
“Inaq menangis. Dan Inaq bilang tidak apa-apa?”
Kak Arif berkata tegas. Ia meletakkan gitar kesayangannya bersandar di dinding. Lalu duduk di samping Inaq.
Beginilah kak Arif. Ia mewarisi sifat serta karakter Amaq. Ketegasannya, kharismanya, kebijaksanaannya, perjuangannya, hampir semua. Namun tidak untuk urusan keimanan dan ketaqwaan. Hal itu ada pada Rahman. Walau begitu, kak Arif selalu mampu menjadi penguat bagi keluarga kecilnya.
“Apapun itu, Inaq tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari Arif. Arif ini anak Inaq, Arif berhak tahu.”
Sebentar, Rahman mana? Ah, jangan tanyakan tentang keberadaan Rahman. Jawabannya sudah pasti di asrama mahasiswa. Sebulan sekali baru pulang. Itu juga Inaq yang minta, agar bisa lebih berhemat. Pulang kampung juga butuh biaya.
“Maafkan Inaq. Inaq tidak bisa memberikan apa yang diberikan orang tua lain kepada anak-anaknya. Akuilah, kau memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan karena Inaq. Kau melihat bahwa wanita tua ini tidak mampu lagi membiayai pendidikanmu.”
Inaq menghentikan perkataannya. Menghela nafas. Berusaha menetralisir suaranya.
“Inaq mampu! Inaq sanggup, anakku.” Lanjutnya, dan segera kedua telapak tangan menutup wajah tuanya dengan sikut bertumpu pada sepasang paha kendor itu. Air matanya sudah tidak terbendung lagi.
Sekejap. Kak Arif menyambar tubuh rapuh Inaq. Ia merapatkan barisan giginya. Menghela nafas. Sesungguhnya kak Arif tahu Inaq mampu, Inaq sanggup. Bukankah dulu Amaq pernah mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah?
Karena tidak ingin Inaq larut dalam kesedihan, apalagi sampai menangis hanya karena membandingkan dirinya dengan orang tua lain. Kak Arif membuktikan bahwa kebijaksanaan Amaq memang telah mengalir di dalam darahnya. Ia melepas pelukannya, dan sambil mengangkat bahu Inaq, kak Arif berusaha meyakinkan bahwa semua perkataan Inaq tentang dirinya itu tidak benar.
__ADS_1
Kini, dua pasang mata, ibu dan anak, saling menatap satu sama lain. Sedetik. Dua detik. Tatapan kak Arif terlalu dalam sehingga ia terseret menuju titik terdalam samudera kenangan, tujuh belas tahun silam.
Cuaca sore itu terlihat bersahabat. Sekawanan burung bangau terbang rendah di atas kepala. Kepakan sayap-sayap kecilnya seakan mengiringi senja menuju pulang. Belum lagi, hamparan luas persawahan terbentang sejauh mata memandang. Padi-padi mulai menguning, menunggu hari untuk dipanen. Sesekali para petani terdengar saling melempar canda sebagai penawar lelah setelah seharian bekerja. Derap langkah kaki mereka mengusir koloni ikan masuk ke dasar kolam. Sungguh, lukisan alam pedesaan yang luar biasa indah.
“Satu, dua, tiga, lompat!”
Seorang petani tua terlihat begitu bersemangat membantu kak Arif terbang, melayang di atas derasnya aliran sebuah kali kecil yang berfungsi sebagai sumber pengairan untuk persawahan warga desa. Baginya, ini adalah penerbangan pertama.
Hari menjelang maghrib. Separuh jalan telah terlewati. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran mulai terdengar bersahutan dari pengeras suara masjid dan surau-surau. Namun mendekati ujung perjalanan menuju pulang, tiba-tiba mereka berhenti.
Kak Arif melihat sesuatu. Langkah kecilnya maju secara perlahan. Ia menoleh, mengisyaratkan diam dengan menempelkan jari telunjuknya di mulut. Selangkah. Dua langkah. Berhenti.
Benar. Petani tua itu adalah Amaqnya. Dari sekian luas hamparan sawah di desa. Sebidang tanah resmi menjadi milik Amaq sejak pak Karim pindah ke luar pulau bersama anak dan istrinya. Sebidang tanah yang kemudian dijadikan kolam ikan. Kabar beredar bahwa tanah itu diberikan kepada Amaq sebagai balasan sekaligus ucapan terima kasih karena Amaq pernah menyelamatkan anak semata wayang pak Karim dari maut. Walaupun kecil, hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga.
“Jangan,..”
Terlambat. Kecepatan tangan kak Arif melampaui kecepatan suara Amaq. Aksinya merusak sarang laba-laba kecil kembali berjalan mulus.
“Dirusak.” Lanjut Amaq.
__ADS_1
Ini bukan kali pertama. Kemarin, kak Arif juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan hari ini. Merusak sarang laba-laba kecil di tempat yang juga sama.
Di rumah, selepas shalat maghrib berjamaah. Inaq langsung menggelar tikar, Rahman mengambil Iqra, Amaq dan kak Arif hanya duduk. Kegiatan belajar mengaji merupakan suatu keharusan untuk mereka sembari menunggu waktu shalat isya tiba.
“Kenapa kau melamun, nak?”
Amaq menepuk pelan punggung kak Arif yang terlihat seperti sedang menyimpan sebuah pertanyaan besar dalam benaknya. Ia heran, meski sudah dua kali dirusak, tapi esok hari sarang laba-laba itu pasti ada lagi.
“Begini, sesering apapun kau merusak sarang laba-laba kecil itu, ia pasti akan merajut kembali sarangnya. Kau rusak lagi, dirajut lagi. Kau tahu artinya? Artinya, saat kau sudah besar nanti, masalah-masalah akan datang kepadamu meski kau tidak menginginkannya. Tapi kau harus ingat, laba-laba kecil itu mengajarkanmu satu hal. Seberat apapun masalahmu kelak, kau tidak boleh putus asa. Kau harus bangkit dan terus berjuang pantang menyerah. Kau mengerti?”
Kak Arif menggeleng. Tidak tahu artinya. Kemudian mengangguk. Mengerti. Inaq tersenyum. Rahman membisu. Tidak begitu faham dengan penjelasan Amaq. Pelajaran membaca Al-Quran dilanjutkan.
***
“Karena Inaq, kau memilih melakukan semua ini. Bukan karena keinginanmu sendiri. Iya, kan?”
Inaq menatap sendu wajah kak Arif dan menuntut pengakuan darinya. Kak Arif menghela nafas. Bahunya bergerak naik-turun. Bukan, kak Arif tidak sedang menangis. Ia jarang sekali menangis. Terakhir kali ia terlihat menangis adalah empat belas tahun yang lalu. Selebihnya tidak pernah. Ia sadar, tapi belum waktunya.
***
__ADS_1