Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
19. Isi Surat Itu


__ADS_3

“Inaq merasa tidak enak jika harus membangunkanmu. Kau terlihat lelah. Selepas membantu Inaq mengikat kangkung-kangkung yang kau petik di sungai, Inaq mendengarmu bermain gitar sepanjang malam. Jadi, hari ini Inaq berangkat ke pasar sendirian.”


Kak Arif tertunduk. Inaq benar. Kak Arif memang lelah. Ambisi untuk memenangkan festival musik di kota provinsi mengharuskannya berlatih lebih keras. Bahkan, ia bermain gitar hingga kokok ayam jantan terdengar kabarkan pagi. Dan ia baru bisa terlelap sesaat setelah menuanaikan shalat subuh.


“Tadi Inaq bertemu dengan ibu yang tempo hari datang membeli kangkung bersama anak gadisnya. Ia mencarimu.”


“Tidak mungkin. Arif yang selalu mencarinya. Lima hari berturut-turut. Tapi, ia tidak pernah datang lagi. Dan sekarang, saat Inaq pergi ke pasar tanpa Arif, ia tiba-tiba datang mencari Arif?”


Kak Arif tertawa. Tidak percaya. Cerita semacam itu hanya ada di sinetron Indonesia.


“Ia ingin kau menyimpan ini.”


Kak Arif menoleh. Mengambil sebuah amplop kecil dari tangan Inaq. Dibolak-balik. Belum dibuka. Inaq menelan ludah. Teringat percakapan saat di pasar.


“Saya pernah kemari sebelumnya. Saya datang bersama anak gadis saya. Hari itu, anak saya makan dengan sangat lahap. Dua bulan belakangan ini, ia tidak pernah makan selahap itu. Ia menyukai kangkung ibu.”

__ADS_1


Inaq terdiam. Bingung. Ia mencoba mengingat sosok perempuan di hadapannya. Sudah banyak ibu-ibu datang membeli kangkung bersama anak gadis mereka. Nihil. Inaq tidak mengingatnya. Kebingungan Inaq bertambah. Ibu itu terlihat bersedih. Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyentuh satu ikat kangkung sama sekali. Lalu apa tujuannya datang kemari? Adakah kesalahan yang pernah Inaq perbuat? Atau kak Arif?


“Saya dan suami saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami juga sempat membawanya berobat ke luar negeri. Tapi keadaannya tidak kunjung membaik. Mungkin waktu itu, ibu menganggap bahwa anak saya sehat-sehat saja. Sejujurnya, dokter telah memvonis umur anak saya tidak akan lama lagi. Dan kami melakukan apapun agar ia tetap bisa merasa bahagia.”


Terlepas disadari atau tidak. Perempuan itu membenamkan wajahnya dalam pelukan Inaq. Ia menangis. Inaq membisu. Kini ia mengingat. Gadis yang cantik. Sampai kak Arif pun terus membayangkan wajah cantik gadis berkerudung itu sepanjang malam.


“Ibu, dimanapun anak ibu saat ini. Saya mohon, tolong berikan surat ini kepadanya. Diana menulisnya di rumah sakit. Tepat sebelum ia menjalani operasi jantungnya. Dan surat ini menjadi wasiat terakhir anak saya.”


Perempuan itu melepaskan pelukannya. Menghusap air mata dengan telapak tangan. Berusaha tersenyum. Inaq menelan ludah. Tangannya gemetar saat menerima surat yang ditulis oleh gadis cantik berkerudung itu, untuk anak sulungnya. Arif. Satu-dua orang menoleh. Wajah-wajah mereka terlihat seperti menyimpan tanya. Apa yang sedang terjadi? Namun tidak berusaha memastikan. Mereka tetap melanjutkan aktivitas masing-masing.


***


Erg, aku mau jujur. Tapi sebelumnya kau harus berjanji, jangan tertawakan aku. Sini, mana jari kelingkingmu? Twing twing. Kau sudah berjanji. Kau tahu, sampai detik aku menulis ini, aku tidak bisa melupakan senyumanmu. Di mataku, kau terlihat begitu tampan.


Seandainya Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan kepadaku untuk hidup satu kali lagi. Aku akan datang menemuimu, menanyakan namamu. Tapi jika Tuhan lebih memilih untuk mengambilku, entahlah. Aku hanya berharap kau juga menyimpan wajahku dalam ingatanmu.

__ADS_1


Oh, aku hampir lupa. Hari ini aku sedang menunggu waktu untuk dioperasi. Ada kelainan di jantungku. Sejak awal aku sudah tahu, umurku tidak lama lagi. Dokter sendiri yang menyampaikan hal itu kepada bunda. Sekarang aku pasrah. Aku tidak ingin terus menerus membebani ayah dan bunda dengan penyakit yang mengakar di jantungku.


Sekali lagi. Jika Tuhan lebih memilih untuk mengambilku, aku ingin pemuda tampan melakukah satu hal untukku. Simpanlah wajahku dalam ingatanmu. Sebab aku akan selalu membawa senyumanmu bersamaku.


Diana


***


Kak Arif membisu. Tangannya gemetar. Segera saja ia melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia tidak percaya. Waktu itu, apakah setahun perkenalannya dengan Diana, juga ikrar mereka untuk sama-sama berusaha menyatukan hati yang dulunya terpisah memanglah mimpi di saat tertidur dalam keadaan lelah? Benarkah ini nyata, bukan sekedar fiktif sinetron Indonesia?


Sejak hari itu, lima hari berturut-turut ia berharap bisa bertemu lagi dengan gadis cantik berkerudung yang sekali waktu pernah berkunjung. Namun, Diana tidak pernah datang. Dan sekarang. Saat ia sehari saja absen ke pasar. Ia justru mendapatkan surat yang mampu memaksa jantungnya berdetak lebih cepat. Seperti bola salju. Kekhawatiran kak Arif digelindingkan. Semakin membesar. Tersudutkan.


“Selain surat ini, apa yang dikatakan ibu Diana kepada Inaq? Dimana Diana saat ini? Arif harus segera menemuinya.”


Kak Arif bangkit. Sekejap menghampiri Inaq. Ia ingin memastikan keadaan Diana pascaoperasi jantung. Ia berjanji akan menceritakan semuanya. Tentang namanya, tentang ambisi besarnya, juga tentang wajah yang selalu terbayang dalam benaknya selama lima hari berturut-turut sejak pertemuan pertama mereka.

__ADS_1


Inaq tidak kuasa menjawab pertanyaan kak Arif. Ini merupakan kali pertama kak Arif tertarik mendekati seorang gadis. Ia pasti akan sangat terpukul jika mengetahui kebenaran kabar tentang Diana yang telah tiada.


***


__ADS_2