Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
23. Mereka Juga Keluargamu


__ADS_3

“Bi, bibi.”


Doni setengah teriak dari luar pintu rumah. Ia memanggil asisten rumah tangga keluarganya. Tidak lama, seorang wanita paruh baya keluar membuka pintu depan. Doni kemudian menyodorkan singkong yang dibawa oleh Inaq. Ia menyuruh bibi menaruhnya di dapur. Lantas mempersilahkan Inaq dan kak Arif masuk. Sementara Rahman didiamkan begitu saja karena ia telah terbiasa di rumah Doni. Ia juga sudah mengenal asisten rumah tangga keluarga Doni.


Di dalam rumah. Doni kembali menyuruh bibi menyuguhkan minuman untuk mereka. Kini Inaq, kak Arif, dan Rahman tengah duduk di sofa cokelat tua yang tertata rapi di ruang tamu. Tapi tidak untuk Doni, karena ia beranjak mengambil smartphone miliknya yang tertinggal di dalam mobil.


SubhanAllah. Bagaimana mungkin Doni bisa nyaman saat berada di rumah kita? Sementara rumah ini begitu besar dan indah. Ia pun tidak perlu kesana kemari, ada asisten rumah tangga yang siap mengerjakan segala sesuatunya. Inaq heran, sekaligus kagum. Matanya melihat sekeliling. Kak Arif hanya duduk. Sesekali memperbaiki letak gitar kesayangannya.


“Rahman, bibi belum keluar?”


Belum sempat Rahman menjawab pertanyaan Doni yang baru saja memasuki rumah selepas mengambil smartphone, bibi terlihat melangkah mendekati mereka. Ia membawa minuman dingin dan beberapa toples kue kering. Kemudian meletakkannya di atas meja sembari mempersilahkan tamu anak majikannya itu untuk menikmati suguhannya. Sekejap meninggalkan mereka dengan senyuman setelah menerima ucapan terima kasih dari semuanya, termasuk Doni.


Benar kata Rahman saat mereka bertiga sedang berada di kamar kak Arif waktu itu. Doni memang omnivora alias pemakan segala. Tidak mengherankan jika tubuhnya tumbuh subur. Namun hal itu justru membuat mereka nyaman berada di sini. Mereka merasa bahwa Doni benar-benar memperlakukan mereka dengan baik.


Lihatlah. Ketika Inaq, kak Arif, dan Rahman baru memakan sepotong kue kering, Doni telah menghabiskan hampir setengah toples. Kelakuannya itu mengundang tawa seisi ruang tamu nan mewah itu.


Di tengah riuhnya tawa, suara adzan dzuhur menggema dari masjid yang terletak persis di seberang jalan sana. Doni spontan menoleh ke arah Rahman. Ia tahu betul kebiasaan sahabatnya, sehingga ia tidak perlu lagi bertanya.


Segera saja Doni beranjak dari sofa menuju mushalla kecil di ruang belakang rumahnya. Dan kembali membawa perlengkapan shalat. Ia juga terlihat membawa mukenah ibunya untuk dipakai oleh Inaq. Lantas berangkat bersama-sama menuju masjid Nurul Huda. Inaq dan kak Arif tersenyum melihat perlakuannya itu. Sepertinya Doni memang benar-benar hafal kebiasaan Rahman.


Dua puluh lima menit di masjid. Mereka kembali ke rumah. Sebelum menyeberang jalan tadi, Rahman sempat menjahili Doni. Ia menyingkap sarung Doni dari belakang dan menjadikan dirinya seolah sedang mengendarai cidomo. Doni membalas dengan menendang pelan bokong Rahman. Untuk kesekian kalinya Inaq dan kak Arif tertawa menyaksikan keakraban keduanya.

__ADS_1


“Assalamualaikum. Bibi, Rahman lapar.”


Belum juga sampai pintu depan, Doni berteriak. Ia mencatut nama sahabatnya. Padahal sesungguhnya yang lapar bukan Rahman. Siapa lagi kalau bukan Doni? Tapi bibi sudah hafal mati semua trik anak majikannya itu. Dan tanpa disuruh pun, bibi sudah menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


“Hmm, sedapnya bau.”


Doni menirukan nada suara dari salah satu karakter dalam serial film animasi Upin & Ipin. Kalimat itu sekaligus mempersilahkan keluarga sederhana Inaq menuju ruang makan yang juga terlihat bersih dan mewah.


Selepas makan siang, Doni menyarankan kepada Inaq untuk beristirahat di kamar tamu. Inaq menolak sopan. Ia memilih membantu bibi membereskan bekas makan mereka walaupun tidak diminta sama sekali. Begitulah Inaq. Meski sudah tua, ia selalu saja ingin bekerja. Katanya, badannya justru terasa pegal jika tidak bergerak.


Berbeda dengan Inaq, kak Arif diminta Doni untuk memainkan gitar kesayangannya dan bernyanyi bersama. Kak Arif setuju. Lalu Doni membimbing kak Arif menuju teras depan. Disusul Rahman yang mendapat tugas membawa toples kue kering dan botol minuman dingin.


Lagu pertama berakhir dengan ucapan terima kasih dari Doni. Ia melengkapi hayalannya dengan berlagak seperti seorang penyanyi terkenal sekelas Ariel Noah yang mengucapkan terima kasih seraya mengangkat tangannya ke arah ribuan penonton. Kak Arif dan Rahman hanya tertawa menyaksikan tingkah lucu seorang Doni.


“Don, Ayah dan Bunda pulang dari kantor tuh.”


Sial, suara Rahman mengusir hayalan. Padahal Doni masih ingin menghibur para penggemarnya. Kapan lagi bisa berasa seperti Ariel Noah? Memang, jika ia hanya bersama Rahman, ia tidak pernah begitu heboh menyambut kepulangan orang tuanya. Saat ini berbeda, ada Inaq dan kak Arif. Ia harus memperkenalkan mereka kepada orang tuanya.


Suara salam terdengar lembut dari bibir Bunda. Diikuti Ayah. Serentak ketiganya menjawab salam dari mereka. Lalu Doni berdiri. Begitu pula Rahman dan kak Arif.


“Ayah, Bunda, perkenalkan. Ini kak Arif, kakaknya Rahman. Di dalam juga ada Inaq, ibu mereka.”

__ADS_1


Ayah dan Bunda tersenyum. Mereka pernah mendengar sedikit banyak tentang keluarga sederhana ini dari cerita Doni.


Tadi pagi juga sebelum berangkat menjemput Inaq dan kak Arif, Doni sempat mengabarkan bahwa keluarga Rahman akan menginap di rumah mereka karena besok giliran kak Arif tampil dalam festival musik yang diadakan oleh mas Firmansyah, anak sulung mereka, kakak kandung Doni.


Kak Arif tersenyum. Sedikit menganggukkan kepalanya sebagai sebuah penghormatan. Rahman biasa saja. Ia sudah sering kali bertatap muka dengan orang tua Doni. Sekejap, mereka memasuki rumah bersama-sama.


“Nah, itu Inaq.”


Doni kembali menunjukkan perannya. Kini ia memperkenalkan Inaq. Ternyata Inaq sama seperti kedua buah hatinya. Mudah akrab dengan orang lain. Lihat saja, Inaq dan bibi Ani sedang asyik bercengkerama. Sesekali keduanya terlihat bertukar senyum.


“Waalaikumsalam.”


Inaq menjawab salam dari orang tua Doni. Awalnya Inaq merasa sungkan, karena tidak pernah sama sekali berada di rumah semewah ini. Terlebih kini ia sedang bertatapan langsung dengan pemiliknya.


“Inilah keluarga Rahman yang pernah Doni ceritakan sama Ayah dan Bunda.”


Penjelasan Doni semakin menambah rasa sungkan Inaq. Namun jawaban dari Bunda seakan menjadi pengusir rasa sungkan itu. Betapa mulianya hati mereka yang mengatakan keluarga Rahman juga merupakan bagian dari keluarga besar mereka.


Doni senang mendengar pernyataan orang tuanya. Saking senangnya, ia spontan mencium kening Rahman. Sedetik tersadar dan mendorong tubuh sahabatnya. Kejadian itu mampu melahirkan tawa dari seluruh penghuni rumah mewah tersebut. Tidak terkecuali bibi, asisten rumah tangga Doni.


***

__ADS_1


__ADS_2