
“Biar saya saja, dik. Saya kenal salah seorang pengelola tempat ini. Saya juga pernah ke sini juga sebelumnya.”
“Tapi, bang.”
Serentak yang lain berseru. Mereka terlihat mengeluarkan sejumlah uang. Kecuali Rahman, ia tidak punya uang. Tapi tenang, ada Doni.
Lelaki tertua turun, bang Aji namanya. Tubuhnya atletis, rambutnya gondrong, kumisnya jarang-jarang. Ia berjalan mendekati sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah biasa. Meninggalkan mobil tua yang terparkir tepat di depan kantor pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Bagi kalian yang pernah mampir di sini, tentu tidak asing dengan prosedur seperti ini. Untuk dapat tercatat sebagai pendaki resmi, diharuskan membayar sejumlah uang, dan digantikan dengan tiket berupa kartu kecil dari plastik (mirip kartu nama). Warna biru untuk wisatawan lokal, sedangkan warna merah untuk wisatawan asing.
Pada kartu tersebut tertulis himbauan-himbauan yang intinya adalah bagaimana supaya kita bersama-sama membangun kesadaran untuk tidak meninggalkan sampah demi menjaga kealamian tempat wisata, khususnya Gunung Rinjani.
Sejumlah uang yang terkumpul dari hasil penjualan tiket nantinya akan digunakan untuk biaya perawatan dan pemeliharaan Gunung Rinjani itu sendiri. Sebagai gantinya, setiap orang yang telah melakukan pendaftaran berhak atas jaminan pertolongan dari pihak pengelola. Dengan catatan, tiket masih ada sebagai buktinya.
Jadi, seandainya di tengah perjalanan ada salah seorang pendaki yang sakit, atau tidak sanggup mendaki lebih tinggi, maka pihak pengelola TNGR akan mengirimkan orang untuk melakukan evakuasi. Cukup adil, bukan?
“Ini tiketnya. Ayo pak, kita lanjut.”
Bang Aji kembali menaiki mobil. Ia membagikan tiket masuk Taman Nasional Gunung Rinjani kepada mereka semua. Tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada bang Aji karena telah bersedia mengurus masalah tiket tersebut. Pak sopir membelokkan mobil, lalu berangkat menuju gerbang pendakian.
Benar. Setelah menyelesaikan proses pendaftaran, para calon pendaki harus menempuh perjalanan ± 1 km dari kantor pengelola TNGR sebelum akhirnya tiba di gerbang pendakian.
“Hati-hati. Hati-hati!”
Satu per satu turun dari mobil dengan membawa carier masing-masing. Bang Aji menjadi orang terakhir yang turun sekaligus menghampiri sopir. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu. Sebentar, setuju. Mobil tua inilah yang akan kembali menjemput mereka lima hari mendatang.
Di sini, lagi dan lagi peran bang Aji terlihat ketika menyarankan kepada mereka saat hendak memakai carier, sebaiknya dengan posisi duduk membelakanginya. Baru menyelipkan kedua tangan di antara tali penyangga carier tersebut. Dengan begitu, beban carier akan terasa lebih ringan karena ditopang langsung oleh kedua pundak. Pengalaman memang tidak akan pergi begitu saja kecuali meninggalkan pelajaran berharga.
Seketika itu juga, keenam calon pendaki yang berasal dari daerah berbeda, sepakat menjadikan bang Aji sebagai pemimpin mereka dalam menaklukkan ketinggian Gunung Rinjani. Sementara bang Aji hanya tersenyum.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, pak.”
Doni menghentikan langkah pak Sopir dan segeramenyodorkan sebuah kamera digital kepadanya. Doni ingin mengabadikan moment di bawah gerbang pendakian bersama Rahman dan kelima teman lain, termasuk bang Aji.
Pak sopir mengambil kamera dari tangan Doni. Tidak lama, mereka terlihat memasang fose berdiri sejajar dengan masing-masing mengangkat carier di pundaknya. Wajah-wajah mereka semua dihiasi oleh senyuman.
“Cekrek! ”Sekali lagi. “Cekrek!” Selesai.
Doni mengambil kameranya kembali. Lalu memperlihatkan hasil foto kepada teman-teman sependakaian lain. Hasilnya lumayan bagus. Pak sopir tersenyum menerima ucapan terima kasih dari Doni. Kemudian berbalik menaiki mobil tua miliknya dan meninggalkan gerbang pendakian.
Sedangkan Doni, Rahman, dan teman sependakian lainnya berkumpul untuk berdoa. Mereka dipimpin oleh bang Aji. Satu menit. Dua menit. Selesai. Sebuah teriakan semangat menjadi akhir dari doa yang mereka panjatkan kepada Sang Maha Perkasa. Lantas memulai langkah pertama mereka melewati gerbang pendakian Gunung Rinjani.
Empat jam sudah mereka berjalan melewati jalan setapak, menjejal padang rumput nan luas, melewati sungai mati berbatu, memasuki hutan cemara, dan disambut oleh bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi. Sesekali beristirahat sejenak untuk mengusir dahaga dan mengatur nafas. Lalu jalan lagi.
Dalam banyak kesempatan sepanjang perjalanan. Tangan-tangan mereka tidak lepas dari kamera masing-masing guna mengabadikan beberapa gambar diri berlatar pemandangan alam pegunungan.
Posisi Doni sedikit jauh dari Rahman. Ia berdiri menghadap matahari yang hampir terbenam, praktis membelakangi Rahman. Kedua tangannya terbuka lebar, kepalanya mendongak maksimal, sehingga Rahman bisa melihat mulutnya yang terbuka. Bukan hanya itu, karena Doni juga melengkapi dirinya dengan kaca mata hitam dan scebu berwarna merah maroon.
“Cekrek.” Sekali lagi, “Cekrek.” Selesai.
Tidak ada yang mendengarkan bang Aji? Bukan. Mereka sadar kalau mereka lah yang telah memilih bang Aji sebagai pemimpin mereka. Jadi, bagaimana mungkin mereka akan mengabaikan bang Aji. Hanya saja, terhitung sudah lima kali lebih bang Aji mengulang kalimatnya yang menyarankan kepada mereka untuk bermalam di Pos 3 Rinjani. Dan saran bang Aji pun sudah mendapat persetujuan dari mereka semua.
Penampakan di Pos 3 Rinjani sedikit berbeda dengan penampakan yang terlihat di Pos 1 ataupun Pos 2 Rinjani, karena Pos 3 Rinjani dilengkapi dengan penampakan sebidang tanah berpasir yang diapit oleh dua buah bukit. Konon, tanah berpasir tersebut merupakan potongan sungai mati yang entah dimana ujung-pangkalnya. Beruntung tanahnya datar, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk mendirikan beberapa tenda.
“Giliranmu, Don.”
Berbeda dengan Doni yang memilih fose berdiri, Rahman justru memasang fose duduk memeluk kedua lutut. Namun sama-sama membelakangi kamera dan menghadap matahari yang hampir terbenam.
“Tunggu!” Lanjut Rahman ketika hendak membenarkan posisi duduknya. Scebu biru tua yang menutupi seluruh bagian belakang kepalanya sedikit diturunkan. Kaca mata hitamnya diputar ke arah belakang. Doni bergumam pelan melihat Rahman yang menurutnya banyak tingkah.
__ADS_1
“Cekrek.” Sekali lagi, “Cekrek.” Selesai.
Semua orang yang memenuhi Pos 3 Rinjani, tanpa terkecuali. Berlomba-lomba mengabadikan keindahan fenomena tenggelamnya matahari dari separuh ketinggian Gunung Rinjani.
Sepuluh menit berlalu.
Matahari sepenuhnya terbenam. Diganti kehadiran rembulan dan taburan jutaan bintang yang berkelap-kelip. Kini suasana malam sempurna membungkus alam pegunungan.
Angin berhembus pelan. Namun dingin terasa menembus jaket tebal hingga ke tulang. Tenda bermacam warna telah berdiri di setiap sudut tanah landai. Satu per satu ranting kayu dikumpulkan, kemudian dibakar. Dan dikelilingi oleh tujuh orang pendaki.
***
Berbeda dengan suasana malam di alam pegunungan. Di sini, malam tidak terlalu dingin, jadi kak Arif tidak memerlukan api unggun. Seutas kain panjang sudah cukup untuk menghangatkan badan.
“Kau kenapa? Dari tadi Inaq lihat kau diam saja. Gitarnya dipeluk, tapi tidak dimainkan. Apa yang sedang kau fikirkan, nak?”
Kak Arif terkejut. Inaq duduk di sampingnya. Bola-bola kertas berserakan di lantai kamar. Berantakan,tidak seperti poster sang idola, juga foto Inaq dan Amaq sewaktu muda. Rapih dan terawat.
“Tidak apa-apa Inaq. Arif tidak sedang memikirkan seseorang.”
“Seseorang?” Lanjut Inaq.
Kak Arif menggeleng. Tidak, ia mengelak. Tadinya kak Arif terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Namun setiap kali ingin menulis lirik, buntu. Dicoba lagi, salah. Hal itu membuat kak Arif sadar, terkadang ada hal yang hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa dituliskan.
Sepuluh menit berlalu semenjak Inaq meninggalkan kamar.
Kak Arif meletakkan gitar kesayangan di samping ranjang tempatnya berbaring. Kemudian melamun. Malam ini, sebelum benar-benar terlelap,wajah seorang gadis berkerudung yang dilihatnya tadi siang terus terbayang.
***
__ADS_1