Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 28 : Malam Pertama


__ADS_3

Dengan wajah sendunya fabian mengatakan "Apa aku bisa meminta hakku malam ini?"


Deg!!


***


Maira belum juga merespon justru wajahnya semakin menunduk yg membuat Fabian semakin ingin melahapnya saat itu juga


Perlahan fabian mendekati Maira yg belum juga menatapnya lalu mengangkat dagunya memberikan isyarat meminta persetujuan istrinya itu, melihat tidak ada penolakan, tangan kanan fabian kini sudah menyentuh pipinya lala menarik tengkuk maira hingga saling menautkan kedua bibir mereka


Fabian melakukannya secara perlahan & lembut karna fabian tau pasti ini yg pertama bagi maira, krn merasa maira kaku saat melakukannya.


tiba-tiba fabian melepaskan pautannya setelah Maira memukul-mukul dadanya "Ada apa?"


"Aku gak bisa nafas mas" tutur maira yg wajahnya semakin merah krn jujur ini sangat memalukan menurutnya


Fabian hanya mengulum senyumnya melihat bibir kecil, sintal dan berisi yg berwana merah muda itu semakin ingin melahapnya


"Aku akan melakukannya perlahan kau tidak perlu takut" tutur fabian seraya menidurkan istrinya untuk melakukan pemanasan


Setelah kurang lebih 1 jam mereka melakukan ritual yg menguras keringat keduanya itu, kini Fabian ambruk di atas tubuh Maira dan mengecup kening sang istri


"Aku mencintaimu istriku" tutur Fabian membuat hati Maira semakin menghangat tidak usah di bayangkan seperti apa wajah istrinya yg sedang di tatapnya.


Maira tidak merespon ungkapan cinta suaminya malah "Mas.. bisa kah kau melepasnya sekarang" dengan ekspresi pipi yang sudah seperti tomat matang jujur malu sekali mengatakan itu


Fabian terkekeh melihat istrinya yang masih malu-malu padahal fabian sudan melihat semuanya, iya setiap jengkal dan lekuk tubuh indahnya


Lalu fabian melepaskan pautannya yg berada dibawah sana, dan kini berbaring di sebelah sang istri


Posisi meira membelakangi suaminya, lalu fabian menariknya hingga bibirnya berada di ceruk leher maira "Mas geli iih.."


"Maasss.. geli, udaah"


Fabian tak pura-pura tak mendengar kekesalan istrinya yg sedari tadi sengaja ia menggesek-gesekkan bibi dan janggutnya ke ceruk leher sang istri


"Maaas..." sampai pada akhirnya iya berbalik menatap suaminya


Fabian pura-pura tidur tapi Maira melihatnya ia mengulum senyumnya


Maira mencebikkan bibirnya seraya memainkan dada bidang Fabian


Fabian yg merasakan sentuhan istrinya iyapun membuka mata, "Apa kau menginginkannya lagi?"

__ADS_1


Maira dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku tau kau sedang menggodaku kan?" tutur fabian


Bukannya merespon ucapan suaminya


"Mas, apa memang berhubungan badan sesakit ini?" tanya maira karna merasa *********** sangat sakit krn ulah suaminya


Fabian tersenyum bahagia, krn dia menjadi yang pertama bagi istrinya begitupun sebaliknya "Aku tak melihatmu kesakitan malah kenikmatan"


"Aaww.. sakit sayang" maira mencubit pinggang suaminya


"Iya.. itu krn permulaan saja sayang, besok-besok gak akan sakit lagi, aku yakin kau terus memintanya" ucap fabian dengan sombongnya


"Heumm" mendengar itu maira hanya mencebikkan bibirnya..


Seelah melewati malam panas dg beberapa ronde akhirnya mereka lelah dan tidur


**


03 : 30 dini hari saat hendak menurunkan kakinya "Aaww.."


"Kenapa sayang?" tanya fabian dengan suara paraunya khas orang bangun tidur, namun terdengar seksi di telinga Maira


"Area iniku sakit"


Fabian mengitari ranjang mereka lalu menggendong maira tanpa aba-aba ala-ala bridal style "Maas.. turunin ih malu, cukup memapahku saja mas.."


Fabian tak mendengarkan teriakan istrinya, iya menggendong Maira sampai kamar mandi, lalu mereka mandi bersama dan melangsungkan ritualnya ronde selanjutnya di kamar mandi membuat maira memanyunkan bibirnya 5cm kedepan


Melihat istrinya yg cemberut, "apa kau masih belum puas sayang"


Maira hanya membelalakan matanya kesal dengan kelakuan suaminya lalu pergi ke shower untuk membilas tubuhnya setelah mereka mandi berdua dalam bethup


Saat maira hendak keluar dan sudak mengenakan handuk kimono melewati suaminya yg hendak memasuki ruang shower lalu mengedipkan sebelah matanya membuat maira bergidik ngeri melihat kelakuan suaminya yg bringas itu.


Setelah adzan subuh berkumandang Fabian pergi ke mesjid setelah melakukan shalat sunnah 2 rakaat berjamaah bersama istrinya sebelum berangkat ke mesjid dna Maira shalat dikamar mereka yg sudah di sediakan mushola kecil


**


Kini Maira sibuk di dapur membantu bi asih menyiapkan sarapan "Sudah non biar bibi saja"


"Sudah gpp bi, saya gak ada kegiatan kok"


Fabian memang kadang dia setelah shalat subuh gak langsung pulang biasanya dia menghadiri kultum atau kajian ba'da subuh, jadi pasti pulang ke rumah jam 6

__ADS_1


Sebelum maira tidur dikamarnya pun fabian rutin mengikutinya, hanya maira tak pernah tau


Seelah selesai membantu menyiapkan sarapan, kini maira kembali kemarnya untuk menyiapkan pakaian kerja fabian semoga seleranya selaras dengan fabian "Sudaah.." dengan senyum cantiknya kemudian di kembali turun


Dan ternyata disana sudah ada kekasih hatinya sedang menunggu di meja, tatapan mereka terkunci saat tatapan saling bertemu, Maira menundukkan wajahnya namun fabian justru mengulum senyumnya


Maira mendekati sang suami lalu mencium punggung tangannya, "mas sudah dari tadi?" maira memberanikan diri bertanya


"Ngga.. baru saja duduk, eeh ada bidadari cantik turun tangga, bikin jantung mas berdebar-debar ingiin..."


"Awww... sekarang sudah berani ya cubit-cubit, nanti mas bales dikamar"


Bluusshh.. Pipi maira langsung memerah seraya membolakan kedua matanya


Fabian terkekeh melihat ekspresi istrinya yg syok mendengar penuturan suaminya


***


"Ka.. kamu serius tidak ingin menerima pinangan bima? tutur farida ibu Helna


"Ibu.. Helna sangat tau Bima dari sejak dia sekolah, bagaimana kelakuannya


"Tapi nak, setiap manusia bisa berubah, apa lg abahnya pendakwah di kota kita, bapak yakin dia mendidik anaknya dengan benar" tutur Galih ayah helna


"Ibu dan bapak hanya melihat orang tuanya tapi tak mengenal anaknya"


"Jangankan kita manusia biasa, manusia yg ma'sum seperti Rasulullah belum tentu anak keturunannya sesempurna beliau (Shallallahu 'Alayhi wasallam) apa lg dengan kita" lanjut Helna


kedua orang tuanya pun diam..


"Usiamu sdh memasuk seperempat abad nak, aib di kampung kita seusiamu belum menikah, ibu malu selaku di tanyai tetangga-tetangganya ibu saat beli sayur, mereka pasti menanyakan kapan kau menikah sementara mereka sudah menimang cucu" tutu bu farida


"Ibuu.. menikah bukan ajang pamer cucu atau siapa yg menikah lebih cepet, ini bukan berlomba-lomba bu, helna hanya belum menemukan yang tepat"


"Ya ya.. Ibu tidak akan memaksamu hanya saja ibu menginginkanmu segera menikah, ibu dan bapak ini sudah tua, ibu akan tenang jika suatu saat Allah mengambil ibu dan bapak..."


"Ibuu.. jangan berbicara seperti itu bu, Rezeki, jodoh dan maut di tangan Allah, kematian tidak menunggu usia tua, banyak anak bayi baru lahir meninggal" tutur Helna sembari memeluk sang ibu dna menyandarkan kepalanya di bahu ibunya


Pak Galih bahagia melihat anak istrinya saking berpelukan haru, tiba-tiba adiknya muncul dari kamar.. "Duuh ada apaan sih pake acara peluk-pelukan segala" ucap Haina (18th) anak kedua Farida dan Galih


Saat mereka berempat sedang berkumpul tiba-tiba


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


Mereka hanya saling tatap terdengar salam dari luar suara yg asing menurut mereka


__ADS_2