Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
27. Gelombang Kesadaran


__ADS_3

Kak Arif menyibak gorden kamar Inaq. Ia terdiam. Matanya menatap tubuh nan tua itu terbungkus selimut. Benarkah yang dikatakan Rahman bahwa Inaq baik-baik saja?


Perlahan, kak Arif meninggalkan kamar Inaq. Ia menghela nafas. Di hatinya terselip kekhawatiran akan perubahan drastis yang terjadi kepada Inaq. Padahal tadi pagi, Inaq terlihat baik-baik saja.


Hujan pagi ini telah reda. Dan hanya menyisakan ratusan m3 air yang tergenang memenuhi setiap jengkal lubang jalan, juga halaman depan rumah.


“Kak Arif mau kopi?”


Rahman menyapa saat kak Arif masih larut dalam kekhawatiran akan keadaan Inaq. Kak Arif menoleh. Tersenyum. Sejenak menghentikan langkah pelannya meninggalkan kamar Inaq. Kemudian mengangguk, mau.


Rahman membalas senyuman kak Arif. Ia beranjak ke dapur. Sementara kak Arif melanjutkan langkahnya menuju kamar. Di kamar, ia langsung mengeluarkan gitar kesayangannya dari dalam tas. Lalu dimainkan.

__ADS_1


Tidak ada syair lagu yang keluar dari mulut kak Arif. Ia hanya memetik susunan enam senar gitar dengan fasih, penuh penghayatan. Sesekali kepalanya mendongak. Mencoba meresapi setiap nada yang keluar dari hasil petikan tangannya.


“Ini kopinya, kak.”


Kak Arif setengah menoleh, merubah arah pandang ke adiknya. Sekali lagi, ia tersenyum. Tidak lupa berucap terima kasih. Rahman merespon dengan meletakkan gelas kopi di lantai. Dan duduk bersama kak Arif.


Tidak lama. Kak Arif meminta Rahman menceritakan tentang apa saja yang dikatakan Inaq saat ia tidak di rumah. Kini kak Arif memeluk gitar kesayangannya, tidak dimainkan. Ia fokus mendengar setiap penggal penjelasan yang keluar dari mulut adiknya yang berusaha meyakinkan bahwa memang benar Inaq hanya butuh istirahat.


Kekhawatiran kak Arif sedikit berkurang ketika Rahman tersenyum mengakhiri penjelasannya dengan kalimat; Inaq akan baik-baik saja.


Terus dan terus, seakan tarian tangan kak Arif tidak menemukan alasan untuk berhenti memetik keenam senar gitar kesayangannya. Walaupun suara nyanyian mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kesedihan yang suka tidak suka, harus mereka terima kehadirannya sebagai buah dari lagu yang mereka nyanyikan bersama.

__ADS_1


Terseret arus lirik lagu, ditambah terjangan keras gelombang kesadaran membuat keduanya terdiam. Benar-benar terdiam. Saling memandang. Hening. Kamar kak Arif seperti tidak lagi dihiasi poster-poster penyanyi idola, melainkan mata yang berkaca-kaca.


“Ekheem.”


Rahman berdehem. Ia bangkit. Meninggalkan kak Arif sendiri tanpa sempat berucap sepatah kata sekalipun. Entahlah. Kak Arif tidak tahu, tapi ia mengerti kenapa adik kandungnya seperti itu. Ia berfikir, mungkin Rahman tidak ingin terlihat menangis di hadapannya.


Kak Arif pun sama. Sejujurnya ia menahan air matanya agar tidak menetes di pipi. Ia berusaha menghindari terjangan keras gelombang kesadaran yang terasa semakin keras menghantam.


Benar kah penggalan syair lagu ternyata memang mampu merubah perasaan seseorang jika lagu tersebut seakan tercipta dari kenyataan yang sedang terjadi terhadap pelantun atau penikmat lagu itu sendiri?


Setidaknya begitulah perasaan yang dirasakan oleh kak Arif dan Rahman. Mereka bersedih, bahkan hampir menangis karena terlalu dalam menghayati setiap penggal syair yang terlahir dari tangan sang legenda musik Indonesia sekaligus menjadi penyanyi favorit kak Arif. Iwan Fals-Ibu.

__ADS_1


Bagaimana tidak, setiap penggal syair lagu itu mampu menghadirkan serpihan-serpihan perjuangan Inaq untuk mereka. Semakin dilanjutkan, serpihan perjuangan Inaq justru membentuk satu gambar utuh dalam benak keduanya. Semua itu harus dibalas meskipun tidak akan pernah bisa terbalaskan.


***


__ADS_2