
Lima puluh kilometer dari gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan ratusan siswa-siswi di sekolah. Di sini, kecerdasan otak kembali mendapatkan ujian. Semua kepala tertunduk, fokus menatap lembaran kertas di atas meja masing-masing. Hening. Hanya bisikan pelan dan gerak-gerik perlahan menjadi pemandangan dalam ruangan.
Pagi itu, awan mendung merayap di atas langit kota provinsi. Sumber energi utama di muka bumi berhasil membantu proses penguapan dengan sempurna. Uap-uap air diberangkatkan menuju langit yang tinggi, dan terselip di antara gumpalan-gumpalan awan.
Angin berhembus, menerbangkan gumpalan-gumpalan awan secara vertikal, horizontal, diagonal, dan bertemu dengan gumpalan-gumpalan awan lainnya. Kemudian membentuk sebuah gumpalan awan besar yang menampung ribuan m3 korban penguapan. Akhirnya awan menyerah karena jumlah air yang tertampung melebihi kapasitas maksimal. Demi meringankan beban, ratusan m3 air dikirimkan ke tanah bumi. Terjadilah hujan.
“Kembali ke tempat dudukmu!”
Serentak semua wajah tengadah tanpa perlu dikomando. Mereka terkejut. Suara keras lelaki berkumis tebal itu mengusir keheningan. Ia bangkit. Setengah berdiri. Tangan kirinya bertumpu di atas meja, sedangkan tangan kanannya terangkat, menunjuk kursi seorang pemuda yang kini tengah terpaku di hadapannya. Hal seperti ini tentu tidak terjadi seandainya pemuda itu adalah Arif. Ia pasti akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Lalu keluar.
Sungguh berbeda dengan pemuda bertubuh sedikit gempal itu. Rahman namanya. Adik kandung kak Arif. Lihatlah, di saat semua wajah memasang muka tegang, Rahman justru terlihat tenang meski dalam hatinya terselip rasa tidak percaya atas penolakan seorang dosen.
Rahman kini sedang menjalani ujian kenaikan semester di kampusnya, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada salah satu Universitas terbaik di kota provinsi. Jurusan Bahasa Indonesia.
Sejak dulu, Rahman selalu bercita-cita menjadi seorang guru. Katanya, guru merupakan profesi paling mulia. Tanpa adanya seorang guru, kita tidak akan pernah bisa membaca, menulis, juga berhitung. Ingat peristiwa sejarah pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang? Bukankah pertanyaan pertama Kaisar adalah tentang berapa banyak guru yang selamat?
“Ini, pak. Dua nomor belum terjawab.”
Rahman menyerahkan lembar jawabannya dengan sopan. Tadi, ia memang kembali ke tempat duduknya untuk mengambil lembar jawabannya untuk dikumpulkan. Ia lebih memilih keluar daripada harus menyelesaikan sisa dari sepuluh nomor soal ujian. Karena sejak kecil, ia sudah terbiasa bersegera.
“Selesaikan dulu, baru keluar!”
Dosen berkumis tebal itu kembali berseru garang. Perlakuannya sempat membuat Rahman menelan ludah. Sebenarnya, waktu untuk menyelesaikan dua nomor soal yang belum terjawab masih tersisa banyak. Tiga puluh lima menit. Bagi Rahman, waktu sebanyak itu lebih dari cukup. Ia anak yang pintar, tapi lebih memilih keluar. Alasannya jelas, ada seseorang yang tidak ingin dikecewakan. Karena pesannya terlanjur melekat dalam kepala. Setiap detik, mengalir bersama darah.
“Apa yang kalian lihat? Selesaikan ujian kalian!”
Seisi ruangan terdiam. Wajah-wajah kembali tertunduk. Lanjut menjawab soal ujian. Seluruh mahasiswa tahu, dosen itu terkenal killer. Ditakuti karena ketegasan dan kedisiplinannya. Buang jauh-jauh keinginan untuk melawan.
__ADS_1
“Sekali lagi maaf, pak.”
Rahman meletakkan lembar jawabannya di atas meja. Lantas beranjak keluar. Ia tidak ingin teman-teman mahasiswa lain ikut menjadi korban dari kekesalan dosen killer tersebut. Jika apa yang dilakukan memang harus memakan korban, biarlah ia sendiri.
Adzan dzuhur telah dikumandangkan. Sebentar berakhir. Rahman masih menuruni puluhan anak tangga dengan mempercepat langkahnya. Pesan seorang ibu tujuh belas tahun silam benar-benar sudah berlumut dalam kepala.
***
“Aku ke surau dulu. Sebentar lagi subuh.”
Amaq pamit. Inaq masih mengikat kangkung-kangkung segar sebelum dijual. Kedua anak mereka tertidur pulas di lantai. Jalan pedesaan masih sepi. Angin berhembus pelan. Gemuruh di langit sekali dua terdengar mengiringi langkah Amaq menuju surau.
Dari luar sana, suara petir tiba-tiba terdengar menggelegar. Lampu-lampu padam. Kegelapan menyelimuti seluruh desa. Perlahan, Inaq menghampiri kedua buah hatinya untuk menyelimuti mereka. Jendela kayu kemudian dibuka, sekejap menerawang ke langit. Belum turun hujan.
“Inaq, Inaq.”
Di sela kegelapan, Rahman terbangun. Ia mengangkat pelan tubuhnya dari lantai. Kak Arif masih tertidur pulas. Tanpa cahaya, mata tidak akan mampu melihat apa-apa. Tanpa sebab, tidak akan mungkin ada akibat.
Inaq mendekat. Lampu minyak baru saja dinyalakan dan diletakkan di atas meja. Kini mata telah bisa menangkap cahaya, Rahman tidak takut lagi. Karena tidak terlihat, Rahman mempertanyakan keberadaan Amaq. Lalu Inaq menjawab bahwa Amaq telah pergi ke surau, dan ia pun akan segera menyusul.
Sangat wajar jika Rahman ataupun kak Arif tidak tahu kebiasaan orang tua mereka menunaikan shalat subuh berjamaah di surau. Sebab mereka selalu ditinggalkan dalam keadaan terlelap.
“Duaaaarr!” Suara petir kembali menggelegar. Rahman terkejut. Lantas membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Inaq.
“Inaq tidak boleh pergi. Di luar sana sangat gelap, sebentar lagi hujan. Rahman takut sendiri di rumah.”
Bocah empat tahun itu semakin mengencangkan lingkar tangan mungilnya di tubuh Inaq. Rahman hanya terpaut dua tahun dari kak Arif yang tiga bulan lalu genap berusia enam tahun.
__ADS_1
Memang, keadaan di luar rumah sangat gelap, terlebih di saat lampu sedang padam begini. Hanya sinar rembulan menjadi penerangan. Itu juga kalau bulan tidak sedang bersembunyi. Berbeda dengan keadaan sekarang, bulan tidak terlihat. Langit mendung, sekali dua sambaran kilat terlihat menerangi jalan tanah pedesaan. Sebentar menghilang. Gelap lagi.
“Kau tahu. Pahala shalat berjamaah jauh lebih banyak daripada shalat sendiri, 27 berbanding 1. Makanya, kita dianjurkan untuk shalat berjamaah. Supaya pahala yang kita dapatkan lebih banyak.”
Rahman mengangguk. Sok mengerti. Lalu melepas pelukannya dan bergegas menghampiri kak Arif yang masih terlelap.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran mulai terdengar dari pengeras suara masjid dan surau-surau di segenap penjuru desa kecil itu. Pagi masih buta, rembulan tidak terlihat, taburan jutaan bintang tertutup awan, dan hari ini matahari dikabarkan terjebak kemacetan dalam perjalanannya menerangi bumi bagian tengah.
Alhamdulillah. Lampu kembali menyala. Rahman terlihat menggerakkan kedua tangan mungilnya untuk membangunkan kak Arif. Terus, tidak berhenti. Namun kak Arif tidak menghiraukan Rahman. Ia justru membungkus sekujur tubuhnya dengan selimut.
Rahman belum menyerah. Kali ini gerakan tangan mungilnya disertai bisikan yang mengulang perkataan Inaq: pahala shalat berjamaah jauh lebih banyak daripada shalat sendiri. 27 berbanding 1. Inaq hanya tersenyum menyaksikan lakon natural kedua buah hatinya.
Bukan. Itu bukanlah polusi suara. Bukan pula penyebab terganggunya tidur kebanyakan manusia. Suara itu adalah suara para Muaddzin yang sedang menjalankan tugasnya mengumandangkan adzan subuh.
“Tunggu!”
Rahman menoleh. Kak Arif terlihat menyibak selimutnya, lalu bangkit. Ia merasa ditampar oleh perkataan Rahman. Lantas bersama-sama menyusul Amaq ke surau untuk melaksanankan shalat subuh secara berjamaah.
***
“Assalamualaikum Warahmatullah. Assalamualaikum Warahmatullah.”
Shalat dzuhur berjamaah di mushalla kampus berakhir. Rahman dan beberapa mahasiswa lain, juga dosen, saling bersalaman. Sejurus kemudian mengirimkan banyaknya harapan melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah.
“Rahman. Rahman!”
Sebuah teriakan terdengar dari kejauhan. Rahman yang sedang mengikat tali sepatu menoleh. Ia melihat langkah terburu-buru mendekat. Lima detik. Sepuluh detik. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
__ADS_1
“Kau harus menemuinya sekarang juga!”
***