
Ini hari keenam terhitung sejak pertama kali Rahman secara resmi diterima menjadi salah seorang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas terfavorit di kota provinsi. Jurusan Bahasa Indonesia.
Rahman juga termasuk satu dari sekian banyak mahasiswa yang diterima tanpa harus melewati serangkaian tes terlebih dahulu. Selain itu, ia berhak atas beasiswa karena dinilai memiliki prestasi berdasarkan hasil belajar selama tiga tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Mentari yang ramah menjadi penghias langit pagi di kota provinsi.
Seperti biasa, Rahman lebih memilih mandi saat kebanyakan teman seasrama masih terlelap. Benar, Rahman tinggal di asrama mahasiswa. Dimana setiap satu kamarnya ditempati oleh tiga orang mahasiswa. Dan asrama hanya menyediakan sekian kamar mandi untuk seluruh mahasiswa penghuni asrama tersebut. Letaknya pun di luar. Itu sebabnya, Rahman terbiasa mandi sepulang shalat subuh berjamaah di mushalla universitas. Baru sesaat setelah matahari berucap salam pada segenap penghuni bumi belahan tengah, ia berangkat ke kampus.
Jarak dari asrama ke kampus tidak begitu jauh. Rahman hanya perlu berjalan kaki kurang dari setengah kilometer saja untuk bisa sampai di kawasan kampus FKIP yang berdiri di atas tanah seluas lapangan sepakbola.
__ADS_1
Di kampus, biasanya pagi-pagi begini masih terlihat sepi. Yang paling sering disaksikan oleh Rahman adalah seorang lelaki setengah baya dan dua orang pemuda sedang mengepel lantai bangunan megah itu. Sesekali Rahman menyapa. Mereka tersenyum membalas sapaan Rahman yang selalu duduk di bangku panjang yang ada tepat di depan kelasnya.
Seiring meningginya matahari, satu per satu mahasiswa berdatangan. Perlahan, kampus FKIP mulai dipenuhi oleh para mahasiswa dan mahasiswi. Kursi panjang tempat Rahman duduk pun kini telah ikut diduduki seorang mahasiswa bertubuh gendut.
Berbeda dengan Rahman yang mengisi waktu luang dengan membaca, pemuda gendut itu terlihat asyik memainkan smartphone miliknya. Sepertinya ia sedang mendengarkan musik. Sebab telinganya tertutup headphone besar berwarna merah hitam.
Lembaran demi lembaran habis terbaca. Namun pada lembaran yang berisi kisah Keislaman Salman Al-Farizi, Rahman menghentikan bacaannya. Ia merasa tidak seharusnya duduk berdiam diri di saat ada seseorang di dekatnya. Bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk sosial? Lagipula, Islam mengajarkan setiap pemeluknya untuk tetap menjalin tali silaturrahim. Rahman menyadari hal itu. Sekejap menutup bukunya.
Rahman mencoba menyapa pemuda gendut di sampingnya. Pemuda gendut itu menoleh. Ia melepaskan headphonenya. Lalu menjawab salam dari Rahman.
__ADS_1
“Namaku Muhammad Rahman. Panggil saja Rahman.”
Rahman mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Pemuda gendut itu menyambut uluran tangan Rahman sembari menyebutkan namanya. Lalu Doni Andrian. Akhirnya mereka pun berkenalan.
Tidak sampai di situ. Mereka juga saling bertukar cerita hingga mereka mengetahui bahwa ternyata mereka adalah teman sekelas. Sebelum masuk kelas, Doni sempat berbasa-basi menanyakan tentang buku yang sedang dibaca Rahman. Rahman menjelaskan setiap apa yang telah dibaca dari buku tersebut. Mulai dari kisah Nabi Adam As dan Iblis Sewaktu Di Syurga, kisah Nabi Musa As dan Batu Yang Melarikan Bajunya, kisah Al-Adhba’ (unta Rasulullah SAW), hingga kisah Matahari Ditahan Agar Tidak Tenggelam Untuk Nabi Yusya’ As.
Mendengar penjelasan Rahman, Doni merasa kagum. Ternyata, masih ada pemuda yang tidak terpengaruh oleh jaman modern seperti saat ini. Pun gemar membaca, terlebih bacaan yang dibaca termasuk bacaan sakral yang tidak semua orang tertarik membacanya.
Sejak hari itu, kedekatan keduanya berlanjut. Dan seiring pergantian hari, mereka semakin dekat satu sama lain. Bahkan, setiap kali Doni mengajak Rahman berkunjung ke rumahnya, ia selalu memperkenalkan Rahman kepada keluarganya sebagai seorang sahabat.
__ADS_1
***