Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
16. Kesempatan Emas


__ADS_3

“Kau mau lagu yang mana?”


Doni meminta kak Arif memainkan musik dangdut. Pasti seru, fikirnya. Rahman tertawa. Kak Arif tentu saja bisa. Dengan satu syarat, Doni harus berjoget. Setuju. Kak Arif pun langsung memainkan sebuah lagu lama dari sang Raja dangdut Rhoma Irama - Darah Muda.


Di bawah redupnya lampu kamar, kerasnya gelak tawa kak Arif dan Rahman mengusik sepasang jangkrik yang sedang bercumbu di balik rerumputan. Sepasang serangga terlihat terbang dan berputar-putar di atas kepala. Seperti berdansa, ikut menikmati kesenangan kakak beradik yang sedang tertawa menyaksikan tubuh gempal Doni bergoyang.


Gitar masih terus dimainkan oleh kak Arif. Lirik lagu sengaja diulang-ulang. Rahman menambah keseruan dengan menyodorkan sebuah pulpen kepada Doni. Spontan, Doni seolah sedang memainkan seruling.


“Stop, kak. Stop!”


Doni menghentikan goyangannya, lalu duduk bersandar di dinding. Kedua kakinya diluruskan. Butiran-butiran keringat terlihat membasahi wajah dan bagian atas tubuhnya. Sekejap, suara gelak tawa terhenti walau sepasang serangga masih asyik berdansa di atas kepala.


***


“Halo, Don. Kau sudah memberitahunya, belum? Bukan Rahman, tapi kakaknya. Kenapa harus tunggu sampai nanti malam? Baiklah. Aku hanya ingin melihat penampilannya di atas panggung.”


Sore tadi, saat sedang dalam perjalanan pulang dari sungai, Doni mendapatkan telepon dari mas Firmansyah. Ia berpesan agar Doni mengabarkan kepada kak Arif tentang festival musik yang akan diadakan di kota provinsi.


Selain karena tertarik dengan cerita Rahman yang mengatakan bahwa kak Arif adalah pemain gitar sekaligus penyanyi yang hebat, mas Firmansyah juga penasaran dengan ucapan kak Arif yang memperkenalkan dirinya sebagai calon musisi terkenal.


Mas Firmansyah adalah kakak kandung Doni. Ia memiliki sebuah sekolah musik di kota provinsi, dan sengaja mengadakan festival musik untuk mencari seseorang yang pantas menjadi perwakilan sekolah musik miliknya pada gelaran National Music Fest di Jakarta.


Pertemuan kak Arif dengan mas Firmansyah di pasar tradisional itu bukanlah suatu kebetulan. Sebab sehari sebelum Rahman dan Doni berlibur, Rahman memberikan alamat rumahnya kepada mas Firmansyah. Namun rutinitas yang padat membuat mas Firmansyah tidak bisa langsung menemui kak Arif. Bahkan, sampai Rahman dan Doni kembali dari Gunung Rinjani pun, mas Firmansyah belum juga menemui kak Arif.

__ADS_1


Sampai hari itu, mas Firmansyah menyempatkan diri berkunjung ke alamat yang diberikan oleh Rahman. Tapi di sana, ia tidak menemukan siapa-siapa. Bagaimana tidak, hari itu Inaq sedang menghadiri pernikahan anak pertama pak Kades. Rahman sedang dalam perjalanan menuju pulang. Sementara kak Arif sedang asyik bercanda gurau bersama ibu-ibu calon pembelinya yang sama sekali tidak terbuai dengan harga spesial yang ditawarkan. Beruntung, tetangga mereka, bang Setiawan berbaik hati mengantarkan mas Firmansyah menemui kak Arif di pasar tradisional.


***


“Ini, Don. Aku tidak ingin mendengar berita tentang seorang remaja bertubuh gempal meninggal gara-gara sepasang kakak beradik memaksanya terus bergoyang.”


Doni menatap sinis. Rahman kembali ke kamar kak Arif dengan membawa segelas air dan memberikannya kepada Doni, sambil tertawa. Kak Arif menghabiskan sisa-sisa senyuman di wajahnya.


Alhamdulillah. Setelah merasa lega, Doni mengabarkan langsung kepada kak Arif tentang festival musik yang akan diadakan di kota provinsi sana. Tanpa menyelipkan nama kakak kandungnya. Doni melengkapi penjelasannya dengan iming-iming hadiah besar. Dan pemenang pertama akan dikirim ke Jakarta.


“Kalau kak Arif tertarik, kak Arif hanya perlu mempersiapkan diri saja. Sisanya serahkan kepada kami berdua. Bagaimana, bung?”


Pesan mas Firmansyah tersampaikan. Doni menoleh ke arah Rahman yang masih berdiri membelakangi pintu kamar. Rahman tidak berkomentar. Hanya mengangguk. Kak Arif tertarik, sekaligus merasa tertantang. Ini adalah kesempatan emas.


“Kalimatmu salah! Mereka semua bukan saingannya. Kak Arif terlalu hebat untuk mereka.”


Doni menoleh. Bangga memiliki sahabat seperti Rahman yang selalu konsisten mengakui kehebatan kakak kandungnya. Kalaupun nantinya tidak terpilih, Rahman yakin kak Arif akan menjadi pesaing kuat dalam festival musik yang diadakan oleh mas Firmansyah ini.


Di tengah kerumunan banyak orang, Rahman dan Doni terlihat sibuk membahas tentang kak Arif. Pujian demi pujian keluar dari mulut keduanya. Tidak ada rasa bosan meski nomor antrean masih cukup panjang.


Satu per satu, setengah antrean berkurang. Satu per satu, tersisa satu orang saja di depan. Sementara di belakang, terhitung ada sebelas orang yang belum mendapat giliran untuk mendaftar.


Sejak pagi tadi, hingga hari menjelang siang. Rahman dan Doni tetap semangat menunggu giliran untuk mendaftar. Sama semangatnya dengan kak Arif dan Inaq dalam menghitung laba sepulang berjualan kangkung di pasar tradisional.

__ADS_1


“Inaq, kemungkinan Arif akan mengikuti festival musik di kota provinsi sana. Siapa tahudengan cara seperti ini bisa mewujudkan impian Arif menjadi seorang musisi terkenal.”


“Inaq sudah mendengar hal itu dari adikmu. Lagipula, Inaq tidak punya alasan untuk melarangmu pergi. Laba-laba kecil tidak akan pernah berhenti merajut ulang sarangnya, meski telah berulang kali dirusak oleh tangan nakal bocah laki-laki itu.”


Inaq tersenyum. Ia mengingatkan tentang pelajaran berharga yang dijelaskan oleh Amaq kepada Arif kecil dulu. Saat mereka belajar mengaji di sela menantikan datangnya waktu untuk menunaikan shalat Isya.


“Selamat berjuang, nak. Inaq akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.” Lanjut Inaq sambil mengelus rambut kak Arif.


Inaq percaya, kedua buah hatinya tidak akan mengecewakan mereka. Kak Arif terharu. Lantas memeluk Inaq. Dalam pelukan Inaq, kak Arif benar-benar menemukanarti dari sebuah ketulusan dan keikhlasan seorang ibu. Seketika itu juga, suasana haru menyelimuti keduanya.


***


“Kau tenang saja. Aku hafal mati bagaimana kak Arif. Peduli apa kak Arif masalah nama? Tunggu! Kau fikir nama ini tidak bagus?”


Doni menggeleng. Bukan kah tadi Doni juga mendengar sendiri pernyataan panitia pendaftaran yang mengatakan bahwa nama yang dituliskan oleh Rahman itu termasuk nama yang unik? Tentu saja Doni tidak memiliki alasan untuk tidak suka dengan nama yang diberikan Rahman kepada kak Arif.


“Rahman, kau tidak pernah mempersiapkan sebuah nama panggung untuk kak Arif sebelumnya, kan?”


Rahman mengangguk. Benar, WSS itu lahir di sini. Doni tersenyum. Rambut Rahman diacak-acak. Luar biasa. Dalam waktu sesingkat itu, Rahman mampu menciptakan sebuah nama yang melukiskan kenyataan sebenarnya.


“Eh, tapi aku lupa. WSS itu singkatan dari apa?”


“Water Spinach Seller. Penjual kangkung.” Jawab Rahman. Serentak, langkah kaki mereka menuju rumah Doni diiringi oleh tawa.

__ADS_1


***


__ADS_2