Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
6. Susunan Bebatuan Sungai


__ADS_3

“Inaq salah, Arif tidak melanjutkan pendidikan bukan karena Inaq. Arif bekerja, bermain musik juga bukan karena Inaq. Ini adalah keinginan Arif sendiri.”


Kak Arif membalas tatapan Inaq sambil berusaha meyakinkan. Sekejap menghusap air mata Inaq dengan tangannya. Berjanji, hari ini, ia yang pergi memetik kangkung di sungai.


Berbeda dengan di kota provinsi sana yang baru saja dilanda hujan. Di sini, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Awan-awan putih tersebar luas menghiasi hampir seluruh permukaan langit. Lekukan puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia nampak begitu jelas, sungguh menggoda untuk di daki. Jalan lintas pedesaan yang kini sudah teraspal tidak terlalu ramai dilalui kendaraan. Meski begitu, siang ini tidaklah terik, sebab matahari sedang berbaik hati kepada penghuni bumi belahan tengah.


Selepas shalat dzuhur. Kak Arif mengganti pakaiannya. Ia menggunakan celana kebanggaan club sepakbola favoritnya, Arsenal. Dibalut kaos hitam bergambar musisi idola. Gitar kesayangannya pun telah siap menemani. Tidak lupa menyelipkan rengkapan di balik karet celana. Bagi kalian yang belum pernah mendengar istilah rengkapan, itu adalah alat tradisional untuk memetik kangkung. Bentuknya mirip sisir. Tapi, ukurannya lebih kecil.


”Inaq, Arif berangkat ke sungai dulu.”


Kak Arif menghampiri Inaq yang baru saja menunaikan kewajiban shalat dzuhur, namun masih duduk di atas sajadah.


“Tunggu, Inaq ikut.”

__ADS_1


“Inaq istirahat saja. Serahkan semuanya sama Arif.”


Inaq bersikeras. Ia bangkit, sekejap melipat mukena yang dikenakan.


“Kau melupakan ini.”


Inaq menunjukkan seutas tali. Spontan, kak Arif mendaratkan tangan kirinya di kening. Bagaimana bisa kak Arif lupa dengan tali yang nantinya akan digunakan untuk mengikat kangkung-kangkung yang sudah dipetik? Seketika itu juga mereka bertukar senyuman.


Separuh jalan menuju sungai.


“Kau yang harus hati-hati, kalau Inaq sudah terbiasa.”


Inaq tersenyum. Kak Arif hanya bergumam pelan. Lanjut menuruni jalan setapak menuju sungai.

__ADS_1


Tiga tahun belakangan ini, setelah Inaq tidak lagi menjadi juru masak di sebuah rumah makan yang terletak di kampung seberang. Inaq mulai membudidayakan kangkung di sungai, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang terdahulu.


Karena tidak memiliki lahan, mereka memanfaatkan bibir sungai. Batu-batu berukuran sedang sengaja disusun membentuk persegi. Dengan begitu, air yang ada di dalam susunan batu tidak mengalir terlalu deras. Di situ kemudian dimanfaatkan sebagai lahan untuk membudidayakan kangkung.


Berisiko memang, terlebih saat musim penghujan tiba. Air sungai meluap, mengakibatkan susunan bebatuan rusak. Jadi, sudah pasti kangkung-kangkung ikut tersapu derasnya aliran sungai.


Biarlah. Atau ada solusi lain? Katakanlah aparatur desa sedang memikirkan solusinya. Pernah, sekali waktu mereka datang memberikan pemahaman tentang bahayanya melakukan hal seperti itu. Sisanya, mereka pergi meninggalkan harapan yang juga pernah dikatakan sebelumnya; kami akan segera mencari alternatif lain untuk kesejahteraan bersama.


“Akhirnya. Hmm, walaupun kurang dari satu kilometer. Lumayan juga.”


Kak Arif meletakkan gitar kesayangannya. Ia memilih sebuah tanah landai di pinggiran sungai yang dekat dengan rumpun bambu, letaknya tepat di bawah pohon pinang. Lantas meminta Inaq untuk beristirahat, agar bisa leluasa menepati janjiya untuk memetik kangkung-kangkung segar yang akan dijual esok hari.


Inaq hanya mengangguk. Sesekali menghusap keringatnya dengan ujung kerudung. Kemudian tersenyum, karena kali ini tugasnya hanya menjaga gitar kesayangan kak Arif saja.

__ADS_1


***


__ADS_2