
“Bangun! Bangun! Kita harus segera bersiap. Perjalanan akan jauh lebih berat.”
Sebuah suara tedengar dari luar tenda yang jaraknya berdekatan. Itu artinya, bang Aji tidak perlu keliling membangunkan rekan-rekan sependakiannya. Satu per satu terbangun. Rahman memicingkan mata. Doni tertunduk melihat jam tangan, pukul 05.23 Wita. Rekan sependakian lain menguap.
Perlahan, matahari mulai menampakkan diri. Bias sinarnya menerangi alam pegunungan dan mengirimkan kehangatan. Butiran-butiran embun di daun berkilauan, sebentar menghilang. Seluruh pendaki terlihatmulai mengaktifkan kamera, mereka berputar-putar. Seakan tidak ingin kehilangan momentum untuk mengabadikan fenomena terbitnya matahari.
Keindahan terasa semakin sempurna ketika bang Aji memanggil. Kedua tangannya terangkat, memperlihatkan dua buah gelas yang berisi kopi panas. Andai saja setiap pemimpin seperti bang Aji. Ia rela melewatkan keindahan pemandangan alam pegunungan demi kepuasan para pengikut-pengikutnya.
“Rahman, roti yang kemarin?”
Rahman mengerti. Ia bergegas menuju tenda. Dua rekan sependakian lainnya mengikuti. Masuk tenda masing-masing. Doni, bang Aji, dan sisanya saling bertukar canda. Lalu tertawa. Tidak lama, tujuh orang pendaki telah berkumpul kembali. Roti dan makanan ringan sekejap menghilang. Habis. Atas perintah bang Aji, mereka berkemas.
Sebelumnya, bang Aji mengingatkan agar lebih bisa menghemat air. Karena disini lah pendakian sesungguhnya. Semua mengerti. Untuk kedua kalinya, mereka berkumpul untuk berdoa. Kata semangat, lagi-lagi menjadi kata pertama yang terucap setelah mereka mengakhiri doa yang dipanjatkan. Kini, mereka telah siap melanjutkan pendakian.
Di tengah perjalanan, barisan bukit bertingkat menguras banyak tenaga. Beruntung, matahari tidak terlalu terik. Cahayanya terhalau oleh pepohonan yang tumbuh tinggi, besar, dan berdaun rindang. Inikah yang banyak orang sebut sebagai bukit penyesalan? Bukit yang menjulang tinggi, tujuh tingkatan, dan hanya menyisakan sedikit saja tanah landai? Bang Aji benar. Inilah pendakian sesungguhnya.
“Bang, istirahat sebentar saja.”
Doni bersandar di sebuah pohon besar. Rahman masih berdiri menopang beban berat di punggungnya. Bang Aji mengangguk. Setuju. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk sekedar minum seteguk-dua teguk. Satu orang meletakkan carier dan membuka resleting paling depan. Ia terlihat sedang mencari sesuatu. Sebentar ketemu. Ia kemudian membagikan madu sachet kepada semua rekan sependakian sebagai penambah tenaga.
Lima menit. Sepuluh menit. Lelah sedikit berkurang.
Dengan langkah gontai namun terarah, mereka bangkit. Sejengkal demi sejengkal tanah bukit penyesalan berhasil terlewati. Ratusan pepohonan besar telah tertinggal di belakang. Keringat bercucuran, wajah-wajah mereka memerah,hembusan nafas mereka terdengar keras. Sungguh, empat jam yang melelahkan.
Tapi lihatlah pemandangan di depan begitu indah.
Permukaan tanah ditumbuhi satu jenis tanaman yang terselip di antara batang pohon-pohon besar. Kabut tipis bergerak horizontal, seakan membelai mesra ribuan bunga Eidelweis. Itu artinya, puncak Gunung Rinjani semakin dekat.
“Welcome to Pelawangan.”
Bang Aji sedikit membungkukkan badannya seiring membuka lebar kedua tangan. Ia memberi sambutan kepada keenam rekan sependakian. Akhirnya, perjalanan berat berujung manis. Mereka berhasil melewati tangguhnya bukit penyesalan tanpa seorang pun yang tertinggal.
Kini, mereka telah berdiri di atas tanah Pelawangan. Pelawangan sendiri adalah tempat pemberhentian terakhir sebelum menuju puncak Gunung Rinjani. Terlepas disadar atau tidak, bang Aji mengarahkan Rahman, Doni, dan empat rekan sependakian lain menuju suatu tempat yang sedikit bergelombang. Letaknya pun di bibir tebing.
“Maaf bang, saya hanya ingin ke puncak gunung ini. Bukan cari mati!”
Doni mundur, tidak setuju dengan saran bang Aji. Rahman menambahkan, masih banyak tempat lain yang bisa dimanfaatkan untuk mendirikan tenda. Lebih datar dan lebih luas. Keempat teman sependakian lain mengangguk, setuju.
Bang Aji tersenyum ketika menjelaskan dua hal yang mereka lupakan. Pertama,bang Aji tidak pernah meminta diri untuk menjadi pemimpin. Kedua, sebagai seorang pemimpin, tentu saja bertanggungjawab memberikan yang terbaik bagi pengikut-pengikutnya.
Rahman menelan ludah. Keempat teman sependakian lain tertunduk. Mereka sadar, yang telah memilih bang Aji sebagai pemimpin adalah mereka sendiri. Jadi, sudah seharusnya mereka patuh terhadap perintahnya.
__ADS_1
“Kita dirikan tenda di sini!”
Doni menjadi orang pertama yang meletakkan carier. Bahkan mendahului bang Aji. Serentak semua wajah menoleh searah. Mereka heran, kenapa Doni secepat itu berubah fikiran. Bukankah tadi Doni merupakan orang pertama yang menolak?
“Silahkan kalian dirikan tenda dimanapun kalian mau. Tidak ada yang melarang. Aku akan tetap di sini bersama bang Aji.” Lanjut Doni.
Bang Aji menoleh. Lantas tersenyum. Kelima teman sependakian, termasuk Rahman saling bertatapan satu sama lain. Tidak lama, mereka sepakat untuk bergabung bersama Doni, dan pemimpin mereka.
***
Hari kedua.
Keikutsertaan kak Arif membawa keberuntungan. Kemarin, kak Arif mampu menjual habis kangkung-kangkung segar yang dibawa ke pasar tradisional. Hari ini, ia mengulangi keberhasilannya.
Inaq senang. Senyuman di wajah tuanya tidak pernah hilang. Inaq benar-benar melihat kemampuan kak Arif dalam berdagang. Tapi, Inaq tidak memaksa jika kak Arif lebih memilih untuk menjadi seorang musisi terkenal. Apapun itu, do’a Inaq selalu menyertai setiap keping impian kedua buah hatinya.
Satu hal yang Inaq tidak tahu. Di sela menawarkan kangkung, kak Arif mencuri waktu melihat sekeliling pasar. Ia berharap pertemuan kemarin bisa terulang. Seperti halnya ia mengulangi keberhasilan menjual habis kangkung-kangkung segar itu.
Di pasar, kak Arif tidak menemukan apa yang dicari. Di rumah, ia tetap memikirkannya. Bahkan hingga sore menjelang, ketika sedang memetik kangkung di sungai.
“Kau tidak membawa gitarmu, nak?”
“Tidak. Arif hanya ingin memetik kangkung lebih banyak untuk dijual besok. Dan Inaq tenang saja, Arif akan pastikan semua kangkung-kangkung ini habis terjual.”
“Bukan? Lantas apa maksud Inaq?”
“Sejak siang kemarin, kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Apakah Inaq tidak boleh tahu? Atau seperti yang sering kali kau katakan,kau tidak ingin membebani Inaq dengan keinginan-keinginanmu? Nak, sehebat apapun kau menyimpan sesuatu, akan lebih baik jika kau mengungkapkannya.”
Kak Arif menelan ludah. Ia tidak berniat menyembunyikan apapun dari Inaq. Sekedar berfikir untuk melakukan hal itu pun tidak pernah. Memang, pernyataan Inaq itu benar. Semuanya akan lebih baik jika diungkapkan. Hanya saja menurut kak Arif, ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
Sudahlah. Sebentar lagi malam. Lagipula kangkung sebanyak ini sudah menunggu untuk dipikul oleh calon musisi terkenal. Kak Arif berdiri. Meletakkan kangkung-kangkung yang telah terikat di pundak kirinya. Tangan kanannya merangkul Inaq. Sejurus kemudian beranjak pulang.
***
Di Gunung Rinjani sana.
Kedatangan senja justru sangat dinantikan. Seluruh pendaki tahu, matahari tidak akan pergi begitu saja kecuali meninggalkan pemandangan luar biasa sebagai tanda perpisahan bagi siapa saja yang menganggapnya teman.
Kini, keenam pendaki itu baru menyadari bahwa ternyata bang Aji ingin mempersembahkan pemandangan terbaik bagi mereka. Ini adalah pemandangan terindah kedua yang ada di Gunung Rinjani.
Lihatlah. Matahari terbenam menemani mereka menyaksikan penampakan Danau Segara Anak secara keseluruhan dari atas tanah Pelawangan. Danau yang menjadi satu-satunya bukti fisik atas dahsyatnya letusan Gunung Samalas.
__ADS_1
Benar. Gunung Rinjani dulunya bernama Gunung Samalas. Sebelum berganti nama, Gunung ini pernah meletus pada abad ke-13 sekitar tahun 1215 M. Letusannya sangat dahsyat. Konon, letusannya mampu menerbangkan bebatuan sejauh 40 km ke udara dan merubah iklim dunia. Bahkan, jejak kimiawi dari letusannya terdeteksi sampai ke dataran es Arktik dan Antartika.
Kembali lagi.
Matahari telah sepenuhnya pergi, berganti malam menampakkan sepertiga rembulan yang tergantung indah di langit. Hamparan milyaran bintang konsisten tanpa pola. Angin berhembus pelan. Udara dingin bertambah dingin. Lampu-lampu tenda dinyalakan. Satu-dua pendaki terlihat mulai memasang headlamp. Dan Pelawangan tidak mengurangi keindahan yang ditawarkan.
“Kau sedang menulis apa, Don?”
“Eh, Rahman. Ini, aku sedang menulis kata-kata buat Ayah dan Bunda di rumah. Sekedar harapanku untuk mereka. Kau juga mau menulis? Aku masih punya banyak kertas. Mungkin kau ada harapan untuk Inaq dan kak Arif.”
Rahman menggeleng, tapi bukan karena tidak memiliki harapan untuk Inaq dan kak Arif. Tentu saja ia memiliki harapan, sejuta harapan untuk keluarga kecilnya. Menurut Rahman, akan jauh lebih baik jika menyampaikan harapan-harapan itu melalui doa-doa yang dipanjatkan setiap kali menunaikan shalat.
“Besok pagi kita sudah berada di puncak Gunung Rinjani. Akan banyak sekali pendaki yang mengabadikan diri di atas tanah tertinggi provinsi NTB inidengan membawa harapan-harapan mereka masing-masing. Dan kau yakin tidak mau menuliskan harapanmu?”
Rahman mengangguk. Yakin. Kemudian tersenyum. Baiklah. Doni tidak memaksa.
Selepas makan malam, ketujuh pendaki tersebut berkumpul menikmati kopi panas di bawah pancaran sinar rembulan. Sesekali mereka saling bertukar canda, lalu tertawa.
“Malam ini usahakan tidur lebih awal, karena pukul 02.00 Wita kita akan mengawali langkah menuju satu tempat yang menjadi tujuan utama kita ke sini.”
“Seperti apa medan jalan yang akan kita lewati? Bang Aji pernah ke sini sebelumnya, bukan?”
Doni menyambut perkataan bang Aji. Kelima teman sependakian menatap searah. Wajah-wajah dipenuhi rasa ingin tahu. Sementara bang Aji hanya tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan Doni. Ia justru membersihkan gelas-gelas kopi dengan tissue basah. Rasa ingin tahu terpaksa mengiringi langkah mereka menuju tenda masing-masing. Beristirahat.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Detik demi detik terus berputar. Berganti menit. Menit berganti jam. Rasanya baru saja mereka tertidur. Namun ini sudah pukul 01.37 Wita.
Sekali lagi. Suara bang Aji dari luar tenda terdengar membangunkan. Rahman, Doni, dan keempat teman sependakian lain masih mengantuk. Setengah nyawa mereka belum sepenuhnya kembali ke dalam raga. Suka tidak suka, mereka harus bergegas. Karena waktu untuk mempersiapkan diri hanya tersisa dua puluh tiga menit saja.
Scebu, headlamp, masker, jaket tebal, sarung tangan, celana panjang, sepatu, air, cokelat dan beberapa macam makanan ringan, kertas bertuliskan harapan (kecuali Rahman dan bang Aji), semua sudah siap. Masih seperti biasa. Sebelum memulai langkah pertama, bang Aji selalu meminta mereka berkumpul untuk berdoa.
Bermodalkan cahaya yang terpancar dari headlamp masing-masing, mereka menembus gelapnya malam. Jalan setapak yang berkelok, terjalnya bukit, panjangnya tanah berpasir, suhu 12^C, semuanya itu bukan halangan.
Hampir empat jam perjalanan telah mereka tempuh. Ribuan langkah telah tertinggal di belakang, berbagai rintangan telah berhasil mereka lewati. Kini, matahari yang kemarin pergi, datang kembali dari sisi sebelah timur bumi. Dan atas perintah bang Aji, mereka mempercepat langkah. Mendaki, terus mendaki hingga sampailah mereka di puncak Gunung Rinjani.
Bermacam ekspresi terlihat di atas sana. Doni mengangkat kedua tangannya dan berteriak. Bang Aji tersenyum. Keempat teman sependakian lain berputar-putar menikmati pemandangan sekeliling. Rahman bersujud mengucap syukur.
Lihatlah keindahan puncak Gunung Rinjani ini. Sunrise-nya, gumpalan-gumpalan awan tebal di sisi kanan menutupi sebagian penampakan Danau Segara Anak. Sementara di sisi kiri, menampakkan danau mati. SubhanAllah, mereka sepertinya sedang berdiri di atas awan.
Sepuluh menit di puncak Gunung Rinjani.
Doni meminta Rahman untuk mengabadikan gambar dirinya bersama harapan yang dituliskan untuk Ayah dan Bunda. Ia juga menyempatkan diri meminta bantuan seorang pendaki di luar kelompok mereka untuk mengabadikan gambar tujuh orang pendaki yang telah terdaftar secara resmi dalam buku sejarah pendakian Gunung Rinjani.
__ADS_1
Gambar itu nantinya akan menjadi saksi bisu bahwa mereka pernah bersama-sama dalam satu tim guna menaklukkan ketinggian fantastis Gunung Rinjani, 3726 Mdpl.
***