Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
7. Sungguh, Aku Tidak Menyesal


__ADS_3

“Kalau sudah shalat begini kan enak.”


“Jawabanmu disobek!”


Doni berucap setengah tegas. Ia masih duduk di samping Rahman sambil mengikat tali sepatunya. Rahman terkejut. Mematung. Kenapa sampai sefatal itu?


“Ayo. Jangan diam saja.”


Rahman pasrah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya. Kalau Doni bohong, kenapa pula ia seserius itu? Dan bagaimana mungkin lembar jawaban Rahman di sobek?


Doni menggeret Rahman bergegas meninggalkan mushalla kampus menuju ruangan pak Muttaqillah. Ia tidak peduli dengan sepatunya yang kotor karena berjalan melewati sisa genangan air hujan. Bekas tapak-tapak sepatu mereka terukir jelas di lantai berkeramik putih itu, seakan mengikuti kemanapun mereka pergi. Seluruh anak tangga pun ikut menjadi saksi perjuangan mereka. Terutama Rahman, meski saat ini ia belum sepenuhnya percaya dengan perkataan Doni.


“Permisi, pak.”


Pak Muttaqillah mempersilahkan Rahman masuk. Doni mengangguk pelan, berusaha meyakinkan sahabatnya. Rahman berdehem. Perlahan masuk. Tinggallah Doni menunggu di luar.


Belum juga Rahman sempat duduk, pak Muttaqillah sudah menatap sinis. Rahman tertunduk. Menelan ludah.


“Hmm, erg. Saya hanya memastikan kebenaran kabar yang baru saja saya terima, pak. Tentang lembar jawaban saya.”


“Jawabanmu sudah saya sobek. Itu hukuman bagi siapa saja yang berani kurang ajar sama saya. Kau tidak terima?”


Tanpa rasa bersalah, dosen killer itu memotong penjelasan Rahman. Lalu melanjutkan aktivitasnya memeriksa tumpukan-tumpukan kertas yang ada di atas meja. Sepertinya dosen killer itu sedang mencari sesuatu.


“Tapi kenapa pak?”

__ADS_1


“Kau tidak dengar perkataan saya? Itu hukuman bagi siapa saja yang berani kurang ajar sama saya. Kau mengerti?!”


Pak Muttaqillah menghentikan pencariannya. Ia terlihat sangat marah. Tangan kanannya menampar meja. Mungkin karena apa yang sedang dicari belum juga ditemukan. Ditambah Rahman datang menghalau fokus.


Rahman terkejut. Untuk kesekian kalinya ia menelan ludah. Doni mendengar suara dari luar. Dan spontan menempelkan wajahnya di kaca jendela untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam ruangan pak Muttaqillah.


“Saya tidak bisa menjawab sisa soalnya, pak. Dan saya memilih untuk meninggalkan ruang kelas daripada harus menunggu waktu ujian berakhir.”


Rahman berbohong. Pak Muttaqillah tahu, Rahman bukan mahasiswa bodoh. Ia pun mengingat betul saat Rahman meminta ijin meninggalkan ruang kelas sejenak untuk melaksanakan shalat.


Rahman bisa saja menyelesaikan semua nomor soal tersebut, baru keluar. Bukan dengan cara seperti itu. Tapi begitulah Rahman, pekerjaan apapun akan ditinggalkan demi bersegera menunaikan shalat.


“Saya muslim, pak. Dan agama saya mengajarkan untuk bersegera menunaikan shalat.”


“Di ruangan itu bukan hanya kau yang muslim!”


Giliran Rahman berkata tegas. Ia menunjuk dadanya. Pak Muttaqillah terdiam. Doni masih berusaha mengintip dari balik kaca jendela.


“Bapak seharusnya lebih tahu daripada saya!” Rahman melanjutkan penjelasannya. Berbalik. Lantas keluar dari ruangan pak Muttaqillah. Dosen killer itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Doni melihat sahabatnya keluar. Ia heran, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Namun saat ini, yang terpenting adalah menyusul sahabatnya yang berjalan sedikit terburu-buru.


***


Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarku

__ADS_1


Melihat ia menari, hatiku terpatri


Sepasang merpati bercumbu di balik awan


Kemudian dia turun menukik


Sujud syukur padaNya


Handphone kak Arif berdering. Tidak bergetar. Suaranya terdengar dari dalam tas gitar kesayangan. Seketika itu meminta Inaq untuk menjawab panggilan tersebut. Kak Arif menduga, pasti dari Rahman.


“Waalaikumsalam. Oh, Ini Inaq sedang bersama kak Arif di sungai. Ia sedang memetik kangkung. Inaq dan kak Arif baik-baik saja. Tidak apa-apa. Kau mau liburan kemana? Iya sudah. Nanti Inaq sampaikan.”


Dugaan kak Arif benar. Rahman menelpon dari asrama. Ia bertanya tentang keberadaan kak Arif, juga kabar mereka, serta meminta ijin kepada Inaq dan kak Arif untuk tidak langsung pulang kampung. Sebab, Doni mengajaknya menikmati liburan kenaikan semester bersama.


Setelah mengantongi ijin dari Inaq, Rahman meletakkan handphone-nya di atas kasur asrama.


Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik. Hening.


“Masalah yang tadi?”


Doni menoleh. Ia masih saja mengkhawatirkan sahabatnya. Nilai satu mata kuliah sangat berpengaruh terhadap pencapaian SKS (Satuan Kredit Semester) untuk semester berikutnya.


“Sudahlah, Don. Aku yakin Allah menyimpan sesuatu yang jauh lebih baik di balik semua ini. Sungguh, aku tidak menyesal.”


Rahman menepuk pelan pundak Doni. Tersenyum. Doni pun membalas tersenyum. Dalam hatinya merasa bangga memiliki sahabat seperti Rahman.

__ADS_1


***


__ADS_2