Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
28. Ini Untuk Kakak


__ADS_3

Hari ini terlihat cerah, tidak seperti kemarin. Hari ini pula kak Arif memutuskan untuk tidak pergi ke pasar tradisional demi menjaga Inaq yang sejak kemarin masih terbaring lemah di atas kasur. Kak Arif khawatir, begitu pula Rahman. Sempat juga kak Arif mempertontonkan matanya yang berkaca-kaca kepada Rahman.


Rahman mengerti. Berat memang menjadi anak lelaki tertua di keluarga. Selain harus menggantikan peran Inaq, kak Arif juga harus menjaga Inaq sendirian ketika Rahman kembali ke kota demi memenuhi tanggungjawabnya sebagai seorang mahasiswa.


Melihat keadaan yang sepertinya tidak kunjung membaik, Rahman berusaha sedikit menghibur kak Arif. Ia beranjak ke kamar, sekejap tangannya langsung menyambar smartphone yang dibelinya bersama Doni beberapa hari yang lalu. Tidak lama, smartphone itu ditempelkan ke telinga dan langsung berbicara dengan seseorang, lalu kembali menemui kak Arif di kamar Inaq.


“Sudahlah kak, Inaq akan baik-baik saja.”


Rahman memegang pundak kak Arif. Ia tersenyum, meski masih terlihat sedikit memaksakan. Dalam hatinya, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal seperti ini kepada kak Arif, sementara aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada Inaq?


“Iya, semoga saja kau benar.”


Kak Arif menoleh. Membalas senyuman Rahman, juga dengan perlakuan yang sama; sedikit memaksakan. Setidaknya, kakak beradik ini sudah berusaha saling menguatkan satu sama lain.


Sekian puluh menit berlalu, Inaq akhirnya terlihat membuka mata. Segera saja kak Arif dan Rahman mendekat.

__ADS_1


“Inaq? Alhamdulillah.”


Kak Arif membuka suara. Ia mengelus pipi Inaq, menyibak rambut putih itu dengan lembut. Ucapan-ucapan syukur tidak pernah berhenti terdengar dari bibir keduanya.


Di tengah suasana haru, terdengar suara salam dari luar rumah. Suara itu tidak asing bagi mereka. Dua kali, suara salam itu terdengar. Sesekali diiringi dengan panggilan yang menyebutkan nama keduanya, kak Arif dan Rahman.


“Itu suara Doni?”


Kak Arif bertanya, kepalanya sedikit mendongak ke arah Rahman. Rahman mengangguk. Sekejap melangkahkan kaki menuju pintu.


Jawaban salam Rahman langsung disambar dengan nada malas seorang Doni. Ia berpura-pura jengkel karena sahabatnya lama membuka pintu. Seperti biasa, tanpa dipersilakan masuk, Doni sudah masuk.


Di dalam rumah, Doni memanggil-manggil Inaq. Ia rindu kopi buatan Inaq. Ia rindu singkong rebusan Inaq. Dan yang pasti, ia merindukan Inaq. Namun tiba-tiba ia terdiam melihat Inaq terbaring di atas kasur bersama kak Arif yang duduk tepat di sebelahnya.


“Inaq kenapa, kak?”

__ADS_1


Kak Arif terdiam. Hanya menoleh dan tersenyum. Doni kembali mengulang pertanyaan yang sama. Kali ini Inaq sendiri yang menjawab pertanyaan dari Doni. Dan jawaban itu mengukir senyuman di wajah bulat seorang Doni.


“Rahman, mana? Kenapa kau masih diam saja di luar sana?”


Namanya Doni, tidak menjahili sahabatnya sekali saja bisa stres. Tapi hal itulah yang justru selalu mampu mempererat tali persahabatan mereka.


Karena tidak ingin Doni berteriak lagi, Rahman masuk ke kamar Inaq. Ia membawa sesuatu di tangannya. Doni tersenyum, kak Arif terlihat heran, sementara Inaq masih terdiam tanpa suara.


“Ini untuk kakak.”


Rahman menyodorkan sebuah gitar baru pabrikan Amerika, Gibson SG yang dibelinya bersama Doni beberapa hari yang lalu. Kak Arif terkejut sekaligus senang. Bagaimana mungkin Rahman bisa membeli gitar bermerk itu? Apakah ini pemberian Doni yang sengaja dititipkan agar kesannya bahwa Rahman-lah yang memberikannya?


Belum sempat muncul pertanyaan berikutnya dari benak kak Arif, Rahman menjelaskan bahwa gitar itu dibeli dengan uang beasiswa yang diterimanya. Kak Arif bangkit. Ia mengambil gitar itu dari tangan Rahman. Kini, senyuman mereka terlihat begitu lepas tanpa ada unsur paksaan menyertainya.


Keadaan perlahan membaik. Sebentar, hanya sebentar saja karena ucapan Inaq mampu merubah semuanya menjadi sunyi. Kesenangan kak Arif mendapatkan sebuah gitar baru sirna. Rahman pun sama, ia memalingkan wajah ke arah smartphone barunya. Sementara Doni terdiam, tidak tahu harus berbuat apa? Seharusnya ini menjadi susasana bahagia, lantas kenapa semuanya berduka?

__ADS_1


***


__ADS_2