Hewan Kurban Untuk Ibu

Hewan Kurban Untuk Ibu
24. Keharmonisan Keluarga


__ADS_3

Memang benar festival musik di kota provinsi diadakan oleh mas Firmansyah. Kakak kandung Doni, sahabat Rahman. Tapi bukan berarti ia berhak melakukan apa saja sesuka hati. Semuanya harus berjalan profesional. Karena itu, mas Firmansyah menyerahkan keputusan kepada tiga orang musisi terbaik di kota provinsi untuk memilih siapa orang yang akan berangkat mewakili sekolah musik miliknya pada ajang National Music Fest di Jakarta.


Sejujurnya, secara pribadi mas Firmansyah menyukai penampilan kak Arif tadi sore. Gayanya, suaranya, belum lagi penghayatannya saat menyanyikan lagu Cold Play–Fix You yang sengaja diracik ulang sedemikian rupa untuk melukiskan kepeduliannya terhadap Diana; bikin bulu kuduk merinding.


Mas Firmansyah sempat berfikir bahwa kak Arif memiliki karakter yang sesuai dengan keinginannya. Ia pun yakin, kak Arif adalah calon musisi terkenal. Seperti yang pernah dikatakannya ketika mereka pertama berkenalan di pasar tradisional.


Pertemuan kedua antara mas Firmansyah dengan kak Arif terjadi ketika mas Firmansyah berkunjung ke rumah orang tuanya. Waktu itu, ia datang bersama seorang bocah laki-laki yang masih berusia sekitar empat tahunan. Rahman terdengar memanggilnya dengan nama Raka. Anak yang lucu. Tubuhnya pun persis seperti Doni.


Layaknya pertemuan pertama, pertemuan kedua ini bukanlah suatu kebetulan semata. Mas Firmansyah sengaja menemui kak Arif karena Doni mengabarkan kepadanya bahwa keluarga Rahman sejak kemarin sudah ada di rumah mereka.


Malam itu, kak Arif sedikit terkejut. Bagaimana mungkin orang yang ditemui di pasar tradisional bisa berada di sini, di rumah keluarga Doni? Pun kedatangannya membawa serta seorang perempuan berkerudung dan seorang bocah laki-laki. Yang paling mengherankan adalah ketika kak Arif melihat bocah laki-laki itu berlari menyambar tubuh Bunda Doni. Mereka terlihat sangat akrab.

__ADS_1


“Mah, Ningsih bawa lauk nih buat makan malam.”


Ningsih adalah istri mas Firmansyah, ibu kandung Raka. Ia memperlihatkan dua buah kantong plastik hitam berisi ayam bakar dan dua puluh tusuk sate kambing di tangannya sembari tersenyum kepada semua yang ada di rumah mewah tersebut.


Ningsih kemudian membawa ayam bakar dan sate kambing tersebut ke dapur. Lalu meminta bibi membantunya menyiapkan makan malam untuk mereka. Dan Raka, ia terlihat sangat senang berada di pangkuan neneknya.


Selagi menunggu, mas Firmansyah bergabung bersama keluarganya. Juga keluarga sederhana Inaq yang baru saja didaulat menjadi bagian dari keluarga besar mereka.


Pertama, mas Firmansyah menyapa Doni dan Rahman. Keduanya membalas sapaan mas Firmansyah layaknya Brian dan Leito dalam film District 13.


“Permisi, makanannya sudah siap.”

__ADS_1


Ningsih dan bibi datang menyadarkan kak Arif yang masih diselimuti rasa tidak bercaya. Ah, sudahlah. Siapapun itu, setidaknya ia juga memberi sambutan yang tidak kalah hangat kepada keluarga mereka.


Saat tengah menikmati hidangan makan malam, tiba-tiba tangan mungil Raka mengambil segenggam nasi dari piringnya dan melemparnya ke arah Doni. Ia menangis. Segera, Ningsih berusaha mengambil Raka dari pangkuan neneknya. Raka berontak. Ia kembali melempar Doni. Tangisannya pun semakin keras. Namun hal itu tidak menghentikan kelakuan Doni. Justru ia semakin bersemangat menjahili keponakannya.


“Don, cepat kembalikan!”


Bunda menoleh ke arah Doni yang masih saja tertawa melihat Raka menangis. Sementara anggota keluarga lainnya tidak tahu apa penyebab Raka begitu kesal kepada Doni?


“Cup cup cup. Raka pintar jangan nangis lagi yah. Paman Doni sudah dipukul nih.”


Rahman mengembalikan seiris daging ayam bakar milik Raka. Tadinya, Doni sengaja mengambil ayam itu dari piring Raka. Kemudian ia meletakkannya di piring Rahman. Ia berdalih bahwa Rahman lah yang mengambil jatah ayamnya. Raka tahu, ia melihat sendiri kalau Doni adalah pelakunya. Itu kenapa ia sangat kesal, sampai melempar Doni dengan nasi.

__ADS_1


Senyuman-senyuman kecil menghiasi setiap wajah di balik meja makan tersebut. Kelakuan Doni, kepolosan Raka, perhatian Mama, dan Bunda-nenek Raka, benar-benar mencerminkan keharmonisan sebuah keluarga. Pemandangan itu sekaligus memancing ingatan Inaq menuju satu episode bahagia yang pernah dilewati bersama keluarga saat Amaq masih ada.


***


__ADS_2