Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
21. Berjalan Tanpa Kaki


__ADS_3

“Saat kembali nanti, Arif akan mencoba mencari tahu di mana Diana dirawat. Atau mungkin saja bisa bertemu dengan ibunya lagi di pasar.”


Inaq terdiam. Batinnya belum cukup kuat untuk mengabarkan kebenaran tentang Diana kepada kak Arif. Terlebih kak Arif sebentar lagi harus tampil di atas panggung festival di kota provinsi. Bagaimanapun, kak Arif harus fokus mengejar mimpinya.


“Kau sudah siap tampil?”


Inaq berusaha mengalihkan pembicaraan. Kak Arif mengangguk. Sangat siap. Ia pun sengaja meracik ulang lagu barat yang menjadi satu syarat wajib dalam festival musik itu. Niatnya sebagai tanda bahwa ia memang benar-benar ingin menyemangati Diana yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Cold Play – Fix You.


Meski festival musik di kota provinsi tergolong event besar, kak Arif terlihat seolah tanpa beban. Baginya, sebesar atau sekecil apapun suatu event, yang terpenting adalah bagaimana supaya bisa tampil maksimal. Masalah menang-kalah urusan belakang. Dan selama ini ia telah dan masih melakukannya.

__ADS_1


Di sela membahas Diana, juga kesiapan kak Arif untuk tampil di atas panggung festival musik. Sebuah mobil keluarga tampak menepi tepat di depan rumah. Itu adalah Rahman dan Doni. Sekejap mereka turun dari mobil, lalu menghampiri Inaq dan kak Arif.


Seperti biasa dan dengan kebiasaan yang masih sama. Rahman berucap salam sembari mencium tangan Inaq. Diikuti Doni. Tidak lupa basa-basi menanyakan tentang kesiapan kak Arif sebelum akhirnya Inaq menawarkan mereka untuk sekedar menikmati hidangan khas pedesaan. Doni paling semangat menanggapi tawaran itu. Yang lain hanya tertawa.


Kurang dari satu jam terhitung sejak Rahman dan Doni turun dari mobil. Hidangan khas pedesaan sudah tidak tersisa. Doni mengabarkan kepada kak Arif, juga Inaq bahwa kemungkinan esok sore giliran kak Arif tampil dalam festival musik di kota provinsi. Rahman mengangguk. Kak Arif mengerti. Inaq beranjak membungkus singkong untuk dibawa sebagai buah tangan yang akan diberikan kepada Doni dan keluarganya. Lantas mereka berangkat bersama-sama menuju kota provinsi.


Berbeda dengan Rahman, Doni, ataupun Inaq. Sepanjang perjalanan kak Arif selalu sempat memperhatikan setiap sudut persimpangan jalan. Di perbatasan pertama, ia melihat puluhan orang berjejer menjajakan singkong. Namun yang membuatnya tersentuh adalah ketika melihat dua anak kecil, perempuan dan laki-laki turut andil dalam menjajakan singkong. Padahal hari ini bukan hari libur sekolah.


Sebentar lagi roda-roda mobil keluarga keluaran Jepang ini akan melintasi perbatasan terakhir. Itu artinya, rumah Doni tidak jauh lagi. Inikah dia kawasan perkotaan? Tidak ada orang yang berjejer menjajakan singkong. Tidak ada bilik-bilik kecil semi permanen berdiri memenuhi trotoar jalan. Di sini hanya terlihat bangunan-bangunan tinggi yang seolah menutup segala perjuangan di belakang sana.

__ADS_1


Kak Arif termenung. Ia mengingat dirinya dan Rahman sewaktu masih kecil dulu. Ia tidak melupakan Inaq yang kini semakin tua, namun masih terus berjuang demi kelangsungan hidup mereka. Nyatanya, meski putus asa tidak pernah ada, rasanya setiap langkah perjuangan mereka terlalu kecil untuk dapat menjangkau puncak bangunan-bangunan yang tinggi. Seperti halnya berjalan tanpa kaki.


“Selamat datang di rumah Doni.”


Doni turun. Ia mengatupkan kedua tangannya seperti halnya perempuan-perempuan yang biasa telihat berdiri menyambut kedatangan tamu di hotel. Diikuti Rahman. Ia membukakan pintu mobil untuk Inaq.


“Kak Arif, ayo turun. Kita sudah sampai.”


Kak Arif menoleh. Rahman mengagetkannya dari balik jendela mobil. Kak Arif pun turun membawa gitar kesayangannya yang masih terbungkus tas. Lantas menyusul Doni, Rahman, juga Inaq memasuki rumah keluarga Doni.

__ADS_1


***


__ADS_2