
Bak sepasang kekasih yang lama tak bertemu dan merindu, entah sejak kapan Maira & Fabian sudah saling menautkan bibir mereka yang jelas, ke inginan suaminya tak bisa ia menolaknya
Setelah beberapa menit...
"Mmppphhh.." Maira memukul-mukul dada bidang suaminya ia hampir kehabisan nafasnya krn ulah Fabian
Fabian melepas panggutannya dari bibir sintal sang istri, Maira cemberut melihat kelakuan Fabian "Kamu hampir saja membunuhku mas"
Fabian tak mengindahkan ucapan istrinya "Aku selalu menginginkanya sayang" ucapnya seraya mengelus bibir Maira yg basah dan sedikit bengkak krn ulahnya
"Apa kita akan melakukannya disini?" Goda Fabian
"Aaaiiiyy.. sakit sayang" pekik Fabian kena pukulan Maira sambil mebelalakan matanya tak percaya
"Apa Mas tidak bisa menahannya sedikit sampai sembuh, kita bisa melakukannya di rumah" Maira menundukkan wajahnya ketika mengatakan itu krn sangat malu tentu saja dengan wajah yg sudah merah merona
"Sayaaang.. aku laki-laki normal dan kau perempuan, aku tak sama sepertimu, kebutuhan lebih dari pada kebutuhanmu untuk hal itu" sambil terus menerus mendusel-duselkan wajah di leher Maira
.
"tapi kan mas.. ini rumah sakit, dan keadaanmu belum pulih, tapi kenapa otakmu mendadak mesum spt ini?" geram Maira
"Heumm.. " Fabian tak mendengarkan istrinya dia terus bergelendot bak anak bayi menginginkan ASI (hihihi)
"Astagfirullah mass.. geli tau iiiih.." tutur Maira seraya menjauhkan kepala Fabian yg terus nempel di lehernya, Maira khawatir ia juga tak bisa menahannya jika suami menggoda terus seperti itu
"Ayolah sayaang.. sedikit saja" Masih dengan menyusupi leher istrinya
cekleek...
Suara pintu terbuka, ternyata benar saja ada suster disana sdh membawa beberapa botol kecil untuk di masukan ke infusan Fabian
Fabian melengos membuang muka dari perawat itu karna tak suka ada yang mengganggunya ketika sedang bermesraan dg sang istri, dia sendiri tak menyadari bahwa itu rumah sakit dimana doktwr dan perawat bebas lalu lalang keluar masuk ruangannya untuk memeriksakan keadaannya
kini suster menyuntikan obat-obatan itu dalam karet selang infus
"Apakah tidak ada pasien lain selain saya sus?" ucap Fabian masih tak menatap perawat di sampingnya
"Maaas..." Maira menyenggol lengan suaminya
Suster itu tersenyum "Apa saya mengganggu istirahat anda tuan?"
"Hmm.." Sahut Fabian dengan deheman
__ADS_1
"Baiklah.. ini obat terakhir malam ini, dan akan di cek besok pagi oleh perawat bagian sift pagi, jadi anda bisa istirahat dengan tenang"
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona, Tuan, semoga lekas sehat" ujarnya sang perawat sebelum benar-benar keluar dr kamar itu.
"Tidak bisakah dia tak mengganggu moment kita?" Gerutu Fabian pada sang istri
Maira hanya terkekeh melihat suaminya yg ngambek kaya anak kecil gak di beliin eskrim "Aku baru kali ini liat kamu marah gitu Mas"
Fabian kini di posisi berbaring sepertinya efek obat yg suster itu masukan kini mulai datang kantuk
"Kok tiba-tiba ngantuk ya..?" Ucapnya sambil meraih tangan sang istri lalu ia simpan di pipinya
"Mungkin efek obat mas.. ya sudah Mas istirahat dulu aja"
________________
3 Hari sudah Fabian berbaring di ruangan yg beraroma khas obat-obatan itu
Setelah orang tua dan mertuanya yg bergantian menjenguk kini Helna dan Gandis datang untuk menjenguk suami dr sahabatnya, krn mereka kesana waktu itu hanya saat Fabian di oprasi saja
Kini Helna dan Gandis sedang berjalan di lorong memasuki area kamar Fabian yg disana ada 2 bodyguard dan Nick yg setia di depan kamar Fabian
"Apa laki-laki es balok itu gak ada kerjaan ya nongkrong di situ mulu, males ngeliatnya" gumam gandis
Setelah menjawab salam mereka Nick mempersilahkan 2 gadis itu masuk, Nick sesekali curi-curi pandang ke arah Gandis dan sebelah bibirnya menggaris senyuman
_____________________
Di rumah sakit yg sama di kamar obgyn
"Selamat nona anda akan segera menjadi Ibu?"
"Apaaaa? gak dok gak mungkin, pasti ada yang salah dok, dokter periksa lagi ya dok.."
Seorang wanita itu bersikukuh bahwa dirinya tidak hamil dan menyangka semua peralatan medis itu rusak atau error
"Nona seharusnya anda bahagia ingin memiliki momongan, anda harus tetap sehat, pikiran harus selalu waras dan terjaga"
"Dokter saya tidka mau hamil dok.. " kini air di kedua matanya mengalir
"Tolong buang janin ini dok, berapapun akan saya bayar" Mohon gadis itu
"Astaghfirullah.. nona maaf, kami tidak bisa melakukan aborsi, krn itu dosa, sebaiknya kita bicara dari hati ke hati, mari duduk dulu"
__ADS_1
Dokter wanita itu dengan sabar memapah tubuh wanita itu yg ringkih krn masih syok atas kehamilannya
"Elena.." tiba-tiba seorang Pria memanggilnya dan memasuki ruang periksa
"Apa anda suaminya?" tanya dokter krn jika bukan tdk mungkin dia tau namanya
"Iya dok saya suaminya"
Iya dia adalah Elena yg hamil anaknya Sandi siapa lagi klo buka dia.
Elena sudah tidak ada tenaga untuk berdebat dengan lelaki pemuas hasratnya itu, Sandi berkali-kali ingin bertanggung jawab, namun berkali-kali itu juga Elena menolak sampai akhirnya Elena positif hamil
Setelah mendapat obat-obatan penguat janin dan vitamin kini Elena di papah oleh Sandi dan menuju parkiran "Lepasin!"
"Sayang.. kamu lagi hamil jgn seperti ini kasian bayi kita"
"Apa kamu bilang bayi kita? aku tidak ingin memiliki bayi darimu!!" bentaknya
"Terserahmu aja, skrg kita pulang kita obrolin lg di rumah nanti oke..?"
Sandi terus berusaha sabar agar Elena tidak selalu emosi yg meledak-ledak agar bayi mereka sehat
Saat ingin memasuki mobil "Maira" Sandi yg membuka pintu mobilpun mendengar apa yg di ucapkan Elena dan tatapannya mengarah mengikuti Elena
Maira ingin pergi cari makanan yg ada di pinggir jalan depan rumah sakit dan menitipkan Fabian pada Nick asistennya.
"Aku kesana sebentar" Kini Elena berjalan seakan-akan tdk terjadi apapun yang tadinya tubuhnya ringkih kini dia berjalan ke arah Maira dengan berlenggak lenggok
Brukk... Elena sengaja menyenggolkan badannya dan menjatuhkan dirinya seakan-akan bertabrakan dan tak sengaja
"Apa mbak tidak apa-apa?" Tanya Maira yg tidka mengenali Elena, Maira lalu membungkukkan tubuhnya untuk membantu, Helna dan Gandis pun ikut membantu
"Aww... perut saya sakit" Elena berpura-pura memastikan jika itu benar-benar Maira
"Tunggu-tunggu... bukankah kau Maira istrinya Fabian?" tanya Elena karna takut salah orang
"Iya benar, apa mbak mengenal saya?" sambil ke empatnya bangkit dan kini duduk di kursi besi yg ada disana
"Aku sahabat Fabian, hanya saja waktu itu kalian menikah saya tdk bisa hadir, namaku Elena" Elena mengulurkan tangannya untuk bersalaman dg Maira lalu Maira membalasnya dg memperkenalkan diri juga
"Sedang apa kamu Maira disini?"...
"Nona Maira.."
__ADS_1
____________________