
Hari baru datang menjelang. Kehidupan terus berjalan. Sebentar lagi, pengalaman baru akan tercipta. Dan pastinya tidak terlupakan. Doni dan Rahman terlihat sudah siap. Mereka berdiri menghadap jalan, menunggu sebuah mobil datang menjemput.
Semalam, Doni telah menghubungi salah satu jasa angkutan yang sesuai jalur tujuannya. Sebentar, dapat. Tapi ia harus rela berbagi tempat dengan lima orang lain. Setuju. Dengan begitu, biaya sewa mobil tidak ditanggung sendiri.
“Kenapa mobil jemputan belum juga datang? Kau tidak salah memberikan alamat kita, kan?”
Rahman tidak sabar. Ia membenarkan posisi carier merah di depannya. Doni melihat jam tangan, pukul 10.47 Wita. Belum terlambat, masih ada waktu tiga belas menit lagi. Perjanjiannya pukul 11.00 Wita.
“Mungkin sedang di jalan menuju kemari. Kau seperti tidak biasa saja dengan hal seperti ini. Kita hidup di Indonesia, bukan di Jepang. Segala bentuk keterlambatan selalu dapat di-mak-lu-mi.”
Doni bergurau. Lalu tertawa. Rahman menggeleng. Ingin rasanya merubah kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang membudaya di kalangan masyarakat. Sudah terlalu banyak kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang dianggap lumrah untuk dilakukan. Tapi mari kita melihat kenyataan. Rahman bukan Walikota, bukan Gubernur, apalagi Presiden, bukan. Sudahlah, setidaknya Rahman berusaha menghindari kebiasaan-kebiasaan kurang baik tersebut.
“Mungkin ini mobilnya.”
“Mungkin? Jadi kau tidak tahu mobil mana yang akan menjemput kita? Aduh Don, aku fikir kau menelpon temanmu. Atau paling tidak kau kenal dengan orang yang akan menjemput kita.”
“Mana mungkin aku tahu! Nomor teleponnya saja aku dapat di kertas yang tertempel di tiang listrik.”
Tanpa rasa bersalah, Doni tertawa lagi. Arg, Rahman mengayunkan tangannya.Sedikit kesal dengan kelakuan Doni.
Waktu terus berjalan. Doni kembali melihat jam tangan, pukul 11.13 Wita. Bukan, mobil tadi mobil barang. Terhitung lebih dari sepuluh mobil bak terbuka telah melintas di jalanan kota, tapi tidak satu pun mobil yang berhenti. Sampai kapan keterlambatan menjadi suatu kewajaran?
Tidak berselang lama, sebuah mobil bak terbuka tipe L-300 berhenti persis di hadapan mereka. Mobil itu berwarna hitam, dan di beberapa bagian body mobil menampakkan cat yang sudah terkelupas. Maklum, mobil tipe ini tergolong mobil tua. Di atas bak mobil, terlihat ada lima orang laki-laki sedang duduk di samping carier masing-masing. Tidak termasuk Doni dan Rahman.
__ADS_1
“Akhirnya. Ayo naik.”
Doni mengangkat carier birunya dari trotoar. Kelima laki-laki itu bergeser. Orang terdekat membantu meraih carier Doni. Doni naik.Giliran Rahman mengangkat carier merahnya, dibantu Doni. Rahman pun naik.
Kini, mobil tua tersebut telah mengangkut tujuh orang calon pendaki berbeda usia, berbeda daerah asal, namun mereka dipersatukan oleh tujuan yang sama. Yaitu mencatatkan nama mereka masing-masing dalam buku sejarah pendakian Gunung Rinjani.
***
Di desa sana. Lima puluh kilometer dari kota provinsi.
Demi menebus kesalahannya, kak Arif memutuskan untuk membantu Inaq berjualan kangkung di pasar tradisional. Hari ini,kak Arif mengenakan kaos oblong merah dibalut celana pendek hitam.
Seperti halnya Doni dan Rahman, ini adalah pengalaman pertama bagi kak Arif. Sebelumnya, kak Arif tidak pernah sama sekali terlibat transaksi langsung di pasar tradisional. Pasar saham? Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, mungkin saja.
“Kau berbakat menjadi pedagang. Dan sejujurnya, kau memang tampan. Mirip dengan Amaq sewaktu muda dulu.”
“Sssttt, Amaq sedang sibuk membangun istana di Syurga sana. Jadi jangan diganggu. Satu lagi. Arif akan menjadi musisi terkenal, bukan pedagang.”
Kak Arif menoleh. Ia mengisyaratkan kepada Inaq untuk diam dengan menempelkan telunjuk kanannya di bibir. Inaq mengangguk. Tersenyum.
Hari beranjak siang.
Para pedagang berangsur pulang. Suasana pasar tradisional mulai terlihat sepi. Sementara kangkung dalam bakul masih tersisa sedikit,tujuh ikat saja. Tidak ada masalah, mereka berkemas dan bersiap untuk pulang.Kak Arif yang bertugas membawa bakul kangkung. Untuk seorang pemula, pencapaian kak Arif merupakan awal yang baik.
__ADS_1
Berjualan di pasar tradisional tidaklah semudah kelihatannya. Selain membutuhkan kemampuan, juga membutuhkan mental yang kuat. Sangat berbeda dengan berjualan di pasar-pasar modern seperti minimarket, supermarket, ataupun mall.
“Maaf, kangkungnya masih ada? Saya mau beli sepuluh ikat.”
Saat kak Arif hendak mengangkat bakul, seorang ibu bersama seorang gadis berkerudung tiba-tiba datang menghampirinya. Kak Arif terdiam ketika matanya menatap wajah gadis berkerudung yang berdiri tepat di samping si ibu.
“Masih bu, tapi sisa tujuh ikat saja.” Jawab Inaq.
“Eh,iya bu.Ini, apa? Erg, kangkungnya ada. Saya masih punya tujuh ikat.”
Si ibu tersenyum melihat kak Arif salah tingkah. Ia tahu, bukankah tadi Inaq sudah menyebutkan jumlah kangkung yang tersisa?
“Saya beli semua kangkungnya, dik. Berapa?”
“Seribu tiga ikat, ditambah tiga ikat, dua ribu. Dua ribu ditambah satu ikat, erg, dua ribu tiga ratus rupiah bu.”
Kak Arif mengakhiri jawabannya dengan tersenyum. Diikuti Inaq yang juga tersenyum. Bukan karena memperlihatkan wujud dari sebuah pelayanan yang baik pada pembeli, melainkan karena melihat anak sulungnya salah tingkah.
Seperti halnya Inaq, si ibu tersenyum saat menyodorkan dua lembar uang kertas yang masing-masing bernilai Rp. 1.000, dan Rp. 2.000, serta merelakan kembaliaannya untuk disimpan oleh kak Arif. Gadis berkerudung itu pun sama, ia tersenyum.
Kak Arif yang dikenal pintar, cerdas, dan kritis, terpaksa harus menanggung malu. Entah fikiran apa yang telah mengacaukan otaknya sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk sekedar menyelesaikan sebuah penjumlahan sederhana.
***
__ADS_1