Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
15. Kunjungan Kedua


__ADS_3

“Kau dimana? Tidak apa-apa, aku hanya ingin bilang kalau sekarang aku sedang di jalan menuju rumahmu. Tidak, tidak. Aku serius. Rencananya aku akan menginap di sana. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Nanti juga kau akan tahu sendiri. Bye.”


Doni menutup telepon. Rahman menghampiri Inaq di dapur untuk mengabarkan tentang Doni yang sedang berada dalam perjalanan menuju rumah mereka. Inaq tidak keberatan karena ia tahu siapa Doni. Rahman sering menceritakannya. Sekali waktu Doni juga pernah mampir di rumah sederhana mereka.


Pagi datang seperti biasa. Tidak ada yang berubah selain kak Arif yang mulai terbiasa ke pasar sendirian. Awan-awan putih tersebar luas menghiasi langit. Lekukan puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia nampak begitu jelas, sungguh menggoda untuk di daki. Jalan lintas pedesaan yang kini sudah teraspal tidak terlalu ramai dilalui kendaraan. Pagi di desa sangat jauh berbeda dengan pagi di kota provinsi sana.


“Waalaikumsalam.”


Inaq dan Rahman serentak menjawab salam. Rahman berjalan mendekati pintu. Ia heran, angin apa yang telah menerbangkan Doni sampai ke sini. Luar biasanya lagi, Doni sudah mengerti adab bertamu. Biasanya kalau di asrama, Doni asal masuk tanpa berucap salam.


“Aha, kau dengar?”


Inaq menyuruh Rahman mempersilahkan Doni masuk. Baiklah, Rahman berbalik. Mengajak Doni masuk ke kamar kak Arif. Sekejap merebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan tas punggungnya diletakkan sembarangan.


“Kau tidak pernah cerita kalau kak Arif suka Iwan Fals.”


Doni memutar kepalanya melihat sekeliling kamar kak Arif. Sok kagum. Rahman tersenyum. Tahu apa Doni tentang Iwan Fals?


“Silahkan, nak. Maaf, adanya hanya ini.”


“Inaq tidak perlu minta maaf. Rahman kan sudah cerita kalau Doni itu omnivora. Semua dimakan. Lihat saja badannya.”


Inaq tersenyum. Rahman mengambil dua gelas kopi panas dan sepiring singkong rebus dari tangan Inaq. Doni menoleh. Tertawa. Tidak tersinggung oleh perkataan sahabatnya. Lalu berterima kasih kepada Inaq.


Suguhan khas masyarakat pedesaan siap disantap. Aroma kopi menyentuh hidung. Kepulan asap singkong rebus menggugah selera. Hmm, jamuan yang melegenda kini sudah berada tepat di depan mata. Dan mampu mengalihkan fokus seorang Doni.

__ADS_1


Ia tidak lagi melihat poster-poster Iwan Fals. Matanya kini tertuju pada sepiring singkong rebus. Tangannya menyambar bagaikan kilat. Rahman menggeleng. Singkong itu masih panas, tapi Doni begitu lahap. Ia sudah menelan habis dua potong singkong, sementara Rahman baru setengah.


“Tidak usah malu. Ayo, dimakan singkongnya. Kopinya juga diminum. Nanti keburu dihinggapi lalat.”


Doni berlagak seperti tuan rumah. Rahman hanya bisa tersenyum, senang. Sahabatnya bisa nyaman meski rumah tempat tinggal mereka tidak semewah rumah Doni.


Hari beranjak siang.


Kak Arif pulang membawa sisa kangkung yang belum terjual. Tidak banyak, lima ikat saja. Ia beranjak ke dapur. Bakul kangkung diletakkan di lantai. Uang hasil berjualan hari ini diserahkan kepada Inaq. Kak Arif juga berniat memberikan uang tabungannya selama bekerja di kedai.


Inaq menolak. Tersenyum. Inaq ingat, kak Arif pernah berkata bahwa ia ingin memiliki gitar baru. Katanya, supaya si Blacky tidak kesepian. Itu alasan kak Arif saja, gitar tidak ada punya perasaan. Sebenarnya, dengan atau tanpa gitar baru pun, kak Arif tetap mahir memainkan jenis alat musik ini.


“Sini, kangkungnya Inaq masak saja buat makan siang. Kebetulan ada teman adikmu yang datang. Katanya mau menginap di sini.”


“Siapa? Doni?”


“Kau Doni, bukan? Kau jangan terlalu banyak makan. Kalau tidak perutmu bisa meledak!”


Kak Arif menjahili Doni. Segera, tangannya meraih gitar kesayangan yang bersandar di dinding. Doni mengangguk. Mulutnya masih dipenuhi singkong rebus. Rahman tertawa. Kak Arif bisa saja.


Seruan-seruan kecil terdengar memuji dari dalam kamar. Bagi Rahman, hal seperti itu sudah biasa. Tapi bagi Doni, ini merupakan kali pertama ia mendengar langsung suara dan petikan gitar kak Arif. Dimanapun, kalau kak Arif sudah bernyanyi dan memainkan gitar, ia selalu mampu membawakannya dengan penuh penghayatan. Seakan lagu-lagu itu diciptakan untuk dirinya. Iwan Fals-Siang Seberang Istana. Kak Arif menghentikan petikan gitarnya. Lagu berakhir.


“Arif, Rahman, mari makan dulu.”


Rahman berdiri, diikuti Doni. Kak Arif meletakkan kembali gitar kesayangannya ke tempat semula. Lalu mereka bergegas memenuhi panggilan Inaq untuk makan siang bersama.

__ADS_1


Selepas makan siang.


Inaq memilih beristirahat. Rahman dan Doni berangkat ke sungai. Hari ini, mereka yang akan mengambil alih tugas kak Arif. Kak Arif tidak keberatan. Di sungai sana, Rahman dan Doni tidak perlu khawatir akan kepanasan. Serumpun bambu, pohon pinang besar, air sungai yang jernih, semua itu sudah lebih dari cukup untuk menghalau terik matahari.


Lima menit berlalu. Separuh jalan menuju sungai terlewati.


Sepuluh menit berjalan. Mereka telah sampai.


Rahman meletakkan karung dan tali yang dibawa dari rumah. Rengkapan dikeluarkan dari saku celana. Doni duduk bersandar pada batang pohon pinang. Matanya melihat susunan bebatuan sungai yang membentuk persegi. Dalam susunan bebatuan, hijaunya kangkung menutupi permukaan air. Angin bertiup pelan, serumpun bambu saling bergesekan, daun-daun pohon pinang bergoyang, dan air sungai yang mengalir begitu jernih. Kak Arif benar, sungai di sini menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan.


“Bukankah tadi kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?”


Sambil memetik kangkung, Rahman mencoba mencari tahu tentang apa yang ingin disampaikan oleh sahabatnya. Doni tidak menjawab. Sekali lagi. Rahman mengulang pertanyaan yang sama. Tetap tidak ada jawaban.


Dasar pemalas! Ternyata masih ada orang kaya seperti ini. Apa pula yang membuat Doni terlihat begitu nyaman terlelap dalam keadaan duduk bersandar pada batang pohon pinang. Aduh, Rahman tersenyum. Melanjutkan aktivitas musimannya.


Setelah merasa cukup, Rahman beranjak ke pinggir sungai. Kedua tangannya mengikat kangkung-kangkung segar yang baru saja dipetik. Aha, melihat Doni masih tertidur, ide jahil Rahman muncul dengan sendirinya. Kapan lagi ada kesempatan untuk menjahili seorang calon Presiden?


“Don, cepat lari! Tolong! Tolong! Banjirrrrr!”


Doni terbangun. Sekejap berlari. Kalian lihat? Bahkan dengan tubuh gempalnya, Doni mampu berlari secepat sprinter kelas dunia. Hanya sebentar saja, karena Doni kembali tersadar dan berbalik menghampiri sahabatnya. Padahal di dalam mimpi siangnya, Doni hanya menunggu hari untuk dilantik menjadi seorang Presiden.


Rahman tertawa. Sebagai seorang Presiden yang baik, maka tidak selayaknya tidur di saat rakyat sedang bekerja.


Waktu shalat ashar segera tiba. Mereka memutuskan untuk pulang. Dan demi menebus kesalahannya, Doni menawarkan diri untuk membawa kangkung-kangkung segar yang baru dipetik oleh Rahman sampai rumah. Angap saja sebagai hukuman karena tadi ia tertidur saat sahabatnya sedang bekerja. Rahman setuju. Dengan senang hati.

__ADS_1


***


__ADS_2