Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
29. Dua Kabar Memilukan


__ADS_3

“Kak, aku masih punya tabungan di rumah. Kak Arif bisa pakai itu dulu daripada harus menjual smartphone dan gitar pemberian Rahman ini.”


Kak Arif menoleh. Perkataan Doni seakan menempatkan dirinya pada posisi paling belakang di kalangan para pejuang harapan.


Andai saja kak Arif tidak mengingat jasa-jasa Doni terhadap keluarganya. Seandainya kini kak Arif tidak sedang berada di kursi sebelah kiri mobil Doni, ia tentu saja sudah meninggalkan Doni. Sebab kak Arif bukanlah orang yang dengan mudah menerima bantuan dari orang lain sekali pun itu sahabatnya. Apalagi Doni, sahabat adiknya. Kak Arif lebih memilih terus berjuang meski kenyataan memaksanya menyerah.


“Semuanya telah Inaq korbankan untukku dan adikku, sahabatmu. Lantas apa alasanku untuk tidak mengorbankan segala yang aku miliki untuk Inaq?”


Sekejap Doni terdiam. Ia membayangkan betapa beratnya beban hidup yang dipikul oleh kak Arif, juga sahabatnya. Kenapa kak Arif sulit sekali menerima uluran tangan dari orang lain? Entahlah. Doni menghela nafas. Sekali lagi, ia menoleh ke arah kak Arif. Inikah yang dinamakan pejuang, ketika terus maju dalam berperang meski tanpa perisai di tangan?


Sepuluh menit melaju di atas jalanan beraspal, Doni mengarahkan mobil ke tepian trotoar, tepat di depan pasar loak. Tidak ada keraguan terlihat di wajah kak Arif. Sesaat setelah mobil berhenti, kak Arif dengan tenang melangkahkan kaki keluar. Ia membawa gitar pemberian Rahman, juga smartphone milik Rahman yang disimpan di dalam sakunya. Sementara Doni masih terpaku di balik setir mobil milik ayahnya.


“Don, ayo!”


“Oh, iya kak.”


Doni sedikit terkejut, namun segera bangkit menyususl kak Arif. Mereka pun perlahan memasuki kawasan pasar loak nan ramai itu. Berharap apa yang akan dijual mendapatkan tawaran yang sesuai. Sayang, satu per satu pedagang ditawarkan, satu per satu pula penolakan menjadi jawaban.


***


“Inaq, bangun dulu. Ini Rahman sudah masak mie instan buat Inaq.”


Rahman meletakkan semangkuk mie instan di meja dekat tempat tidur. Sekali lagi, ia mengelus pipi keriput Inaq. Dan berusaha membangunkannya.


“Inaq, Inaq.”


Tetap sama. Inaq tidak juga membuka mata. Biarlah Inaq istirahat dulu. Rahman menutup mie instan dengan sebuah piring besi. Ia juga menutup teh hangat di cangkir hijau tua bercorak bunga itu. Lalu beranjak meninggalkan kamar Inaq.

__ADS_1


Kenapa kak Arif begitu lama? Sudah hampir dua jam ia meninggalkan rumah. Padahal jarak dari rumah sampai pasar loak tidak lebih dari lima belas menit saja. Rahman mengalihan fikirannya. Sesekali keluar melihat jalan. Tapi tetap tidak melihat ada mobil terparkir di depan rumah.


“Ya Allah, kuatkanlah kami.”


Ia berucap pelan. Kepalanya mendongak ke langit. Matanya berkaca-kaca. Helaan nafasnya semakin berat. Begitu pula langkahnya. Berat, bertambah berat memasuki kamar Inaq.


***


Tadi, dua jam sebelum kak Arif pergi bersama Doni, Inaq mengabarkan kepada kak Arif kebenaran tentang Diana. Kak Arif terkejut, tidak percaya. Mana mungkin wanita yang ditemui di pasar tradisional begitu cepat meninggalkan dunia untuk selamanya. Bukankah waktu itu ia terlihat baik-baik saja? Kak Arif seakan lupa bahwa ajal bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja.


Surat itu! Kak Arif bangkit. Lantas beranjak ke kamar mengambil selembar kertas yang sengaja ditaruh di bawah tumpukan baju-bajunya. Ditatapnya lagi surat itu, namun tidak dibaca. Sebab ia masih mengingat setiap penggal kata yang tertulis dalam surat itu. Ia hanya menatap dalam ke arah lipatan kertas sambil terus memaksa hatinya untuk percaya. Sampai akhirnya tersadar akan satu dari sekian banyak rahasia Illahi, ajal memang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Yah, lagipula untuk apa Inaq berbohong tentang hal ini?


Kak Arif tentu saja bersedih karena telah ditinggal pergi oleh wanita yang belum sempat berkenalan secara langsung dengannya. Namun kesedihan itu tidak seberapa dibanding dengan kesedihan ketika mendengar seutas kalimat lain yang keluar dari bibir pucat Inaq.


“Seharusnya Inaq yang bertanggungjawab melakukan semua ini. Tapi Inaq senang karena sekarang Rahman sudah bisa memiliki hape baru.”


Inaq tersenyum. Ia menatap wajah putra bungsunya.


“Inaq, Inaq tidak perlu berkata seperti itu. Arif tidak pernah mempermasalahkan gitar ini pemberian siapa? Lagipula, tanpa gitar baru ini pun Arif masih bisa bernyanyi untuk Inaq.”


“Sejak dulu, Inaq selalu ingin mempersembahkan sesuatu yang bisa mengukir senyuman di wajah kalian. Tapi nyatanya Inaq tidak mampu.”


Jatuh sudah butiran air suci dari sudut mata yang tadinya berkaca-kaca. Bibir nan pucat itu pun tampak bergetar.


“Inaq, jangan...”


“Untuk mewujudkan keingainan Inaq sendiri pun Inaq tidak mampu. Sejujurnya, Inaq telah berjanji jikalau suatu saat nanti Inaq akan mewujudkan keinginan-keinginan kalian. Barulah setelahnya Inaq akan membeli hewan ternak. Inaq ingin berkurban di Hari Raya Idul Adha nanti.” Inaq melanjutkan perkataannya, tanpa memberi kesempatan bagi kak Arif untuk menguatkannya.

__ADS_1


Hancur sudah hati kak Arif mendengar perkataan Inaq. Helaan nafasnya terdengar begitu keras, berat, semakin berat. Ia menoleh, memalingkan wajahnya ke arah Rahman yang sedang duduk. Kak Arif tahu bahwa adiknya sedang menangis. Sekejap memalingkan wajahnya ke arah wanita tua yang baru saja mengutarakan kesenangan serta keinginannya itu. Dan Doni ikut menangis seolah dirinya lah yang sedang menghadapi beban mental seperti yang dialami oleh keluarga kecil sahabatnya.


***


“Kak, harga smartphone itu mahal. Gitar itu juga dibeli Rahman dengan harga yang mahal. Kenapa kak Arif mau melepasnya dengan harga murah?”


“Sudahlah, Don. Yang terpenting adalah aku sudah bisa membeli kambing ini.”


Kak Arif tidak mementingkan seberapa besar kerugiannya menjual smartphone, juga gitar pemberian adiknya itu. Ia lebih mementingkan keinginan mulia Inaq untuk berkurban.


“Tapi, kak...”


“Don, seumur hidupku sampai detik ini. Aku seolah tidak pernah sekalipun memikirkan seberapa banyak keinginan yang tertumpuk di dalam hati Inaq, ibu kandungku.”


Kak Arif menoleh. Ia menatap tajam ke arah Doni. Doni tertunduk. Tidak lagi berkomentar tentang barang mahal yang dijual murah.


“Aku hanya memikirkan kesenangan diriku sendiri. Aku berfikir apa yang telah aku lakukan selama ini sudah cukup mampu mengurangi beban Inaq. Ternyata aku salah. Aku salah, Don.


Tapi sekarang aku sadar, meskipun kita sudah merasa cukup bisa membantu orang tua kita untuk meringankan beban yang dipikulnya. Sesungguhnya kebanyakan dari kita lupa, bahwa ada keinginan-keinginan yang terselip di dalam hati mereka. Apakah kau pernah menggunakan lima detik waktumu untuk memikirkan tentang keinginan yang tidak diungkapkan oleh Ibumu? Atau Ayahmu?”


Kak Arif menghela nafas. Ia tidak bermaksud membentak, apalagi menggurui Doni. Tapi begitulah kak Arif. Ia hanya ingin agar Doni dapat berfikir tentang keinginan kedua orang tuanya meski mereka tidak mengungkapkannya. Pun kak Arif tidak ingin apa yang sedang dialaminya saat ini dialami juga oleh Doni, sahabat adik kandungnya.


“Kak,...”


Seperti halnya seorang anak kecil yang telah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan ibunya, Doni memeluk erat tubuh kak Arif. Ia menangis. Tersentuh dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh lelaki yang juga sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri.


“Sudahlah, Don. Maafkan aku. Sekarang lebih baik kita pulang.”

__ADS_1


Kak Arif memegang kedua sisi pundak Doni. Ia mengangguk mantap. Berusaha meyakinkan Doni bahwa semuanya akan baik-baik saja. Doni tersenyum. Ia menghusap air matanya dengan telapak tangan. Sekejap pulang membawa kambing jantan yang telah dibeli bersama kak Arif.


***


__ADS_2