
Dua hari berlalu.
Inaq, kak Arif, dan Rahman tidak lagi berada di rumah Doni. Mereka telah kembali ke desa dan melakukan rutinitas mereka sebagaimana biasa. Menjual kangkung-kangkung segar di pasar tradisional.
Larangan kesekian keluar dari mulut kak Arif. Cukup, ia tidak ingin lagi melihat Inaq ikut berjualan kangkung di pasar tradisional. Sudah seharusnya Inaq berhenti melakukan aktivitas ini. Dan menyerahkan sepenuhnya tugas itu kepadanya.
“Lebih baik kau diam di rumah, temani Inaq.”
Kak Arif berseru kepada Rahman yang menawarkan diri menemaninya berjualan kangkung di pasar tradisional. Inaq tertunduk. Ia merasa menjadi beban bagi kedua buah hatinya. Itu tidak benar. Karena mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka lah yang menjadi beban buat Inaq selama ini.
Hari ini, kak Arif ke pasar sendirian. Selepas shalat subuh tadi, ia menerbangkan harapannya ke langit bersama serangkaian do’a yang dipanjatkan. Harapan yang lebih besar daripada sekedar menjuarai festival musik di kota provinsi.
__ADS_1
Dengan langkah pasti, kak Arif memikul kangkung-kangkung segar ke pasar tradisional. Kesegaran kangkung-kangkung bertambah sebab udara dingin pagi terasa tidak seperti biasa. Lebih dingin. Matahari pun belum memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya.
“Semoga tidak turun hujan.”
Bertambah satu lagi harapan yang terselip di hati kak Arif. Ia mendongak ke langit. Tatapannya seakan memberi sinyal bahwa ia bersungguh-sungguh dalam berharap. Sama bersungguh-sungguhnya dalam menggantikan peran Inaq berjualan kangkung di pasar tradisional.
Belum juga sampai di pasar tradisional, rintik air hujan terasa menyentuh ujung rambutnya. Menetes di antara kerutan dahinya, terus merayap hingga menyentuh sudut bibir yang belum menebar satu pun senyuman untuk hari ini. Hujan turun lebat.
Di bawah naungan atap ruko yang masih tertutup rapat, kak Arif menoleh ke arah bakul. Ia melihat butiran-butiran air hampir di setiap helai daun kangkung yang dibawa. Sekali lagi, ia menghela nafas. Lebih panjang. Lebih berat. Tidak ada jalan untuk menjual kangkung-kangkung segar ini.
Apa yang hendak dikatakan kepada Inaq jika ia memilih pulang? Bagaimana pula perasaan Inaq melihat kangkung-kangkung ini masih dalam keadaan sama seperti saat dibawa tadi? Tapi sampai kapan ia harus tinggal di sini? Sementara hujan sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda untuk berhenti. Bahkan hujan turun semakin deras. Ya Allah, Engkaulah pemilik rencana terbaik.
__ADS_1
Hatinya sudah mantap. Kak Arif beranjak pulang dengan setengah berlari menembus derasnya air hujan. Ia membuang harapannya agar hujan segera berhenti. Namun masih menyimpan harapannya untuk bertemu ibu Diana. Tepatnya dengan Diana sendiri.
“Ya Allah kak Arif, kenapa tidak tunggu hujan reda dulu baru pulang?”
Rahman melihat kak Arif basah kuyup. Ia bergegas masuk. Kak Arif masih berdiri di depan pintu. Bakul kangkung telah diletakkan. Ia melepas bajunya yang basah. Tangannya aktif bergerak di sekitaran rambut. Sekali-dua menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit keras. Namun derasnya air hujan sanggup membuat rambutnya basah dari ujung sampai ke akar.
“Pakai ini, kak.”
Rahman kembali membawa handuk berwarna biru. Segera, kak Arif mengambilnya dari tangan Rahman. Lalu mengeringkan rambut, juga menghusap sekujur tubuhnya. Sekejap masuk kamar, mengganti pakaian.
Sejak kepulangannya, sampai telah berganti pakaian, kak Arif belum melihat Inaq. Dan jawaban Rahman mengantarkannya menemui Inaq di kamar. Sedikit khawatir, sebab tadi, Inaq terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
***