
Hari ini, kak Arif genap berusia empat tahun. Rahman masih terlelap saat kak Arif merengek ingin ikut bersama Amaq ke sawah. Salah Amaq juga yang menceritakan kepada kak Arif betapa indahnya pemandangan di sawah.
Tentang hijaunya rerumputan, menguningnya padi-padi, banyaknya belalang berkejaran, sejuknya kipas alam, sampai suara gemericik air kolam tempat ikan-ikan bermain.
“Arif mau ikut! Amaq sudah berjanji mau mengajak Arif ke sawah.”
Kak Arif memeluk kaki Amaq. Kepalanya mendongak. Menatap penuh harap. Sedikit memelas agar Amaq mau membawanya ikut ke sawah.
“Nak, nanti Amaq pasti mengajakmu.”
Amaq berjongkok. Berusaha meyakinkan anak sulungnya.
“Tapi kapan?” Kak Arif tetap bersikeras ingin ikut.
“Nanti. Sebagai gantinya, Amaq akan buatkan sesuatu sebagai hadiah ulang tahunmu.” Lanjut Amaq mengelus rambut kak Arif. Baiklah. Kak Arif setuju.
Setelah berpamitan kepada Inaq, Amaq beranjak meninggalkan rumah. Ia menyempatkan diri mencium kening anak sulungnya dan berpesan agar kak Arif menjaga Inaq, juga adiknya.
Kak Arif mengangguk polos seakan ia memang benar-benar bisa menjadi pelindung bagi Inaq dan Rahman. Inaq hanya tersenyum melihat tingkah kak Arif. Terlebih ketika kak Arif berusaha meyakinkan Amaq dengan mempertontonkan otot kedua tangan mungilnya.
Pagi nan indah kembali datang menyapa desa. Kicauan burung-burung terdengar merdu dari balik pepohonan. Menjelma sebagai pengiring bagi ayam jantan yang sedang menggoda betinanya. Sesekali terdengar lenguhan sapi dari balik kandang milik pak tani. Inilah orkestra alam pedesaan.
Tegur sapa ramah sesama penggarap sawah pun tidak pernah putus sepanjang perjalanan. Bukan hanya sesama penduduk satu desa. Hal semacam ini berlaku pula bagi penduduk desa seberang. Sebagai catatan, penduduk desa yang satu dengan desa lain pada waktu itu memang benar-benar saling mengenal.
Amaq tidak berbohong kepada kak Arif. Pemandangan di sawah memang begitu indah. Butir-butir embun yang tersisa di ujung daun dan rerumputan bagaikan taburan berlian. Hamparan padi-padi yang menguning sungguh sangat memanjakan mata.
Musim panen telah tiba. Puluhan petani berotot kekar terlihat mempersiapkan peralatan panen tradisional. Senyuman mereka menambah keindahan di luasnya tanah persawahan. Musim panen, musim memetik harapan. Musim dimana perjuangan dan pengorbanan selama menanam, merawat, serta menjaga padi menuai hasil maksimal.
__ADS_1
Amaq pun demikian. Ia ikut bahagia sebab sawah milik pak Karim yang digarapnya memberi hasil memuaskan. Amaq memang terkenal sebagai petani yang telaten mengurus tanaman. Selain itu, ia juga merupakan orang kepercayaan pak Karim berkat kejujurannya.
Hari beranjak siang. Tubuh kekar para petani desa mengkilap karena keringat. Mereka sudah terbiasa seperti ini. Panasnya sinar mentari tidak menyurutkan semangat mereka dalam memetik harapan yang terkandung di setiap butir biji padi.
Sebentar lagi, padi-padi habis dipanen. Artinya, tugas para petani selanjutnya adalah mengemas biji-biji padi yang telah terpisah dari tangkainya ke dalam karung berukuran cukup besar. Untuk kemudian ditukar dengan rupiah. Sebagian sisanya disimpan di lumbung desa sebagai tabungan bersama demi mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja.
Butir-butir padi kini telah terkemas rapi. Keindahan alam pedesaan saling bergantian memanjakan mata para petani. Di sudut sana, sekawanan burung bangau terbang rendah melayang. Sesekali bermanuver. Menyisir setiap jengkal tanah persawahan. Sudut lainnya, empat orang petani bertubuh kekar, termasuk Amaq bahu membahu mengangkat karung berisi padi menuju tepian jalan tanah pedesaan. Satu per satu. Bolak balik. Habis.
Dengarlah. Di sela kerasnya hembusan nafas, ucapan syukur terus keluar dari mulut mereka. Hasil panen yang melimpah. Inilah buah kerjasama antar petani penghuni desa.
Sebelum meninggalkan persawahan. Ketika sedang duduk melingkar beralaskan rerumputan, Amaq beranjak dari kumpulan saudara-saudara se-profesinya. Ia tidak lupa akan janji yang diucapkan kepada anak sulungnya.
Dari mereka, tidak ada tanya mengiringi langkah Amaq menjauh. Tidak sejauh itu, sebab mata mereka masih bisa menyaksikan gerakan tangan Amaq membelah dan meraut bambu yang telah tua menguning. Juga menyaksikan ketelatenan Amaq mengikat tali-tali pada bambu yang telah teraut halus. Jadilah karya sederhana sebagai hadiah ulang tahun anak sulungnya.
“Jak de kadu kembe tie? (Untuk apa Amaq buat itu?)”
“Nike jak tiang beng kanak kodek nu lek bale. (Saya akan memberikannya kepada anak saya di rumah)”
Amaq tersenyum menjawab pertanyaan dari saudara se-profesinya.
Hari telah senja. Tumpukan karung padi siap diangkut menggunakan cidomo tanpa atap (alat transportasi yang saat ini keberadaannya jarang terlihat). Lingkaran lelah para petani mulai terombak. Waktunya pulang, meninggalkan segenap keindahan alam persawahan desa untuk kembali dinikmati lagi esok hari.
Sesampai di rumah, Amaq langsung disambut oleh kak Arif yang sedari tadi menunggu kepulangannya. Ia sangat senang menerima sebuah gitar bambu buatan Amaq.
Tiba-tiba Rahman menangis sambil berlari memeluk Inaq. Amaq meninggalkan kak Arif yang sedang bahagia memainkan mainan barunya. Dan segera menghampiri Rahman yang semakin terisak tangis di ketiak Inaq.
“Sini, nak. Adikmu mau pinjam mainannya. Sebentar dikembalikan.”
__ADS_1
Inaq berucap pelan kepada kak Arif. Belum juga puas memainkan hadiah ulang tahunnya dari Amaq. Namun ia harus rela meminjamkannya kepada Rahman. Lagipula kak Arif tidak lupa akan janjinya pada Amaq pagi tadi bahwa ia bisa melindungi Inaq dan adiknya.
“Tidak usah. Simpan saja itu untukmu.”
Amaq mengelus rambut kak Arif. Ia bangga memiliki anak seperti mereka. Ketika yang satu menangis, yang satu menenangkan. Ketika yang satu lemah, yang satu menguatkan.
“Ini untuk Rahman.”
Rahman menoleh. Ia mengangkat kepalanya dari ketiak Inaq. Sekejap menyambar pemberian Amaq. Kak Arif senang karena ternyata Amaq membuat mainan serupa untuk adiknya.
Akhirnya mereka berdua memainkan gitar sederhana pemberian Amaq bersama. Walau tidak semahir duo Graham Russell dan Russell Hitchcock, namun mereka benar-benar menikmati kesenangannya.
Lihatlah. Wajah murung kak Arif tidak terlihat lagi. Di sudut mata Rahman, tidak ada setetes air mata pun yang tertinggal. Semuanya berganti bahagia.
***
“Inaq, Inaq. Inaq kenapa?”
Inaq terkejut. Rahman menyeretnya keluar dari kenangan indah dua puluh tahun silam.
“Eh, itu. Erg, Inaq tidak apa-apa.”
Inaq tersenyum. Sedikit malu. Sungguh, seandainya Amaq masih ada, keharmonisan seperti keluarga besar Doni mungkin bisa dirasakan saat ini.
Sudahlah. Semua itu hanya akan terulang ketika Inaq kembali menyelami lautan kenangan bersama Amaq saat ia masih bersamanya. Yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan selanjutnya tanpa mengabaikan teladan yang pernah diajarkan oleh Amaq.
Makan malam bersama keluarga besar Doni telah usai. Mas Firmansyah dan istrinya, juga Raka tidak menginap. Tidak lama, mereka beranjak tidur. Doni mengajak Rahman dan kak Arif tidur di kamarnya. Sementara Inaq memilih tidur bersama bibi di kamar tamu.
__ADS_1
***