Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
2. Panggung Istimewa


__ADS_3

Hari ini penampilannya sungguh tidak seperti biasa. Bukan soal celana jeans ketat berwarna biru dongker yang sobek di kedua bagian lututnya. Juga bukan soal bayangan tulang rusuk yang menghiasi tubuh kerempengnya. Jika memang suaranya tidak bagus, maka apa alasan ratusan siswa-siswi beserta para guru yang memenuhi tempat ini bertepuk tangan?


Di sinilah masalahnya. Ia benar-benar ingin tampil seperti halnya sang idola semasa muda. Ambisius. Mulai dari cara berpakaian di atas panggung, cara memainkan gitar, sampai teriakan-teriakan khas saat penggalan syair lagu menyuarakan kenyataan. Baginya, lewat media apapun, kesadaran harus terus ditumbuhkan.


Arif nama pemuda itu. Ia adalah salah satu dari jutaan penggemar berat seorang Virgiawan Listanto. Memang, tidak semua orang tahu siapa sosok di balik nama tersebut. Bagaimana dengan Iwan Fals? Tepat sekali. Virgiawan Listanto merupakan nama asli dari seorang musisi legendaris Indonesia kelahiran 3 September 1963 itu.


Menurutnya, tidak ada seorang musisi lain yang pantas mendapat predikat sebagai musisi tanpa generasi, kecuali Iwan Fals. Terlebih rambut gondrongnya sewaktu muda. Hmm, Arif selalu berharap bisa memiliki rambut gondrong layaknya sang idola. Sayang, ia dilarang. Tapi tidak masalah, ia tetap terlihat tampan meski berambut pendek.


Sejak masih sekolah dulu, banyak teman-teman yang tidak suka kepadanya. Arif terlalu idealis, sok suci, kata mereka. Belum lagi kalau cerpen-cerpen karangannya berhasil menembus media cetak (lokal). Sudah pasti mereka enggan melirik mading sekolah. Maklum. Hampir semua cerpen karangannya selalu mengangkat tema tentang kehidupan sosial. Potret Jalanan-lah, Bekas Pelacur-lah, Ini Negeriku-lah, Maling Berdasi-lah, dan masih banyak lagi. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun tidak lepas dari masalah kehidupan sosial.


Kalau kalian sempat berkunjung ke kamarnya, kalian akan melihat dinding-dinding kamar dipenuhi oleh poster Iwan Fals. Dinding dekat ranjang sengaja dibuat sedikit berbeda. Sebuah foto hitam putih terpasang vertikal, sudah diperbesar, letaknya pun tepat di atas kepala. Yah, foto orang tuanya 30 tahun silam.


Pagi tadi, selepas mengantar Inaq ke pasar, Arif ijin untuk menghadiri acara ulang tahun sekolah lama. Dua hari sebelum hari ini, seorang guru kesenian sekolah menghubunginya. Beliau berpesan agar Arif bisa menyempatkan diri hadir untuk melengkapi kemeriahan acara ulang tahun sekolah. Jadi bintang tamu? Anggap saja begitu, supaya terdengar lebih keren.


Berbekal sebuah gitar yang dibeli dengan uang hasil menjuarai beberapa lomba menulis, Arif tetap terlihat menarik meski berpakaian seadanya. Di sekolah, ia bertemu beberapa teman seangkatan. Mereka datang bukan untuk menjadi bintang tamu. Mereka datang sekedar menyaksikan kemeriahan acara ulang tahun sekolah lama. Juga mengulang kisah-kisah yang pernah terjadi di sekolah ini.


“Hei, Arif. Kau semakin tampan saja.”


Seorang wanita menyapa. Tersenyum. Berjabat tangan dengan Arif.


“Kau mencium bau sesuatu, tidak?”


Salah seorang lelaki menoleh lelaki lain yang berdiri di sampingnya.


“Kentut?” Wanita tadi melanjutkan. Heran.

__ADS_1


“Bau lagu-lagu tentang kehidupan sosial.”


Lelaki itu tertawa. Disusul mereka semua. Termasuk Arif sendiri.


Menjelang siang, siswa-siswi tidak mengurangi antusiasme mereka untuk terus menantikan penampilan demi penampilan dari teman mereka. Acara yang selalu meriah dari tahun ke tahun. Bagi sebagian siswa, inilah saatnya untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Sebagian lagi hanya menikmati setiap apa yang ditampilkan. Intinya, semua siswa terlihat senang dengan adanya kegiatan tahunan ini.


“Terima kasih anak-anakku. Penampilan yang sungguh luar biasa. Acting kalian tidak kalah dengan artis-artis ternama Indonesia sekelas Anjasmara, Desi Ratnasari, bahkan Christine Hakim.”


Halaman luas sekolah itu ramai oleh tepuk tangan. Para guru hanya tersenyum. Mereka mengerti, tidak semua siswa-siswi tahu siapa artis yang disebutkan namanya itu. Mereka artis lawas.


“Acara selanjutnya, lomba membaca puisi. Ibu yakin kalian sudah tahu temanya. Benar, buku adalah jendela dunia. Tapi sebelum itu, kita terlebih dahulu akan melihat penampilan kakak kalian. Dia alumni sekolah ini. Bagi semua siswa-siswi, jika kalian ingin menang dalam lomba menulis dan membaca puisi, kakak kalian inilah orang yang tepat untuk belajar.”


Wajah semua siswa terlihat bingung. Mereka saling menoleh sana sini, mencari tahu siapa orang yang sedang dibicarakan oleh guru mereka.


“Sejak pertama masuk di sekolah tercinta kita sampai lulus, ia selalu menjadi yang terbaik dalam lomba menulis dan membaca puisi. Tiga tahun berturut-turut. Bukan hanya itu, ia juga ahli dalam menulis cerpen (cerita pendek). Namun sayang,…”


“Siapa, bu. Siapa dia?!”


Salah seorang siswa berteriak. Satu temannya lagi mempertegas bahwa waktu adalah uang. Diikuti teriakan ‘huuuu’ dari segenap siswa-siswi lainnya.


“Baiklah. Sabar, sabar. Inilah dia orang yang pandai membaca puisi, ahli dalam menulis cerpen, tapi lebih memilih menggali potensi dalam bidang musik. Kita sambut anak kita, kakak kalian semua, Arif!”


Tepuk tangan kembali ramai mengiringi Arif yang berjalan santai ke atas panggung.


“Terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu guru tercinta. Terima kasih untuk yang datang tanpa diundang.”

__ADS_1


Arif memandang teman seangkatannya sambil tersenyum.


“Terima kasih juga buat adik-adik tersayang. Sejak awal, saya selalu melihat penampilan dari teman-teman kalian. Benar apa yang telah dikatakan oleh ibu guru kita: penampilan kalian sungguh luar biasa. Dan sekarang saya diberikan kesempatan untuk tampil di atas panggung istimewa ini.”


Arif sedikit berlebihan menyebut barisan meja kelas yang disusun berdempetan, dibalut karpet hijau tua itu sebagai panggung istimewa.


“Baiklah. Saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk kalian semua. Semoga bisa menghibur.”


Diam sejenak. Sedetik. Dua detik. Arif mulai memainkan gitar. Kedua matanya terpejam. Kepalanya mendongak, berusaha menghayati petikan demi petikan gitar yang dimainkan. Itu memang sudah menjadi ciri khas seorang Arif.


Sombongnya engkau berjanji


Kau lambungkan anganku


Mimpiku singgah dilangit


Kau BOHONG!”


Lantunan lagu lama berakhir. Petikan tali-tali senar gitar masih terdengar. Sebentar berhenti. Lambaian tangan dari Arif mengiringi ucapan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Perlahan turun dari atas panggung, meski siswa-siswi berteriak ingin melihat lagi penampilan darinya.


Di samping panggung, Arif menghampiri guru-guru, juga teman seangkatannya, kemudian berjabat tangan. Lalu pulang.


***


“Kenapa Inaq menangis? Ada apa?”

__ADS_1


Inaq terkejut atas kepulangan anak sulungnya. Segera saja Ia menghusap air mata dengan telapak tangan sambil berusaha tersenyum. Tapi Arif anak yang cerdas. Ia tahu, tidak mungkin ada asap, jika tidak ada api. Umurnya pun sudah 23 tahun, bukan lagi anak kecil yang selalu penasaran dengan sarang laba-laba kecil.


***


__ADS_2