Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
30. Menyusul Pejuang Sejati


__ADS_3

“Inaq, bangun dulu. Inaq harus makan. Inaq juga harus minum obat agar lekas sembuh.”


Untuk kesekian kalinya Rahman berusaha membangunkan Inaq. Namun, Inaq masih saja terpejam. Hanya menampakkan wajah tersenyumnya dalam tidur.


“Inaq, Inaq. Tolong, tolong...!”


Usaha Rahman membangunkan Inaq kini berganti menjadi sebuah teriakan minta tolong. Teriakan itu diulangi berkali-kali. Semakin keras. Ia berlari meninggalkan Inaq di dalam kamar. Sekali lagi, ia berteriak sekencang yang ia bisa demi mendapatkan pertolongan.


Tidak lama, seorang tetangga yang terlihat sedang membersihkan mobilnya berlari menghampiri. Setiawan namanya. Ia bertanya kepada Rahman, namun Rahman hanya menjawab dengan tangisan tersedu. Melihat hal itu, Setiawan bergegas menuju kamar Inaq. Ia terkejut, lalu langsung mengangkat tubuh Inaq dari kasur.


“Kau, kunci pintunya. Inaq harus segera dibawa ke rumah sakit.”


Dengan langkah terburu, Setiawan meninggalkan Rahman. Masih dari halaman rumah sederhana itu, Setiawan setengah berteriak memanggil istrinya. Ia meminta istrinya untuk membuka pintu mobil. Sekejap, mereka telah berada dalam satu mobil yang sama. Mobil yang kini sedang melaju kencang di atas jalanan beraspal menuju rumah sakit.


“Tolong hubungi kakakmu!”


Setiawan meminta Rahman untuk menghubungi kak Arif. Bagaimana caranya? Sedangkan smartphone Rahman dibawa oleh kak Arif untuk dijual. Ya Allah, kenapa semua ini harus terjadi? Rahman bingung. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis.

__ADS_1


***


“Setelah semua ini, aku lebih bisa mengerti, atau mungkin lebih bisa memikirkan setiap keinginan Inaq meski tidak diucapkan.”


Kak Arif menoleh. Tersenyum. Doni mengangguk. Ia begitu yakin kalau kak Arif memang bisa.


“Mbeeeeek.”


Di tengah perjalanan, kambing jantan yang dibeli kak Arif tidak berhenti bersuara. Awalnya, hal ini selalu menghadirkan tawa. Namun lama-kelamaan berganti menghadirkan tanya. Ada apa? Kenapa kambing ini terlihat begitu gelisah? Apakah ia tahu bahwa dirinya akan segera disembelih?


“Biarkan saja, kak.”


Doni meminta kak Arif untuk tidak terlalu peduli. Baiklah, kak Arif sepakat. Biarkan saja.


***


“Bagaimana, pak. Bagaimana keadaan ibu saya?”

__ADS_1


Rahman langsung menghampiri Dokter yang baru saja mengeluarkan setengah bagian tubuhnya dari balik pintu ruangan tempat Inaq diperiksa. Dalam keadaan menangis, ia terus saja berusaha memastikan. Sementara Setiawan dan istrinya hanya berdiri, perlahan menghampiri Dokter.


“Maafkan kami, dik. Maafkan kami, pak, bu. Tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu.”


Dokter muda yang wajahnya mirip dengan penyanyi sekaligus pemain film itu menatap Rahman, Setiawan, juga istrinya.


“Inaq!”


Rahman menerobos masuk ke ruangan tempat Inaq diperiksa. Ia tidak peduli dengan tubuh Dokter muda yang terbentur di pintu karena dorongannya.


“Inaq, Inaq. Bangun. Inaq...!”


Rahman masih saja berusaha membangunkan Inaq. Kali ini tidak ada lagi semangkuk mie instan dan secangkir teh hangat di atas meja. Yang ada hanyalah alat-alat medis dan sebuah tabung gas berwarna biru yang terlihat di sudut ruangan.


Meski terus berusaha membangunkan Inaq, namun Inaq masih tetap terpejam dan menanpakkan senyuman di bibirnya. Senyuman itu tentu saja tidak terukir dari tangisan Rahman. Mungkin saja senyuman itu hadir karena sebentar lagi Inaq akan bertemu dengan Amaq, seorang suami sekaligus pejuang sejati yang puluhan tahun lalu meninggalkannya, juga anak-anak mereka demi membangun istana di Surga sana.


***

__ADS_1


__ADS_2