Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
5. Bukan Tidak Mungkin


__ADS_3

Hujan siang itu telah reda.


Doni terlihat memegangi kedua bagian lututnya dan berusaha mengatur nafas. Persis seperti orang yang sedang rukuk. Tidak ada tanda-tanda yang terpancar dari raut wajah Doni kecuali pertanda sebuah keseriusan. Nafasnya pun masih ngos-ngosan karena baru saja berlari menuruni puluhan anak tangga dari lantai dua.


Doni adalah sahabat Rahman di kampus. Sekali waktu ia pernah mampir di rumah saat mengantar Rahman pulang. Tubuhnya gendut. Sehingga kalau mereka jalan berdampingan, mereka persis seperti angka 10.


“Ada apa Don? Kau seperti baru dikejar anjing galak saja.”


Rahman tersenyum dan meminta Doni untuk duduk di sampingnya.


“Sekarang lepas sepatu dan tasmu di sini, aku yang jaga. Tempat wudlu di sebelah sana.” Lanjutnya.

__ADS_1


Doni mengangkat tubuhnya dari posisi rukuk. Sepatunya masih belum dibuka, meski tas punggung bermotif batik Jogja sudah diletakkan bersandar pada pilar penyangga mushalla. Sebenarnya tanpa ditunjukkan pun, Doni tahu dimana letak tempat wudlu laki-laki. Hampir dua tahun mereka berada di lingkungan kampus ini, jadi bagaimana mungkin Doni tidak tahu?


“Shalatnya nanti saja. Ayo, aku temani kau menemui pak Muttaqillah.”


Rahman menoleh ke arah Doni. Helaan nafasnya terdengar sedikit berat, seberat kepalanya yang didongakkan ke langit. Sekejap mulai berbagi ilmu pengetahuan tentang peristiwa bersejarah di balik turunnya perintah shalat. Doni hanya terdiam. Mendengarkan.


“Suatu malam, Nabi Muhammad Saw diperintahkan oleh Allah Swt untuk melakukan perjalanan panjang yang penuh dengan keajaiban dan hikmah. Beliau ditemani oleh Malaikat Jibril As. Namun sebelum memulai perjalanannya, Malaikat Jibril As membelah dada Beliau dan mensucikan hatinya menggunakan air zam-zam. Barulah setelahnya perjalanan panjang itu dimulai. Berawal dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, terus naik ke langit sampai tiba di Sidratul Muntaha.


Sesampainya di Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril As mundur. Tinggallah Nabi Muhammad Saw berjalan sendiri menemui Allah Swt. Dari pertemuan itu, Beliau dan seluruh ummatnya diperintahkan oleh Allah Swt untuk melaksanakan shalat 50 waktu sehari semalam. LIMA PULUH WAKTU, BUKAN LIMA!”


Rahman kembali menoleh. Helaan nafasnya terdengar lagi. Lebih keras, lebih berat. Suaranya pun sedikit tertahan, bergetar. Kedua pasang matanya berkaca-kaca. Sementara Doni semakin membisu.

__ADS_1


“Tapi ketika Nabi Muhammad Saw turun dari langit tertinggi, Beliau bertemu dengan Nabi Musa As di langit keenam dan menyuruh Beliau meminta keringanan. Nabi Muhammad Saw kembali naik menemui Allah Swt. Akhirnya dikurangi 5, menjadi 45. Saat turun dari langit tertinggi untuk kedua kalinya, Beliau kembali bertemu Nabi Musa As di tempat yang sama. Nabi Musa As pun menyuruhnya melakukan hal yang sama; meminta keringanan. Begitu seterusnya.


Setelah sembilan kali naik-turun menemui Allah Swt, Nabi Musa As masih saja menyarankan kepada Nabi Muhammad Saw untuk meminta keringanan kepada Allah Swt. Tapi Beliau malu untuk bernegosiasi lagi dengan Allah Swt. Ditetapkanlah 5 waktu shalat sehari semalam.”


Rahman tertunduk. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia hanya ingin mengingatkan, bersegeralah! Sebab shalat adalah salah satu jalan terbaik menuju Syurga. Juga merupakan magnet bagi perbuatan-perbuatan baik lainnya. Lagipula, tidak ada jaminan untuk hidup kita terus berlanjut. Bukan tidak mungkin, satu menit kedepan kita sudah tidak bisa lagi menghirup udara dunia. Maaf, bukan berarti shalat Rahman sudah sempurna dan diterima oleh Allah Swt. Tapi setidaknya ia benar, alangkah baiknya jika bersegera dalam menunaikan shalat.


Doni sempurna membisu. Air matanya tidak sanggup ditahan setelah mendengar penjelasan dari Rahman. Pun ia tidak menunda-nunda lebih lama lagi untuk segera menunaikan shalat dzuhur.


Selepas shalat, Doni menemani Rahman menemui pak Muttaqillah.


***

__ADS_1


__ADS_2