
Suasana pasar tradisional masih sama seperti hari-hari sebelumnya.
Lahan parkir yang sempit, kendaraan roda dua dan roda empat saling berdesakan, sampah-sampah berserakan, buruh-buruh panggul saling berpapasan, satu dua kusir cidomo terlibat perdebatan soal pemerintah yang ‘katanya’ doyan memakan uang rakyat, berdebat soal biaya kesehatan, biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok, semua mahal. Bahkan berdebat soal banyaknya pengangguran bergelar sarjana. (Block, copy, paste.)
Sedikit memasuki pasar.
Kak Arif terlihat sendiri, tanpa Inaq di sampingnya. Meski begitu, kak Arif tetap semangat menawarkan kangkung-kangkung segar kepada setiap mereka yang lewat. Masih cukup banyak kangkung-kamgkung segar belum terjual.
Hari beranjak siang. Meski kak Arif bertekad harus mampu menjual semua kangkung-kangkung segar itu, namun keinginannya bertemu dengan seorang gadis berkerudung yang dilihatnya lima hari yang lalu kembali datang menghalau fokus.
“Mungkinkah gadis berkerudung itu datang kembali?” Kak Arif bergumam pelan di dalam hati. Ia merapatkan barisan giginya. Sekejap mendongak. Kedua matanya terpejam. Menghela nafas.
“Oh, maaf bu. Kangkungnya seribu tiga ikat.”
__ADS_1
“Seribu empat ikat, bisa?”
Seorang ibu menghampiri. Berjongkok. Memilih satu per satu kangkung dalam bakul. Kak Arif terkejut. Lamunannya terhenti, berganti anggukan kecil.
Seandainya ibu itu adalah ibu yang kemarin datang bersama anak gadisnya, semua kangkung segar ini tidak perlu dibayar, alias gratis.
“Saya beli delapan ikat saja, nak.”
Siang itu, kak Arif memutuskan untuk pulang membawa tiga belas ikat kangkung yang belum terjual. Ia tahu, Inaq tidak akan marah. Tapi, ia merasa harus tetap meminta maaf.
Selanjutnya, kak Arif berjanji untuk tidak lagi memikirkan seorang gadis berkerudung yang pernah dilihatnya lima hari yang lalu. Ia akan lebih fokus menjual kangkung-kangkung miliknya. Dan kejadian siang ini tidak boleh terulang.
***
__ADS_1
Berbeda dengan suasana ramai di pasar tradisional.
Di sini, keramaian justru melahirkan rasa persaudaraan. Tidak ada transaksi jual beli, tidak ada perdebatan tentang bermacam hal, melainkan senyuman-senyuman bahagia dari sebagian besar masyarakat desa.
Beginilah suasana menjelang tradisi Begawe berlangsung. Bukan hanya di halaman belakang rumah saja yang ramai, namun halaman depan rumah pun diramaikan oleh para pemuda dan tetua kampung.
Di belakang rumah, para tetua perempuan berbagi tugas. Ada yang bertugas menanak nasi, memasak sayur nangka, gulai sapi, memarut kelapa, dan masih banyak lagi. Inaq mendapat tugas menusuk daging sapi yang sudah dipotong kecil-kecil. Lebih kurang sebesar dadu, untuk dibuat sate. Inaq dibantu oleh empat orang tetua perempuan lain.
Di depan sana, para tetua laki-laki terlihat cekatan menganyam daun kelapa untuk dijadikan teratak (atap). Sementara para pemuda saling membantu menaikkan satu per satu teratak yang sudah siap dipasang. Dengan arahan salah seorang tetua kampung, semua teratak berhasil terpasang.
Besok adalah hari pernikahan anak pertama pak Kades (Kepala Desa). Itu sebabnya rumah beliau ramai dikunjungi oleh warga masyarakat desa. Mereka terbiasa melakukan hal seperti ini, dan tidak hanya berlaku bagi keluarga pak Kades atau aparatur desa saja. Tapi, tradisi Begawe berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat desa.
***
__ADS_1