian sahabatnya itu benar-benar terwujud? Mungkin kah seorang Presiden bisa menghargai rakyat, sedangkan untuk menghargai waktunya sendiri saja tidak bisa? Lalu kagum. Sekali lagi Rahman memandang keindahan ciptaan Yang Maha Indah.
“How do you think my brother? This is the new Doni.”
Rahman menoleh. Kemudian tertawa. Doni menghabiskan lima belas menit hanya untuk bisa berpenampilan seperti Vino G. Bastian? Lihatlah. Baju yang dipakai justru menampakkan lipatan perut buncitnya. Ke bawah sedikit, celana panjang yang dipakai sangat ketat. Menurut Rahman, Doni lebih pas jika berpenampilan ala Saykoji.
__ADS_1
Terserahlah. Doni tidak peduli. Ia merasa nyaman dengan penampilan barunya. Dan Rahman terpaksa mengalah daripada harus berjalan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan.
Sepanjang perjalanan, pembahasan mereka tidak lepas dari penampilan baru seorang Doni. Rahman merasa sebaiknya Doni berfikir ulang sebelum memantapkan hatinya untuk berpenampilan seperti itu. Doni tetap konsisten karena merasa cocok dengan penampilan barunya. Perdebatan pun tidak terelakkan. Meski kini mereka sudah memasuki salah satu toko handphone di pusat perbelanjaan terbesar di kota provinsi.
Perdebatan sengit antara Rahman dan Doni sempat terhenti. Rahman fokus menatap deretan smartphone bermacam merk dan tipe yang sengaja dipajang di dalam etalase toko. Mereka melihat-lihat. Belum memilih. Tidak lama. Doni memberi saran dengan menunjuk salah satu smartphone ternama yang terpajang paling depan. Rahman tidak tertarik. Ia tahu, smartphone jenis itu diproduksi oleh perusahaan besar milik Steve Jobs. Harganya pun terlalu mahal. Lagi pula, di tangan seorang mahasiswa, smartphonejenis itu tidak mencapai fungsi maksimalnya. Bahkan, lebih cenderung menjadi alat adu gengsi.
Setelah melewati berbagai pertimbangan, Doni akhirnya sepakat dengan pilihan Rahman yang lebih memilih membeli smartphone yang kalau merk-nya diucapkan, sama seperti pengucapan mie instan. Sejurus kemudian meninggalkan toko setelah membayar sejumlah uang menggunakan kartu debit.
“Jadi beli gitar?”
Masih di kawasan bangunan super mewah. Doni menuntun sahabatnya berkeliling. Berputar-putar. Meninggalkan jejak hampir di setiap inch lantai berkeramik putih itu. Lampu-lampu bergelantungan. Bagaikan rembulan dalam ruangan.
Puas berkeliling. Turun naik eskalator. Sesekali melewati puluhan anak tangga. Menyusur banyak toko dengan bermacam display berbeda. Doni mengajak Rahman mewujudkan keinginannya. Membeli sebuah gitar baru buat kak Arif.
__ADS_1
“Didorong! Bukan ditarik.”
Doni menggeser tubuh Rahman. Tatapannya sedikit meremehkan. Rahman tersenyum. Mempertontonkan barisan giginya. Sebenarnya, ia sudah terbiasa dengan model pintu semacam itu. Tapi kali ini, ia kurang fokus. Mungkin karena terlalu sibuk mengotak-atik smartphone barunya. Sehingga ia mengabaikan kata ‘Push’ yang tertempel jelas di sisi tengah pinggiran pintu.
Kini, mereka telah memasuki gerai musik yang cukup besar. Kombinasi antara desain interior dengan display alat-alat musiknya terlihat serasi. Di beberapa bagian dinding terpajang poster musisi-musisi kelas dunia seperti Bob Dylan, The Beatles, Queen, dan Gun ‘N Roses. Ada juga musisi legendaris Indonesia sekelas Koes Plus, Panbers, Slank, Boomerang, dan tidak ketinggalan musisi yang kak Arif anggap sebagai musisi tanpa generasi, Iwan Fals.
Meskipun besar, Rahman dan Doni tidak perlu berkeliling untuk dapat menemukan alat musik yang sedang mereka cari. Segala merk gitar terpajang rapi tepat di samping pintu masuk. Modelnya pun beragam.
Kebingungan muncul. Satu pertanyaan menyusup melalui celah-celah rambut kedua remaja itu. Terus masuk hingga menembus kulit kepala. Dan bermuara di kedua bagian otak. Gitar mana yang akan dibeli untuk kak Arif? Sementara mereka tidak begitu mengerti masalah gitar.
Tenang. Berbekal kepercayaan diri yang tinggi. Doni menghampiri salah seorang karyawan gerai musik tersebut. Pundak Rahman bergerak naik. Lalu turun lagi. Ia tidak mengerti dari mana datangnya kepercayaan diri seorang Doni. Padahal penampilan barunya terkesan sedikit memaksakan. Saykoji G. Bastian.
Yang membuat Rahman tidak bisa menahan tawa adalah ketika Doni terdengar sok mengaku sebagai seorang gitaris dan memiliki grup band. Namanya pedagang, asal mengangguk saja. Yang penting barang dagangan mereka laku terjual. Masalah Doni mengaku sebagai seorang gitaris, punya grup band, atau mungkin mengaku sebagai The Bestest Guitarist pun ia tidak peduli.
__ADS_1
Akhirnya, Rahman mengikuti saran dari karyawan gerai musik itu. Ia membeli gitar akustik buatan Amerika, Gibson SG. Meski ia tidak sepenuhnya yakin gitar itu pabrikan Amerika. Kalaupun iya, bahan dasarnya kemungkinan besar dari Indonesia. Entahlah. Rahman dan Doni lebih memilih segera pulang daripada berdebat tentang masalah yang mereka berdua sama-sama tidak banyak tahu.
***