Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
17. Ikrar Berdua


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju pulang, kak Arif memilih singgah di sebuah bangunan kecil yang sepertinya sudah lama tidak ditempati pemiliknya. Dan tanpa memikirkan alasan persinggahannya, kak Arif langsung duduk menikmati sepotong roti berisi cokelat keju yang dikeluarkan dari dalam ransel hitam berlogo Nike.


Sepintas, dari seberang jalan terlihat seorang gadis berkerudung sedang memandang ke arahnya. Kak Arif menunduk. Kedua matanya bergerak menyusuri sekujur tubuhnya, dari ujung kaki hingga pundak. Kak Arif hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan penampilannya hari ini. Dan yah, memang tidak ada. Biarlah, kak Arif mengacuhkan gadis itu.


Bukan! Kak Arif tidak termasuk ke dalam golongan kaum Luth yang menyukai sesama jenis, lagi terkutuk. Tidak juga termasuk ke dalam golongan yang tidak menyukai lawan jenis. Tapi sampai saat ini, kak Arif memang tidak pernah mendekati gadis manapun. Alasannya sederhana, kak Arif hanya ingin fokus untuk mewujudkan impian besarnya menjadi seorang musisi terkenal.


Tidak berselang lama, sebuah sapaan terbang bersama angin. Kak Arif mendongak. Sedikit terkejut, karena tidak mendengar langkah mendekat. Namun gadis berkerudung itu kini tengah tersenyum tepat di hadapannya. Sayang, kak Arif hanya merespon dengan diam.


Detik demi detik terus berputar mengitari sebuah jam tangan yang melekat pada pergelangan tangan kiri kak Arif. Waktu terus berjalan, tapi kak Arif tetap memilih terdiam.


“Aku Diana.” Gadis berkerudung itu melanjutkan usahanya dengan harapan bisa mengusir diam. Berhasil,karena uluran tangannya disambut oleh kak Arif yang sekaligus memperkenalkan dirinya.


Tidak dapat dipungkiri, kak Arif merasa ada getaran berbeda yang hadir di dalam hatinya saat berjabat tangan dengan Diana. Pun getaran seperti itu tidak pernah dirasakan sebelumnya. Sama sekali tidak pernah!


Sejak saat itu, kak Arif hanya akan terdiam ketika sedang mendengarkan setiap cerita dari Diana. Sebaliknya, ketika kak Arif bercerita tentang banyak tema, Diana selalu saja berkata-kata di tengah cerita. Tapi bagaimana pun, pertemuan singkat itu menjadi awal kedekatan antara keduanya.


Sekali waktu, Diana pernah bercerita tentang keinginannya memiliki seorang saudara. Sayang, peristiwa naas yang dialami oleh orang tuanya dua tahun lalu mengharuskan Diana rela menjadi anak satu-satunya dari sepasang pengusaha. Pasca kecelakaan pesawat itu, ibunya divonis mengalami kerusakan pada dinding rahim. Hal itu menyebabkannya tidak bisa lagi melahirkan seorang anak sekalipun. Kesedihan terlihat di mata Diana ketika mengulang cerita yang sama.


Hari ini, tepat satu tahun kak Arif mengenal Diana. Jauh sebelum datangnya hari ini, kak Arif berencana mengajak Diana ke suatu tempat dimana pertama kali mereka bertemu. Kak Arif merasa Diana telah melupakan hari itu.


Kak Arif salah. Saat ajakannya belum sempat diutarakan, Diana telah lebih dulu memarkir mobilnya di depan rumah. Bahkan, Dianaterlihat memakai pakaian yang juga dipakai saat mereka pertama kali bertemu, satu tahun silam.

__ADS_1


“Hei, Arif. Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat.”


Diana menghampiri kak Arif. Tersenyum. Tidak ada yang berubah. Diana tetap terlihat cantik dengan kerudung yang menutupi rambutnya. Nada suaranya pun masih sama. Sopan dan lemah lembut. Secara umum, laki-laki normal mana yang tidak berkeinginan untuk memiliki seorang gadis seperti Diana?


“Oh, hei Diana. Just wait a minutes.”


Diana mengangguk. Kak Arif kembali ke kamar. Tadinya, kak Arif sudah berpakaian rapi. Namun melihat penampilan Diana, kak Arif berubah fikiran. Ia mengganti setelan rapinya dengan pakaian yang dipakai saat pertama menyambut uluran tangan Diana. Kak Arif yakin, Diana pasti mengerti alasannya.


Tidak sampai lima menit. Kak Arif keluar menggunakan celana jeans hitam berbalut kaos oblong merah. Pun kak Arif melengkapi penampilannya dengan membawa sebuah ransel hitam berlogo Nike.


Tidak ada lagi kejutan. Sebab kak Arif dan Diana sama-sama tahu tentang keistimewaan di balik hari ini. Walau dalam perjalanan, mereka lebih memilih untuk sama-sama terdiam.


Diana menoleh. Kedua tangannya tetap santai mengendalikan setir mobil. Kemudian tersenyum. Lantas kembali fokus menatap medan jalan. Meski pertanyaan kak Arif tidak dijawab, Diana yakin kalau kak Arif tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.


“Pakaianmu aneh!”


Sekejap kak Arif dan Diana terdiam. Wajah mereka saling bertatapan. Hanya mata bertemu mata. Hanya hati menyimpan getaran cinta. Hening.


Sedetik. Dua detik. Mereka berdua tertawa karena mengucapkan kata yang sama, bersamaan.


Sesampai di tujuan, kak Arif dan Diana turun dari mobil. Mereka berjalan menuju sebuah bangunan kecil yang sepertinya sudah lama tidak ditempati. Tidak lama. Diana mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Kak Arif membisu. Ia tidak menyangka, Diana bahkan mengingat ucapan pertamanya. Tidak berhenti sampai di situ. Karena dengan tangan yang masih menanti sambutan dari kak Arif, Diana melanjutkan ucapannya. “Hei, aku Diana. Dan aku menyayangimu!”


Tanpa menyambut uluran tangannya, kak Arif langsung menyambar tubuh Diana. Sekejap membisikkan satu kalimat balasan di telinganya. Dalam pelukan Diana, kak Arif menyadari bahwa tidak selamanya kehadiran seorang wanita itu akanmenjadi penghalang dalam meraih impian. Karena terkadang, kehadirannya justru membawa semangat baru untuk berjuang.


Tiba-tiba Diana melepas pelukannya dan berlari memasuki mobil. Kak Arif terkejut. Ia merasa perlakuannya telah membuat Diana marah. Beruntung, dugaan kak Arif salah. Karena ternyata Diana hanya ingin mengambil sebuah botol air mineral kosong di dalam mobilnya. Lalu kembali menghampiri kak Arif. Tangan kanannya terlihat menggenggam selembar kertas dan spidol hitam kecil. Diana kemudian membuat kesepakatan yang mendapat persetujuan dari kak Arif. Bahwa kak Arif akan menuliskan nama Diana dan Diana akan menuliskan nama kak Arif di kertas itu.


Sebelum menulis, kak Arif menyempatkan diri berucap maaf atas tindakan beberapa detik yang lalu. Diana tersenyum. Segera mengalihkan pandangannya ke arah kertas di tangan kak Arif.


Kak Arif mengerti, dan mulai menuliskan nama Diana. Tidak lama, selesai. Kertas itu kemudian dikembalikan kepada Diana yang langsung menuliskan nama kak Arif tepat di sebelah namanya. Diana kembali tersenyum. Selembar kertas kosong kini bertuliskan dua nama; DianaArif. Lalu menggulungnya dan dimasukkan ke dalam botol air mineral tadi.


“Selanjutnya apa?”


Kak Arif bingung. Belum mengerti. Diana menoleh. Tidak menjawab. Hanya meletakkan botol berisi kertas bertuliskan dua nama itu persis di sudut tempat duduk mereka setahun yang lalu.


“Aku berharap kita bisa bersama selamanya, Arif.” Lanjut Diana. Matanya sedikit berair. Terharu. Sekejap menuntun kak Arif menuju mobilnya.


Di dalam mobil. Di tengah perjalanan menuju pulang. Kak Arif menyempatkan diri membalas ucapan Diana. Ia berusaha meyakinkan bahwa di dalam hatinya, Diana akan selalu ada.


Mereka pun sama-sama tersenyum, meninggalkan saksi bisu pertemuan pertama mereka. Dan berikrar untuk sama-sama berusaha menyatukan perasaan yang dulunya terpisah.


***

__ADS_1


__ADS_2