Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 24 : Maafkan aku


__ADS_3

Ketuk pintu kok yang keluar suara orang batin maira, saat mengangkat wajahnya maira terkejut yang barusan ia ketuk bukanlah pintu melainkan kening suaminya, maira hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kanannya.. dan membelalakan matanya ketika melihat suaminya sedang menggosok-gosok keningnya karena ulah dirinya.


"Ma maaf mas, aku gak sengaja" Maira memelas agar suaminya memaafkannya


Sebetulnya Fabian tak merasakan nyeri atau apapun, hanya ingin bermain-main dengan istrinya


Fabian diam seribu bahasa lalu pergi meninggalkan maira sendirian penuh rasa bersalah "Apa ia sesakit itu sampai marah"


dengan polosnya ia mencoba mengetukan tangannya ke keningnya sendiri persis mencontohkan saat ia hendak mengetuk pintu suaminya "Aaww.. pantas saja mas Abi marah ternyata aku mengetuknya kekencengan, ya memang aku berniat mengetuk pintu kok bukan kening"


Maira lalu menyusul & menghampiri suaminya dengan tangan yg di penuhi jajanan dan minuman boba yang beli tadi jalan


Abi sedang menelpon seseorang yang sepertinya itu kolega bisnisnya, Maira hanya menunggu hingga suaminya selesai


Ketika fabian berbalik dan menyadari ada istrinya disana, fabian pun mengakhiri panggilannya lalu menghampiri maira "Ada apa?"


"Mas aku mau minta maaf"


"Untuk?"


"Karena memukul keningmu, tapi aku benar-benar tak sengaja melakukannya, ku mohon maafkan kecerobohanku"


"Ada yang lebih sakit dari sekedar ketukan kening"


"Maksudnya mas"


Fabian mendengus kesal kepada istrinya yg tak peka-peka setelah bbrp kali ia sindir


Bukannya menjawab pertanyaan maira, Fabian malah balik bertanya "Lalu ada perlu apa kau mengetuk pintu kamar KITA?"


Fabian sengaja menekankan kata kita agar maira faham, bahwa itu kamar mereka berdua


"Mau mengajak mas ngemil, tapi krn sebentar lagi maghrib sepertinya ngemilnya setelah shalat maghrib saja


Lalu fabian melihat jam di hpnya baru masih jam 18:00 sementara adzan maghrib 18 : 20


"Apa yang kau bawa" tanya fabian


Maira dengan antusias mengeluarkan makanan dan minuman yg ada di kantong plastik itu..


"Makanan apa itu?" fabian penasaran karna jujur saja dia tak pernah memakan makanan yg kelihatannya aneh seperti itu

__ADS_1


"Ini namanya jajanan sejuta umat klo kata bi asih" maira mengatakan itu sambil tersenyum dan fabian bisa melihat itu dari matanya


"Dimana kau membelinya"


"Mas gak pernah liat-liat kalau lagi jalan, ini tuh di sepanjang jalan banyak yang jualan jajanan seperti ini"


"Aku hanya tau penjual bakso, mie ayam, bubur ayam dan tukang nasi goreng, tak pernah melihat yang aneh seperti ini"


"Heeumm.. itu makanan padat mas, ini tuh jajanan enak, murah bikin kenyang lagi"


"Niih.. " maira memberikan 1 tusuk cilor kepada suaminya "Mas cobain deh" bukannya mengambilnya fabian malah memakannya langsung dari tangan maira seperti orang yang sedang di suapi


Maira sontak salah tingkah melihat kelakuan suaminya itu.. fabian lalu mengunyaha dan merasa-rasa meskipun awalnya aneh tapi krn sudah di cocol ke saos pedasnya "Enak" katanya


"Aku beli banyak.. mas bebas makan sepuasnya"


Fabian menatap intens istrinya dan menelisik ada gerangan tiba-tiba istrinya sebaik itu, maira yang menyadari sedang di tatap seperti itu oleh suami jadi kikuk sendiri


"Ada apa?" tanya maira


"Tidak, hanya heran saja tumben-tumbennya kau membelikanku jajan sejuta umat ini"


Maira terkekeh saat mendengar sejuta umat dr lisan suaminya tersebut


"Enggak kok mas, cuma lucu aja mendengar mas mengucapakan sejuta umat itu"


"Bukankah kau yg mengatakannya tadi, jadi aku hanya menirumu" tutur fabian


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi"


Maira diam sesaat memikirkan bagaimana meminta maaf kepada suaminya


Tiba-tiba adzan maghrib berkumandang..


"aku akan mengatakannya setelah kita shalat ya mas"


Lalu fabian pergi dan memasuki kamarnya hendak mengambil wudhu dan berganti baju, Maira belum memasuki kamarnya sengaja ingin melihat suaminya yg tampan saat mengenakan pakaian muslim ketika hendak ke mesjid


Saat mendengar suara pintu kamar suaminya Terbuka Maira buru-buru memfokuskan pandangannya untuk melihat suaminya, kali ini Abi hanya memakai sarung biru tua dan koko lengan pendek berwarna putih dan memakai peci yang warnanya senada dengan koko


Maira tak menyadari jika ia sedang tersenyum menatap suami dari keluar kamar hingga tak terlihat lg batang hidung, setelah itu barulah ia memasuki kamarnya untuk shalat maghrib juga.

__ADS_1


**


Di tempat lain seorang laki-laki sedang menghisap rokok dan di atas meja di hadapannya banyak botol-botol minuman haram "Jika aku tak bisa menghancurkanmu secara langsung, aku akan memancingnya melalui orang-orang terdekatmu Fabian Dirgantara!" siapa lg kalau bukan alex


"Kau yakin istrimu sangat cantik terlihat dari matanya yg biru &ku yakin kau pasti sangat mencintainya, bagaimana jika kau melihat aku sedang mencumbunya di hadapanmu" Alex dengan senyum smirknya


Lalu dia menelpon seseorang "Apa kau mengikutinya sampai tempat tinggal mereka?"


Di sebrang sana menjawab "Iya tuan, lokasi sudah saya kirim ke WA anda tuan"


"Kerja bagus!"


Lalu iapun mengakhiri panggilannya.. "Fabian.. kau tak bisa lari lagi dariku kau asetku yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, kelak aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, brengseek!!!" Alex geram dan membanting 1 botol yg sedang ia genggam ke sembarang arah


**


di kediaman Fabian


Setelah mendengar suaminya kembali dari mesjid Maira sengaja berdiri di depan kamarnya, fabian yg melihat itupun mengerti lalu pergi ke balkon dimana tadi mereka berbincang disana


"Mas.. "


maira membuka suara terlebih dulu


"Heumm.." sahut fabian


kini maira mendudukan dirinya di bawah persis di hadapan fabian seperti orang yang ingin sungkem, lalu maira mengambil tangan suaminya


"Mas.. aku minta maaf atas sikap-sikapku selama ini, aku melakukannya karna aku benar-benar belum siap, apa mas ridha dan mau memaafkanku?" maira menunjukan kesedihan di wajahnya


Fabian yg melihat istrinya bersimpuh di hadapannya akhirnya mengangkat dagu maira dan mensejajarkannya dengan wajahnya yg iya sedikit membungkuk dr duduknya


"Aku sudah memaafkan jauh-jauh hari sebelum kau memintanya, aku juga tidak akan memaksamu jika memang kamu belum siap, aku hanya ingin kita seperti suami istri pada umunya yg tidur bersama meskipun tidak ada interaksi yg lebih"


meskipun fabian berharap istrinya segera memberikan haknya, dia adalah laki-laki normal, dia sudah menikah dan memiliki istri, yang sudah hampir 4bulan pernikahan Maira tak juga memberikan haknya


"In Syaa Allah malam ini aku akan pindah ke kamarmu mas"


Mendengar itu fabian tersenyum bahagia, setidaknya hubungannya ada kemajuan dari sebelum-sebelumnya


"Tapi mas, mas kan janji jika aku belum siap mas tidak akan melakukannya" ucap maira mengingatkan suaminya lagi atas janjinya karna jujur maira sangat takut terjadi yg iya-iya setelah mereka tidur bersama

__ADS_1


Kini fabian berdiri dan hendak pergi membawa minuman dan makanan yg ada disana memasuki kamarnya


"Jika aku tak khilaf" teriaknya


__ADS_2