Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
14. Kejujuran Yang Tidak Disengaja


__ADS_3

“Kau yakin tidak datang ke acara pernikahan anak pak Kades? Bukankah kalian berteman baik? Tidak apa-apa jika kau tidak ke pasar hari ini. Kangkungnya bisa kita jual besok.”


Kak Arif mengangguk. Yakin. Ia menitip salam kepada anak pak Kades. Sekejap mencium tangan Inaq dan berangkat ke pasar.


Pagi ketujuh terhitung sejak pertama kali kak Arif ikut membantu Inaq berjualan kangkung di pasar tradisional. Dua hari yang lalu, kak Arif diminta kembali memainkan gitarnya di salah satu kedai di kampung seberang. Pemilik kedai merasa membutuhkan jasa kak Arif untuk menarik minat pengunjung.


Kak Arif tidak langsung setuju. Ia mengingat usia Inaq yang tidak lagi muda. Akan sangat melelahkan jika Inaq harus melakukan rutinitas ini sendiri. Pagi hingga siang hari berjualan di pasar tradisional, sore hingga menjelang petang memetik kangkung di sungai, dan saat malam datang, Inaq harus mengikat kangkung-kangkung tersebut. Sedikit waktu untuk Inaq bisa beristirahat. Kak Arif tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.


Di pasar, siapapun bisa menyaksikan ketampanan kak Arif. Di antara kerumunan banyak orang, ketampanannya semakin kontras. Terlebih ketika para ibu datang menanyakan harga seikat kangkung. Sesekali kak Arif menyempatkan bercanda dengan modus harga spesial. Seribu tiga ikat. Tapi kalau beli enam ikat, maka hanya perlu membayar sebesar dua ribu rupiah.


Seketika itu ibu-ibu langsung bergumam pelan. Satu-dua tersenyum. Sama saja, tidak ada yang spesial. Kak Arif tertawa. Ia mulai bisa menyesuaikan diri dengan keadaan pasar tradisional. Siapa sangka, dengan cara seperti itu kangkung-kangkungnya ludes terjual. Bukan hanya bercanda, kak Arif juga sesekali terdengar memberikan motivasi kepada para pembeli.


Sepeninggalan ibu-ibu itu, seorang laki-laki datang menyapa. Tidak terlalu tua. Usianya kira-kira 30 tahunan. Anehnya, baru kali ini ada orang serapih dirinya datang ke pasar tradisional. Kemeja biru muda dibalut celana panjang hitam begitu serasi dengan warna kulitnya yang putih.


“Saya kagum dengan semangat adik dalam berdagang.”


“Saya Arif, calon musisi terkenal.”


Kak Arif memotong perkataan laki-laki itu. Ia mengulurkan tangannya. Tersenyum. Laki-laki itu pun menyambut uluran tangan kak Arif seraya menyebutkan namanya, Firmansyah.


“Tunggu! Arif, seorang pemuda tampan, pandai berdangang, calon musisi terkenal? Seharusnya calon musisi itu berada di sekolah-sekolah musik. Bukan di pasar tradisional.”


Hari itu, kak Arif pulang lebih awal.


Satu sisi, ia senang karena kangkung-kangkungnya habis terjual. Sisi lainnya, percakapan singkat dengan mas Firmansyah semakin terasa memenuhi ruangan kamar ini. Sebentar hilang. Datang lagi. Hilang, berusaha dilupakan.


“Hei, Blacky. Maafkan aku, belakangan ini aku jarang menyentuhmu. Aku tidak bermaksud memutuskan persahabatan kita. Bukan! Kau lihat sendiri, Inaq sudah tidak setangguh dulu. Cengkraman tangannya semakin hari kian melemah.”


Kak Arif duduk. Menghela nafas. Ia berbicara dengan gitar kesayangannya yang masih terbungkus tas dan bersandar di dinding. Gitar yang seakan menyimak curahan hati sang majikan.


“Suka atau tidak, aku harus menggantikan Inaq. Oh ya,tadi di pasar aku bertemu seorang laki-laki. Firmansyah namanya. Ia memborong sisa kangkung hari ini. Aku tidak tahu siapa sebenarnya dia? Apa pekerjaannya? Tapi aku ingat perkataannya. Ia meragukan aku. Meragukan kita untuk bisa tampil bersama sebagai musisi terkenal.” Kak Arif melanjutkan perkataannya. Kemudian tertunduk.


Sedetik, dua detik, kak Arif menoleh. Ia mengeluarkan gitar kesayangannya dari dalam tas. Seluruh bodi si Blacky tidak lepas dari tatapan matanya. Sekali lagi kak Arif menghela nafas. Lebih panjang. Lebih berat.


Gitar pun mulai dimainkan dengan penuh penghayatan. Satu lagu dinyanyikan. Selesai. Di tengah lagu kedua, berhenti. Suara salam terdengar dari luar rumah. Rahman sudah pulang. Ia pulang dengan selamat setelah engkel (angkutan umum sejenis bis) yang ditumpanginya melewati 1 kota dan 3 kabupaten. Jarak yang cukup jauh dari asrama kota provinsi menuju desa.


“Waalaikumsalam.”


Kak Arif bangkit. Ia menghentikan tarian lincah jari-jari tangannya. Gitar diletakkan kembali, tapi tidak pada posisi semula. Lalu beranjak membuka pintu dan menyambut kepulangan adik tercinta.


“Kak Arif apa kabar? Inaq mana? Eh, kak Arif masih rajin fitness? Sebulan lagi pasti badan kak Arif tidak kalah bagus dibanding dengan badannya Deni Sumargo.”


Kak Arif tersenyum. Tangannya menyambar leher Rahman dan menyeretnya ke dalam kamar. Rahman tertawa. Geli dengan perlakuan kak Arif.

__ADS_1


“Lepaskan aku, tolong! Jangan bunuh aku. Ampun.”


Rahman memohon. Berpura-pura. Suaranya diatur sedemikian rupa, mirip artis-artis pemeran FTV. Kak Arif tertawa. Bagaimana mungkin Rahman akan dibunuh? Sedangkan ia sangat menyayanginya.


“Kak Arif belum menjawab pertanyaan Rahman.”


“Oh iya, aku dan Inaq baik-baik saja. Sekarang Inaq masih di rumah pak Kades. Anak pertamanya menikah.”


“Kenapa kak Arif tidak ikut? Kak Arif pasti dicari sama anak pak Kades. Bukankah kalian berteman baik?”


“Kau benar. Inaq juga menyuruhku untuk menghadiri acara pernikahan anak pak Kades. Teman baikku. Tapi sekedar kau tahu saja, semenjak kau menghubungiku seminggu yang lalu, sampai hari ini. Aku lah yang menggantikan peran Inaq. Mulai dari memetik kangkung di sungai, sampai menjualnya ke pasar.”


“Kak Arif ikut Inaq ke pasar? Bukankah kak Arif bernyanyi di kedai?”


Rahman tidak percaya. Setahunya, kalau kak Arif bernyanyi di kedai, pulangnya selalu larut malam. Tapi kak Arif bilang ia membantu Inaq berjualan kangkung di pasar? Pagi-pagi sekali?


Kak Arif mengangguk. Iya. Kemudian menggeleng. Tidak lagi bernyanyi di kedai.


“Bagaimana kuliahmu?”


“Alhamdulillah. Semuanya berjalan lancar. Liburannya juga lancar. Menyenangkan bisa berada di puncak Gunung Rinjani. Tapi,…”


Rahman menahan perkataannya. Menelan ludah. Kalau kak Arif tahu, ia pasti marah. Namun Rahman tidak ingin berbohong. Terlebih kepada keluarga kecilnya.


Kak Arif menoleh. Rahman terlihat sangsi. Sekali lagi, ia menelan ludah. Apapun itu, ia harus jujur. Sekalipun kak Arif akan marah dengan kelakuannya.


“Kau bisa saja menyelesaikannya dulu, baru keluar. Sekarang kalau kau sudah dipastikan tidak lulus, bisa saja kau tidak lagi mendapatkan beasiswa. Kau fikir kau anak orang kaya? Kau fikir Inaq punya banyak uang?”


“Kak, Rahman hanya mengikuti pesan Inaq. Inaq yang mengajarkan kita agar selalu shalat berjamaah. Sungguh, Rahman tidak ingin mengecewakan Inaq.”


“Kau memang tidak mengecewakan Inaq. Tapi kau melupakan pesan Amaq! Amaq ingin kita sukses, dan sukses itu butuh perjuangan. Ini perjuanganmu? Iya?!”


Kak Arif melotot. Nada suaranya sedikit tinggi. Tegas. Keras. Rahman tertunduk. Air matanya hampir jatuh. Ia bingung. Kedua pesan orang tuanya berjalan berdampingan.


“Kau fikir aku senang dengan semua yang aku lakukan sekarang? Dan kau tahu kenapa aku menolak beasiswa sekolah musik waktu itu? Hah? Aku melakukan semuanya supaya kau tetap bisa menggapai impianmu menjadi seorang guru. Dan sungguh, aku tidak sampai hati meninggalkan Inaq sendirian di rumah ini. Aku mengorbankan impianku demi kau, demi Inaq!”


Pecah sudah tangisan Rahman. Ia tidak kuasa melihat kak Arif. Kata-katanya sungguh menusuk ke dalam hati. Ternyata ini alasan sebenarnya kak Arif memilih untuk tidak kuliah. Bukan karena keinginannya sendiri,tapi demi Rahman, demi Inaq. Kenapa baru sekarang kak Arif jujur? Kenapa tidak dari awal?


Rahman benar-benar terpukul. Tangisannya semakin keras. Sekeras tangisan Inaq di balik dinding kamar kak Arif. Ia duduk bersandar di dinding. Membenamkan wajah keriputnya di antara lingkaran kedua tangan yang memeluk lututnya.Inaq merasa menjadi penghalang bagi kak Arif dalam menggapai impiannya.


Kak Arif berdiri. Ia merapatkan barisan giginya. Beranjak meninggalkan kamar. Selangkah keluar kamar, kak Arif terkejut. Ia melihat Inaq sedang menangis. Rahman segera bangkit. Setengah berlari, lantas memeluk Inaq.


Hanya dalam hitungan sepersekian detik. Rumah itu dibanjiri oleh tangisan Inaq dan Rahman. Kak Arif mendongak. Kedua matanya terpejam. Ia menghela nafas. Menyesal.

__ADS_1


Semua ini tidak akan pernah terjadi seandainya kak Arif bisa sedikit lebih lama menyimpan kejujurannya. Sayang, kekesalan terhadap kelakuan Rahman terlanjur melemparkannya jauh menuju penolakan empat tahun silam.


“Terima kasih sebelumnya. Tapi saya tidak bisa, pak. Bapak benar, ini merupakan jalan untuk saya bisa mewujudkan impian saya. Sekali lagi terima kasih banyak. Bapak telah merekomendasikan saya mendapatkan beasiswa ini. Dan maaf, kalau saya mengecewakan bapak. Untuk saat ini, ada hal yang lebih penting daripada sekedar mewujudkan impian saya.”


Jawaban itu tidak murni keluar dari dalam hati kak Arif. Bagaimanapun, jika kehidupan memang harus memakan korban, maka ia siap mengorbankan impian besarnya menjadi seorang musisi terkenal demi keluarga kecilnya.


Saat itu, kak Arif hanya berfikir bagaimana supaya Rahman bisa menggapai impiannya menjadi seorang guru. Juga Inaq yang tidak mungkin ditinggalkan sendiri di rumah. Benar-benar keputusan yang sulit.


Kak Arif menghela nafas. Tertunduk. Pak Yasid mengangguk. Tersenyum. Sebagai seorang guru kesenian, ia hanya berusaha memberikan peluang terbaik bagi setiap anak didiknya.


Siang itu, sebelum kak Arif meninggalkan ruangan musik sekolah. Pak Yasid memintanya untuk memainkan sebuah lagu ciptaan The King Of Pop, Michael Jackson – Heal The World. Tidak masalah, kak Arif mengambil gitar yang seolah menjadi miliknya jika sedang bermain musik di sekolah. Pak Yasid memilih bermain keyboard.


Lihatlah. Kak Arif sungguh memiliki bakat luar biasa dalam bermusik. Caranya memainkan gitar, suaranya yang khas, membuat pak Yasid semakin yakin kalau suatu saat nanti kak Arif bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang musisi terkenal.


“Ini adalah formulir beasiswa sekolah musik di salah satu kota besar di pulau Jawa. Bapak kenal dengan beberapa orang di sana. Dan bapak merekomendasikanmu sebagai salah satu dari sekian banyak calon penerima beasiswa ini.”


Dan bapak merekomendasikanmu sebagai salah satu dari sekian banyak calon penerima beasiswa ini. Kalimat pak Yasid itu selalu terngiang di telinga kak Arif. Bahkan sampai ia sudah berada di rumah.


“Kak, makan siang dulu. Inaq sudah memasak menu favorit kak Arif. Ikan tongkol goreng dan pelecing kangkung super pedas.”


Kak Arif menoleh. Sekejap berdiri dan menyusul Rahman meninggalkan kamar. Di dapur, Inaq telah menyiapkan menu makan siang.


“Duduk sini, kak. Saatnya menyantap masakan terbaik di dunia.”


Kak Arif mengacungkan jempol. Tepat sekali. Lalu duduk bersila. Rahman bergeser. Inaq hanya tersenyum mendengar pujian berlebihan dari kedua buah hatinya.


“Kau sudah menemui gurumu?”


Kak Arif mengangguk. Sudah. Ia hanya menawarkan beasiswa sekolah musik di pulau Jawa. Tapi kak Arif menolak tawaran itu. Rahman bingung. Tidak mengerti kenapa kak Arif tidak menerima saja kesempatan bagus ini.


“Kenapa, kak?”


“Kau saja yang kuliah. Belajar yang baik, supaya kau bisa jadi guru. Kalau bermusik bisa belajar sendiri. Di mana saja, dan tidak harus sekolah.”


Rahman menoleh. Inaq percaya. Sejak dulu kak Arif tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan. Sementara jauh di dalam hatinya, kak Arif sedikit menyesal karena keadaan memaksanya berbohong. Tidak ada salahnya berkorban demi Inaq dan adiknya, Rahman.


***


“Inaq, Rahman, Arif minta maaf. Ini tidak seperti yang kalian fikirkan.”


Inaq dan Rahman masih menangis. Kak Arif merasa terpukul. Sangat menyesal. Percuma, kejujuran terlanjur diucapkan.


Dengan segera, kak Arif duduk. Ia mencoba meyakinkan Inaq dan Rahman tentang alasan di balik kebohongannya selama ini. Ia berjanji, mulai detik ini ia tidak akan lagi menyembunyikan apapun dari Inaq dan Rahman.

__ADS_1


Inaq dan Rahman menoleh searah. Sekejap memeluk kak Arif. Syukurlah, keharmonisan keluarga kecil mereka masih sanggup dipertahankan.


***


__ADS_2