Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
8. Kesaksian Poson Pinang


__ADS_3

“Sudah cukup, nak.”


Kak Arif menoleh. Inaq mengangguk mantap. Ia hafal betul seberapa banyak kangkung yang dibutuhkan untuk memperoleh 50-60 ikat kangkung. Faktor kebiasaan.


“Segini saja? Ini sih tidak seberapa. Talinya mana?”


Inaq menyodorkan seutas tali kepada kak Arif. Meski baru pertama kali, kak Arif terlihat cekatan dalam mengikat kangkung-kangkung yang baru saja dipetik. Setelah terikat, kangkung-kangkung segar itu diletakkan di samping gitar kesayangan. Tepat di bawah pohon pinang.


“Tadi kau dapat salam dari adikmu. Ia sudah libur, tapi tidak langsung pulang. Katanya, Doni mengajaknya pergi berlibur. Dan minggu depan baru pulang.”


Kak Arif memicingkan mata. Ia mencoba menggali-gali ingatannya tentang sosok di balik nama yang disebutkan Inaq. Sebentar berhasil. Doni. Seorang remaja bertubuh gempal, dan pernah berjasa kepada adiknya.


“Ada lagi. Kata adikmu, selamat fitness gratis.” Inaq melanjutkan ucapannya. Kak Arif menoleh. Awas, akan kubalas kau.


Lihatlah, di usia Inaq yang tidak lagi muda, kulitnya sudah tidak lagi sekencang dulu, Inaq tetap merupakan wanita tercantik di dunia. Pun senyumnya adalah senyum paling manis seantero jagad raya. Begitulah pengakuan kak Arif.


Sore masih muda. Senja belum datang. Matahari masih setia mengirimkan kehangatan lewat cahayanya yang menembus celah pepohonan. Angin berhembus pelan. Serumpun bambu saling bergesekan. Gemericik air sungai terdengar, disambut kicauan merdu burung-burung, semuanya berpadu menjadi sebuah musikalitas alam yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kehebatan komposer musik dunia sekalipun.

__ADS_1


Tidak lama, kak Arif terlihat mengeluarkan gitar dari dalam tas berwarna hitam. Ia berdehem. Sekejap mulai memetik tali-tali senar gitar kesayangannya.


Di tengah lagu, kak Arif berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. Suaranya tertahan. Tidak stabil. Namun petikan tali-tali senar gitar terus berlanjut.


“Cukup nak, cukup. Jangan dilanjutkan.”


Inaq menoleh. Ia menyentuh lengan kak Arif. Tangan Kak Arif pun spontan berhenti. Kedua matanya terpejam. Mendongak. Sedari tadi ia berusaha menahan air mata.


Tidak, tidak. Arif tidak boleh menangis. Ia harus kuat dan menjadi penguat bagi keluarga kecilnya. Walaupun kini, sesosok wajah kembali datang memenuhi kepala dan tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk menghindar. Wajah itu benar-benar terasa begitu nyata. Arif yakin, Inaq juga sedang membayangkan sosok yang sama.


***


Rahman mencium ketiak. Asem, belum mandi. Doni mengerti, tapi tidak peduli. Ia melihat jam tangan. Pukul 16.57 Wita.


“Sudah, ayo ikut. Aku kenal seseorang yang menyewakan alat-alat untuk mendaki gunung. Lengkap. Dan kau tidak perlu khawatir, segala bentuk pembayaran serahkan saja padaku.”


Sebelah mata Doni berkedip, dan berusaha meyakinkan sahabatnya. Doni tahu betul keadaan ekonomi keluarga sahabatnya itu. Sedangkan Rahman hanya tersenyum dari balik punggung Doni yang memboncengnya menggunakan sepeda motor matic.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu. Satu kilometer terlewati.


Lima belas menit berjalan. Berhenti.


“Ini dia tempatnya.”


Doni menunjuk sebuah tempat kecil dengan neon box bertuliskan Greenhills Outdoor Gear Rental. Rahman turun. Doni memarkir sepeda motor dan meletakkan helm di atas jok. Sekejap masuk bersama Rahman.


Di dalam sana. Mereka memilih beberapa alat penunjang pendakian. Mulai dari carier, matrass, sleeping bag, tenda, jaket, kompor portable, nesting, headlamp, juga alat-alat yang direkomendasikan oleh pemilik tempat itu, seperti tongkat, sepatu gunung, dan lampu tenda.


Mereka hanya mengangguk. Setuju. Ini merupakan pengalaman pertama bagi keduanya. Jadi sangat wajar jika mereka melengkapi diri selengkap-lengkapnya. Setelah membayar sejumlah uang sewa. Doni beranjak keluar, disusul Rahman. Hanya KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang tertinggal sebagai jaminan.


Tidak jauh dari tempat penyewaan alat-alat outdoor tadi. Mereka singgah di sebuah minimarket untuk membeli stock makanan dan minuman selama lima hari ke depan. Disini, Doni kembali mengambil peran, Rahman hanya mengikuti. Maklum, yang akan membayar semuanya sudah pasti Doni.


“Kau yakin, Don?”


Doni menoleh. Diam sejenak. Kembali, ia melanjutkan kesibukannya memilih bekal makanan dan minuman. Sebenarnya bukan memilih, karena hampir semua jenis makanan instan dimasukkan ke dalam keranjang, juga air mineral dan kopi.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan minimarket, Doni dan Rahman berjalan menuju kasir untuk membayar barang belanjaan mereka. Di sana, mereka sempat saling berbisik, bergurau tentang jaman yang sedang mereka jalani saat ini. Senyuman-senyuman kecil menghiasi wajah keduanya. Kita hidup di jaman serba ada.


***


__ADS_2