Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 35 : Tertusuk


__ADS_3

Setelah melihat pesan di ponselnya dan memberi kode pada Fabian, nick langsung berdiri dr duduknya lalu berpamitan pada semua orang yang berada disana.


Bbrp menit kemudian Fabian menyusul ikut berpamitan pula.


"Apa mereka berhasil di bebaskan?" tanya fabian dengan pandangan yg fokus ke jalanan


"Masih terkunci di bawah tanah Tuan"


Bawah tanah markas mereka ada ruangan rahasia hanya nick dan fabian yg tau


dan 2 penjaga berbadan kekar dan pasukan khusus yg di kerahkan Fabian, dari sisa fisik dan kekuatan lebih unggul dr anak buahnya lain.


Fabian hanya menganggukan kepalanya


Setelah setibanya di lokasi "Braaakk!" Fabian menendang pintu masuk krn beberapa anak buahnya sdh tergelatak disana Fabian tau Alex sudah di dalam


Prokk


Prokk


Prokk


"Tuan Fabian Alvaro akhirnya kita berjumpa setelah sekian lama, kau tau betapa dunia kita masih membutuhkan manusia sejenismu, Come on men!" dengan seringai tawanya dan tak lupa asao fave yg di tiupkan kearah wajah Fabian


Fabian masih tak gentar berdiri di tempatnya mendengarkan ocehan-ocehan mantan partnernya itu, sementara Nick ke tempat rahasia mereka dan di depan markas sdh di kuasai anak buah Alex hanya sisa yg di dalam karna pertempuran di hentikan sesuai mengikuti instruksi dari Bos mereka.


"Kita akhiri sekarang!" geram Fabian dg tatapan penuh amarah


"Dan kau yang menginginkan ini bukan?" sahut Alex


Ssshuuuuuiittt..


Alex memanggil anak² buahnya dengan bersiul, Fabian masih tak bergerak dr berdirinya, hanya ekor matanya saja bergerak ke kanan dan ke kiri menghitung berapa banyak yg akan dia lawan dengan 2 tangan dan 2 kakinya


Fabian menyunggingkan sebelah bibirnya menatap musuh di depannya "Kau takut melawanku seorang diri?" dengan menyeritkan kedua alisnya


"Ciih.. persetan dengan omong kosongmu" lalu Alex memberi isyarat pada anak-anak buahnya untuk menyerang Fabian


Perkelahian tangan kosongpun di mulai, dan Alex hanya duduk di kursi yg ada disana menyaksikan perkelahian 10 anak buahnya melawan Fabian.


Wajah Alex mulai muram ketika satu persatu dari anak buahnya berjatuhan


"Bedebah kau!!"


Bugh


bugh

__ADS_1


bugh


Braakkkk...


Kini semua anak buah Alex tumbang tanpa ampun, itulah kenapa nick berani meninggalkan fabian sendiri dan dia mengurus urusan yang lain


Pertarungan hanya melawan 10 orang yg bukan tandingannya tidak lah sulit bagi Fabian


Kini Fabian mengarahkan 4 jarinya menunjuk Alex isyarat mengajaknya bertarung 1 lawan 1


"Ciihh..!"


Kini 2 ketua mafia di zamannya sedang saling berhadapan setelah sekian lama perang dingin


kekuatannya mereka imbang.


Alex Membuka bajunya yg di penuhi tato dan badan yg kekar tidak beda jauh dengan Fabian


Saat ini melayang tinjunya Fabian menahannya dengan mengambil kepalan tangannya lalu ia putar ke belakang. "Kau yang menginginkan ini Lex, sudaj ku katakan jgn menggangguku lagi"


"Hiyaaaa...." Alex berbalik mensparing Fabian tanpa ampun, 45menit sudah mereka saling bergulat satu sama lain hingga akhirnya


"Aaaa...rrhhh" kini tetesan darah berlumuran di lantai entah siapa yang tertusuk dan menusuk


Salah satu di antara mereka ambrukk...


Satu tembakan melesat di kepala sala satunya lagi.. "brukkk.."


Fabian & Alex sama-sama ambrukk... Iya, Alex menusuk Fabian di area perutnya, dan Alex di tembak di bagian kepalanya oleh nickolas


Melihat Bosnya hampir kehabisan darah karna pisau belati yg sudah menusuknya kedalam perut membuatnya kehilangan kesadaran, setelah nick menghubungi anak buahnya yg lain untuk membereskan Alex dan antek-anteknya, Nick bergegas membawa Fabian ke Rumah sakit


___________________________


Kini Fabian di masukan keruang operasi rumah sakit untuk melakukan jahitan di perutnya.


sementara di ruang tunggu sudah berdatangan anggota keluarga lengkap sampai kedua sahabat Maira ada disana, krn mereka posisi saat itu masih ada dirumahnya jadi saat mendengar kejadian ini mereka ikut ke rumah sakit untuk menenangkan Maira juga.


Nick berdiri penuh was-was terlihat tingkat kecemasannya lebih tinggi krn nick melihat beberapa tusukan di perut Fabian bos sekaligus sahabatnya itu


Hanya saja nick tidak berani mengatakannya pada keluarga Fabian takut takut bertambah khawatir


Semua para pria disana berdiri menunggu dokter keluar krn sdh 2 jam lamanya fabian di dalam


Dan para wanita mereka duduk di kursi besi yg ada disana saling merangkul Maira untuk menguatkan wanita itu sebagai Istri Fabian yg kini berbaring dimeja operasi


"Hiikss hiikks.." Maira terus menangis takut jika suaminya kenapa-kenapa

__ADS_1


"May.. In Syaa Allah fabian baik-baik saja, suamimu itu bukan laki-laki sembarangan, di kuat dia pasti sehat, jgn menangis terus nak doakan yang terbaik"


Maira mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penuturan dari mama mertuanya


"Iya may.. kamu yg sabar ya" kembali Maira membalas anggukan


Tak lama dokter OP keluar dari ruangannya "Bagaimana dok keadaan suami saya?" tanya Maira ketika melihat dokter keluar dr ruangan itu terperanjat berdiri dan berjalan cepat ke arah sang dokter


"Alhamdulillah operasi jahit berhasil, dan pasien masih perlu istirahat dan belum sadarkan diri efek bius"


Keluarga mengira hanya jahit biasa kenapa lama, ternyata tusukan belati menembus organ dalam Fabian sehingga ada jahitan bagian dalam dan itu membutuhkan waktu yg cukup lama.


"Alhamdulillah yaa Allah.. terima kasih dokter" kemudian dokter itu hanya memberikan senyum dan pamit


"Hel.. aku pamit mau beli minum dulu ya sekalian buat yg lain" ucap Gandis


"Apa perlu aku antar?" sahut Helna


"Ah gak usah ke supermarket yg di samping rumah sakit kok"


"Hati-hati dis.."


Gandis hanya menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya hingga membentuk huruf O sambil tersenyum


"Nak gandis mau kemana Hel? tanya bunda Erna


"Beli minuman tante" sahutnya


Bunda erna meresponnya dg senyuman "Oh iya.."


Kini gandis sudah memasuki supermarket, memasukan bbrp minuman kaleng dan botol untuk yg menunggu disana, lalu berjalan le arah kasir


ketika orang kasir menyebutkan jumlah yang harus di bayar kini gandis meraba dimana tas dan dompetnya, lalu memjiplak keningnya sendiri bahwa dia baru ingat saat berangkat tasnya tertinggal dirumah Maira ia hanya membawa ponsel di saku hoodienya.


"Aiissh.. sial kok bisa luap sih"


"Gimana mbak?" tanya penjaga kasir, Gandis belum juga menjawab sudah ada malaikat penyelamatnya


"Ini" seseorang menyodorkan kartu debit ke hadapannya memberikannya pada penjaga kasir


Gandis menatap kartu dan pandangannya menyapu hingga wajah si pemilik kartu tersebut


"Haaaa..." batinnya


_____________________________


Readersku yang baik hati, jangan lupa like, gift dan votenya ya..

__ADS_1


Semoga Allah membalas kebaikan kalian ❤️💞


__ADS_2