Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 21 : Kaca Mata


__ADS_3

Melihat suaminya yg aneh membuat maira bergidik ngeri.. "kenapa tatapannya horor gitu sih, hiiiihhh"


Mau tidak mau Maira pun memasuki kamar pengantin mereka, disana tak terlihat laki-laki yg tak lain dan tak bukan ya suaminya


maira menududukan dirinya di tepi kasur yg begitu empuk rasanya ingin segera merebahkan tubuhnya di sana, namun... "kemana laki-laki itu?" clingak clinguk krn tak melihat batang hidungnya


Cekrek... suara pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah dr sana fabian dengan mengenakan handuk hotel dan berjalan ke arah Maira "Apa kau mau mandi?" tanya fabian pada Maira


Saat maira menatap ke arahnya suaminya yg sedang menggosok² kepalanya setelah mandi dan keramas "Astaghfirullah" maira langsung menutup matanya..


"Apa kau tidak bisa mengenakan pakaianmu sebelum keluar dari kamar mandi? menyebalkan" kemudian ia berlalu pergi memasuki kamar mandi, fabian lagi-lagi terkekeh melihat tingkah istrinya, jelas-jelas mereka sudah menikah masa iya harus setertutup itu


kini fabian mengenakan celana training dan kaos oblong, yang tak mengurangi ketampanannya, sambil membuka laptop dan bersandar di dipan tempat tidurnya, sambil menunggu Maira


Maira yg dikamar mandi masih bingung memikirkan mau tidur dimana sementara mereka ada dikamar yang sama , kurang lebih satu jam maira di dalam kamar mandi yang malah membuat fabian semakin penasaran dan mengetok pintu kamar mandi "Apa kau tidur didalam sana?"


"Bukan urusanmu!" teriak maira dari dalam


Fabian hanya mengangguk-anggukana kepalanya, "Oke baiklah.. aku akan tidur duluan, jika kau ingin tidur disana ambilah dulu selimut agar tidak terlalu dingin" ucap fabian semakin membuat maira kesal


Maira yang mendengar itu hanya menganga tak percaya fan mendelikkan kedua bola matanya.


Karena sudah dirasa pegal berdiri terus dikamar mandi akhirnya Maira pun keluar dengan mengendap-endap berharap laki-laki yang berstatus menjadi suaminya tersebut sudah terlelap karna melihat cahaya lampu yg sudah redup..


Maira keluar kamar mandi dengan tetap menggunakan gamis, khimar panjang dan cadarnya dengan membawa selimut dan bersiap-siap untuk tidur di sofa yg ada di depan tivi.


Fabian yang memang belum tidur hanya melihat kelakuan istrinya yg lucu itu, bagaimana mungkin malam pengantin yg seharusnya sepasang suami istri memadu kasih, jangankan tidur berpelukan tidur aja harus terpisah


Fabian mengerti jika Maira memang belum siap, dia juga takkan memaksanya untuk melakukan itu, pasti dia merasa juga ini terlalu cepat baginya

__ADS_1


saat tak terdengar suaranya lg yg bergerak-gerak, fabian memberanikan turun dr kasurnya dan melihat apa dia benar-benat sudah tidur atau belum.. dan ternyata benar saja Maira sudah terlelap


"Bisa-bisanya dia tidur dengan mengenakan pakaian seperti ini" fabian menggeleng-gelengkan kepalanya


"Aku masih penasaran dengan wajahnya ketika tak mengenakan cadar dari dekat, meskipun dulu beberapa kali melihatnya namun tak sedekat ini.


Fabian ingin sekali memindahkan istrinya ke kasur, namun fabian tak ingin maira bertambah tak menyukainya karna telah menyentuh tanpa sepengetahuannya, meskipun maira telah sah menjadi istrinya fabian akan tetap menjaga sampai maira benar-benar siap menjadi istrinya seutuhnya


**


keesokan paginya.. "Astaghfirullah udah jam 5, apa alarmku gak berbunyi ya" maira berbicara sendiri yg masih sambil terduduk di sofa dan sedikit mengangkat kedua tangannya hendak merenggangkan tubuhnya yg terasa kaku.


Saat melewati tempat tidur, ia melihat suaminya yg masih terlelap "Apa dia sengaja bergaya sok tampan seperti saat tertidur, aaah.. mungkin dia menaruh camera cctv di ruangan ini, heemmm.." lalu ia berlalu ke kamar mandi


Fabian rasanya ingin tertawa sekencang-kencangnya mendengar perkataannya istrinya yg lucu itu


Fabian sudah terbangun saat alarm di hp maira berbunyi, lalu ia mematikannya agar tak mengganggu istirahat istrinya, ia juga berniat membangunkannya di jam 5 namun malah maira terbangun sendiri


Saat maira keluar kamar mandi dan hendak menunaikan shalat subuh fabian menanyainya "Kau sudah bangun"


"Belum ini kuntilanak" jawabnya dengan jutek.. "Bagaimana bisa dia bertanya aku sudah bangun atau belum sementara aku berjalan di hadapannya.


08 : 09 Sedang sarapan dikamar hotel berdua, krn fabian meminta pelayan untuk membawakan mereka sarapan ke kamar


"Pagi ini kita akan langsung ke rumah kita" fabian membuka suara dari keheningan


Maira hanya menganggukkan kepalanya "Aku butuh barang-barang yg masih dirumah bunda"


"Itu biar nanti kita bawa pelan-pelan gak harus semuanya skrg.. supaya kau bisa istirahat disana" ucap fabian yang terus menatap intens istrinya yg sampai sarapan pun belum membuka cadarnya

__ADS_1


Fabian hanya bisa memperhatikan kulit dan jari jemari tangan istrinya yg putih dan lentik "Maa Syaa Allah" tiba-tiba fabian mengucapkan itu membuat maira menatapnya lalu fabian membuang pandangannya ke segala arah


Maira pun melanjutkan sarapannya juga dengan fabian, seelah mereka selesai sarapan kemudian membereskan barang-barang yang harus mereka bawa pulang


Maira selesai lebih dulu membereskan seluruh koper-kopernya, lain hal dengan fabian laki-laki itu kerepotan padahal hanya membereskan barang-barangnya sendiri atau hanya mencari perhatian Maira agar mendapat bantuan.


Saat memasuki kamar mandi fabian di kejutkan dengan dalaman kaca mata maira yg mungkin saat maira membereskannya kemudian terjatuh "benda apa ini" lalu fabian keluar kamar mandi


"Apa ada barang-barangmu yg masih tertinggal?" tanya fabian pada Maira


Maira hanya menggelengkan kepalanya


"Yaaakiin" fabian memastikan lagi


Maira kembali menggelengkan kepalanya


"Lalu ini apa?" fabian mengangkat bra maira tinggi, membuat penampakan itu jelas


Maira yang melihat itu langsung syok bukan main, dan membuka kedua matanya lebar-lebar, mulutnya menganga jika terlihat, kini maira setengah berlari mengambil ********** cepat-cepat dari tangannya Fabian


Saat hendak mengambil itu, maira menabrak tubuh sixfek dan dada bidangnya fabian, yang membuat darah fabian berdesir seperti tersengat aliran listrik saat bersentuhan se intim itu dengan istrinya, karna fabian takut tak dapat menahan dirinya akhirnya menyerahkan benda berharga itu pada Maira


Jangan tanya bagaimana Maira, wajahnya memerah malunya berlipat-lipat..


kini mereka sudah memasuki mobil dan berjalan pulang setelah berpamitan kepada kedua orang tua dan mertuanya yg masih di hotel, Maira masih malu atas kejadian tadi rasanya ingin benar-benar menghilang saat itu juga dari hadapan fabian.


Fabian yang biasanya membuka suara kini diam seribu bahasa, dan fokus menyetir, diam bukan karna marah ataupun kesal pada istrinya, namun sedang menahan diri dari hasratnya yang tiba-tiba naik


Maira yg melihat itu heran "Ada apa dengannya" gumamnya dalam hati

__ADS_1


__ADS_2