
“Kalian harus sekolah. Biarlah Inaq sendiri di sini. Kalian ingat pesan Amaq? Bagaimana pun keadaannya, kalian harus tetap sekolah. Amaq tidak ingin kalian seperti dia. Amaq ingin kalian menjadi anak yang pintar, anak yang sukses, supaya apa yang kalian rasakan saat ini tidak dirasakan oleh anak-anak kalian kelak. Dan satu lagi pesan yang disampaikan oleh Amaq hampir setiap hari. Jangan pernah meninggalkan shalat!”
Kak Arif dan Rahman membisu. Berat rasanya meninggalkan Inaq sendiri. Mereka ingin selalu berada di samping Amaq. Terlebih dalam keadaan seperti sekarang. Terbaring lemah tidak berdaya. Bahkan untuk bernafas sajaAmaq harus menggunakan alat bantu.
Saat ini kak Arif berumur sembilan tahun, Rahman tujuh tahun. Mereka masing-masing kelas 3 dan kelas 2 Sekolah Dasar. Kak Arif mulai sekolah pada usia tujuh tahun. Sementara kecerdasan otak Rahman dinilai mampu bersaing dengan anak-anak lain yang berusia satu tahun di atasnya. Itu sebabnya Rahman diterima untuk mulai sekolah pada usia enam tahun.
“Pulanglah. Sudah dua hari kalian tidak masuk sekolah. Inaq yakin, kalau Amaq tahu, kalian pasti akan mendapat teguran.” Inaq melanjutkan perkataannya sambil mengelus rambut kedua buah hatinya. Sementara Amaq masih saja terpejam. Dua hari sudah Amaq tidak sadarkan diri.
Pagi kesekian datang menyapa desa.
Sekawanan burung terbang meninggalkan sarang. Para petani berelok-elok pergi ke sawah. Dua bocah lelaki jalan berpelukan, tidak bicara. Sekali-dua saling menoleh satu sama lain, tetap tidak bicara. Seberapa parah penyakit Amaq? Sampai kapan Amaq akan terpejam? Ya Allah, tolong sembuhkan Amaq. Angkatlah penyakitnya.
“Ibu Huniah.”
“Iya, benar. Saya sendiri.”
Dokter Puskesmas itu berdiri. Di sampingnya terlihat seorang perawat muda. Wanita. Lebih muda daripada pak Dokter.
“Bapak Amien harus segera dirujuk ke rumah sakit.”
“Maksud pak Dokter?”
“Sekarang ibu ikut ke ruangan saya.”
Pak Dokter tersenyum saat melangkah keluar. Inaq mengangguk. Perawat wanita itu terlihat memeluk sebuah buku besar. Mungkin daftar nama-nama pasien, atau mungkin catatan tentang perkembangan kesehatan Amaq. Lalu berbalik menuntun Inaq menuju ruangan Dokter.
Jarak antara ruangan tempat Amaq dirawat dengan ruangan Dokter tidaklah begitu jauh. Hanya berjarak dua puluh detik saja. Namun langkah Inaq terasa begitu berat. Rasanya lantai sepanjang lorong Puskesmas bagaikan ladang duri. Kepalanya pusing. Fikirannya melayang tidak karuan.Perasaannya pun bercampur aduk. Sempat juga perawat itu terkejut ketika menahan tubuh Inaq yang hampir jatuh. Sementara pak Dokter sudah memasuki ruangan.
***
“Yeeee…..!”
Sorak sorai terdengar memenuhi setiap sudut bangunan sekolah. Hari ini para guru akan melakukan rapat bulanan. Seluruh siswa-siswi diperbolehkan pulang lebih awal.
Seharusnya ini menjadi kabar gembira kalau saja Amaq tidak sedang dirawat di Puskesmas. Betapa tidak, setiap hari liburan sekolah tiba, atau pada saat pulang lebih awal begini, kak Arif dan Rahman selalu menyusul Amaq ke sawah.
Berlomba menangkap belalang, menjahili kodok yang diam, memberi makan ikan-ikan di kolam, hingga mandi di kali dekat persawahan. Ah, banyak hal yang bisa mereka lakukan sampai akhirnya mereka tertidur di saung yang sengaja dibuat oleh Amaq di pinggir kolam. Hari ini, suka atau tidak, mereka terpaksa menunda kesenangan itu hingga Amaq sembuh. Semoga saja.
Suasana sekolah masih terlihat ramai. Siswa-siswi berlarian saling mengejar. Ada yang sekedar berjalan sambil sesekali memamerkan lidah mereka yang berubah warna lantaran menghisap permen Jagoan Neon. Satu-dua berbuat jahil kepada sesama teman.
Tidak satu pun siswa-siswi di sekolah yang merasa tidak senang menerima kabar tentang acara rapat bulanan guru-guru mereka. Bahkan kalau perlu, rapat jangan hanya diadakan sekali dalam sebulan, tapi setiap hari. Kecuali dua bocah lelaki di depan gerbang sana. Mereka saling menatap, sama sekali tidak terpengaruh dengan kesenangan teman-teman lain. Di antara kedua bocah lelaki itu, yang lebih tinggi tertunduk.
“Kita langsung ke Puskesmas saja. Kasihan Inaq sendiri di sana.”
Rahman mengangguk. Setuju dengan saran kak Arif. Meski kak Arif lebih tinggi, namun tubuh Rahman lebih gemuk. Lihatlah betapa mereka saling menyayangi. Kak Arif merangkul Rahman, dan selalu berusaha menguatkan. Kak Arif tidak ingin adiknya bersedih. Kenyataannya, jauh di lubuk hati terdalam, kak Arif pun merasakan kesedihan yang teramat menyesakkan.
__ADS_1
Separuh jalan menuju Puskesmas.
“Kak, Rahman haus.”
“Sabar yah, sebentar lagi kita sampai.”
Kak Arif mengelus kepala adiknya. Menoleh. Rahman mengangguk. Memperbaiki posisi topi sekolah bertuliskan Tut Wuri Handayani di kepalanya. Sungguh, kak Arif tidak berniat untuk berbohong kepada Rahman. Ia hanya ingin menguatkan. Sebab sebenarnya, jarak antara sekolah dengan Puskesmas lumayan jauh. Dan mereka baru saja menempuh separuh jalan. Melangkah, lalu lagi melangkah.
“Kak, Rahman capek. Rahman mau minum, haus.”
Rahman berhenti. Sekejap jongkok. Kak Arif menoleh. Menghela nafas.
“Sini, kakak gendong. Supaya kau tidak capek lagi.”
Kak Arif ikutan berjongkok. Kedua tangannya mencoba mengangkat tubuh Rahman. Meski berusaha lagi, kak Arif tetap tidak mampu mengangkat tubuh gemuknya.
Bismillah, kak Arif mengerahkan seluruh tenaganya. Namun hal itu justru membuat Rahman merasa geli karena tangan kak Arif seperti menggelitik pinggangnya. Kak Arif semakin bersemangat menjahili adiknya.
Rahman tidak tinggal diam. Ia balas menggelitik kak Arif, tapi kak Arif langsung melepas pelukannya untuk menghindar. Topi sekolah Rahman diambil, lalu dibawa lari. Langsung saja Rahman mengejar.
Hilang sudah semua lelah. Hilang sudah rasa dahaga. Karena akhirnya mereka bisa sama-sama tertawa dan melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas.
***
“Silahkan, Bu.”
“Suami saya sakit apa, pak Dokter?”
“Sebelumnya saya minta maaf. Ibu tahu sendiri, di Puskesmas ini kita tidak memiliki peralatan yang memadai. Saya khawatir kalau harus menahan suami ibu lebih lama lagi di sini. Kami telah berusaha semaksimal yang kami bisa. Tapi sudah seharusnya…”
Dokter itu berdehem, ia menahan perkataannya.Inaq tahu, pak Dokter menyimpan kabar kurang baik. Bahasa tubuhnya menyampaikan hal itu.
“Suami ibu mengalami penyakit yang cukup parah. Ada cairan menggumpal di paru-parunya. Hal itulah yang menyebabkannya susah bernafas dan belum sadarkan diri sampai saat ini.
Sekali lagi maafkan kami, bu. Saran saya, suami ibu harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk dioperasi. Hanya itu alternatif terbaik agar suami ibu memiliki harapan yang lebih baik.”
Inaq terkejut. Untuk kesekian kali Inaq menelan ludah. Ya Allah, separah itukah penyakit Amaq? Kalau memang harus dioperasi, biayanya pasti mahal. Dua hari di Puskesmas saja sudah cukup menguras tabungan. Inaq sudah tidak punya uang lagi.
Bagaimana pun, selain biaya rumah sakit, Inaq juga harus menyiapkan biaya transportasi. Satu-satunya rumah sakit terdekat adalah di kota Kabupaten. Jaraknya cukup jauh dari desa. Inaq pusing. Fikirannya terpecah belah. Setengah kepala memikirkan keadaan suami tercinta. Sisanya memikirkan nasib kedua buah hati mereka. Seandainya Inaq pergi, siapa yang akan menjaga mereka? Mereka tidak mungkin ikut. Apapun yang terjadi, mereka harus tetap sekolah.
“Baik, pak Dokter.” Lanjut Inaq.
Langkah gontai dan isak tangis membawa Inaq sampai di ruangan tempat Amaq dirawat. Ia menatap dalam sekujur tubuh kekar yang terbaring di atas kasur Puskesmas itu. Tangan kanannya mengelus lembut wajah Amaq.
Amaq tidak bergerak sama sekali. Ia masih terpejam. Namun, Inaq melihat sebulir air keluar dari sudut mata suaminya. Kemudian menetes hingga menyentuh bantal putih yang menyangga kepalanya. Bukan kah itu merupakan suatu pertanda bahwa Amaq juga bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Inaq? Perhatikanlah, betapa kekuatan batin antara mereka begitu kuat. Walau kini, kekuatan itu tidak cukup mampu membangkitkan Amaq dari masa kritisnya.
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
Inaq bergegas menghusap air matanya. Ia berusaha tersenyum menjawab salam dari kedua buah hatinya. Dan secepat kilat, canda tawa kedua bocah lelaki itu menghilang. Berganti mematung, saling menatap satu sama lain.
Kak Arif berusaha untuk tetap tegar. Ia hanya ingin meyakinkan bahwa Amaq telah berhasil membentuk karakternya menjadi pribadi yang kuat, tegas, pantang menyerah, dan tidak mudah menangis. Berbeda dengan Rahman, ia tidak setegar kak Arif. Karena melihat Inaq menangis, ia ikut menangis.
“Kenapa Inaq menangis? Apakah Amaq belum juga membuka mata?”
Inaq menggeleng. Matanya masih basah. Entahlah, pertanyaan mana yang dijawab oleh Inaq dengan menggelengkan kepala. Diam sejenak. Hanya tangisan Rahman yang terdengar. Benar-benar pagi yang menyudutkan.
Inaq tidak memiliki pilihan lain. Satu-satunya harta yang bisa mengantarnya sampai ke rumah sakit kota kabupaten adalah dengan menjual kolam pemberian pak Karim. Berat memang, tapi hanya itu yang bisa dikorbankan demi kesembuhan suami tercinta, Amaq dari kedua buah hatinya. Setelah memantapkan hatinya, Inaq bergegas pulang, menitipkan Amaq dan Rahman kepada kak Arif.
Hari menjelang maghrib. Inaq belum juga kembali. Meski begitu, kak Arif tetap setia duduk di samping Amaq. Rahman tertidur. Dua waktu shalat tidak terlewatkan.
“Pak Dokter! Pak Dokter! Tolooong!”
Kak Arif tiba-tiba berteriak. Ia berlari mendekati pintu. Rahman bangun karena terkejut. Kedua tangan mungilnya menggenggam tangan Amaq. Amaq terbatuk. Kejang-kejang. Bercak darah keluar dari mulutnya.
“Ada apa?! Ya Allah. Kau periksa selangnya. Dan kau, tolong tenangkan anak-anaknya.”
Dokter itu panik. Kedua tangannya disilang. Terus berusaha menekan-nekan dada Amaq. Satu perawat wanita memeriksa selang oksigen. Satu lagi merangkul kak Arif dan Rahman. Sementara Inaq belum juga kembali.
“Amaq!”
Runtuh sudah kekuatan kak Arif. Ketegarannya pun sekejap menghilang. Ia menangis. Tidak kuasa melihat keadaan Amaq. Bercak darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Bahkan menetes hingga ke seprei. Sekali. Dua kali. Pak Dokter mengulangi usahanya menyadarkan Amaq.
Lima detik. Sepuluh detik.
Kejang-kejang Amaq berhenti. Mata seorang perawat terlihat berkaca-kaca. Perawat satunya melepas kak Arif dan Rahman dari pelukannya. Kemudian mereka langsung menyambar tubuh Amaq sambil menangis. Tangan-tangan mungil mereka menggerak-gerakkan tubuh Amaq. Berharap agar Amaq membuka matanya. Sia-sia.
Inaq mematung. Ia sedari tadi telah berdiri di depan pintu. Kresek hitam di tangannya terjatuh. Sekejap berlari memeluk suaminya, juga kedua buah hati mereka. Seketika itu, ruangan tempat Amaq dibanjiri air mata.
Terlambat. Meskipun kolam ikan telah terjual, dan segala keperluan untuk pergi ke rumah sakit kota kabupaten sudah dipersiapkan. Namun seorang pejuang sejati lebih dulu memulai kehidupannya yang abadi.
“Bersabarlah, nak. Amaq pergi untuk membangun istana di Syurga sana, untuk kita. Berdoalah agar kelak kita bisa dipertemukan kembali.”
***
“Maaf, Arif tidak bermaksud membuat Inaq bersedih. Tapi sejujurnya, sampai kapan pun Amaq akan selalu ada di sini!”
Kak Arif menunjuk hatinya. Menghela nafas. Inaq tersenyum saat tangan kak Arif berganti menghusap air matanya.
Senja telah datang.
Kak Arif memasukkan gitar kesayangannya ke dalam tas. Inaq berdiri. Wajahnya masih terlihat sedih. Sepertinya Inaq memang sangat merindukan belaian kasih sayang dariAmaq. Sama seperti kak Arif, juga Rahman. Tapi mereka sadar, hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
__ADS_1
Sudahlah. Mereka beranjak pulang, meninggalkan sungai bersama kerinduan yang teramat dalam. Semakin melangkah, bertambah dalam.
***