Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 45 : Suka yang gemoy gemoy


__ADS_3

Fabian mengusap punggung istrinya "udah gak usah sedih kan nanti juga ketemu"


Fabian merebahkan kepalanya di atas kaki Maira lalu memejamkan matanya, Maira melirik Hasan & Helna "Maaf ya mas, mba mode manjanya lagi kambuh" di angguki kedua kakaknya seraya terkekeh melihat Maira yang tak enak namun berbeda dengan Fabian yang terlihat nyaman


"Gak apa-apa May, kan suamimu sedang ngidam" Maira nyengir kuda mendengar perkataan Hasan "Iya juga sih, harusnya kan aku ya"


Setelah lama mereka berbincang dan posisi Fabian masih tidur terlelap di sofa yang sudah di ganjal bantal karna kaki Maira kesemutan


"Mas pamit ya May.. In Syaa Allah nanti Mas usahakan datang"


ketiganya kini sudah di teras menuju garasi "Iya Mas, hati-hati & makasih udah jenguk apa lagi buah tangannya banyak banget lagi"


Kini mobil Hasan sudah keluar dari rumahnya dan Maira sudah kembali ke ruang tamu dimana disana Fabian masih terlelap, Maira naik keatas untuk mengambil laptopnya.


Karna selama ini Maira memantau perkembangan perusahaan dari rumah dan tugas utama ia serahkan pada Ghulia asisten pribadinya


Di tengah-tengah fokusnya berkutat dengan layar laptopnya sesekali melihat Fabian yang bergerak dari tidurnya namun tak juga terbangun, Maira menyambar ponsel genggamnya menghubungi seseorang "Assalamualaikum.. Ghulia bisa kah hari ini ke rumahku sekalian bawa dokumen-dokumen yang belum aku baca dan tanda tangani"


Tak terdengar balasan dari Ghulia panggilan itu pun berakhir, Maira mengalihkan laptopnya menunjuk CCTV kantor, dari tanggal terakhir ia melihatnya


Maira memicingkan kepala terlihat beberapa kali Reza mengunjungi dan bertemu Ghulia "Ada hubungan apa mereka? kenapa terlihat begitu akrab?" gumamnya lirih namun itu terdengar oleh Fabian yang beberapa menit lalu sudah terbangun namun dengan posisi masih tiduran


"Siapa?" Maira terkejut mendengar suara suaminya "Mas sudah bangun, masih mual gak?" tanya Maira bukannya menjawab pertanyaan suaminya ia malah bertanya balik


"Sudah ngga.." lalu Fabian menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya dan melihat apa yang istrinya lihat


"Ada apa?" tanya Fabian lagi "Mas Reza beberapa kali memasuki kantorku dan terlihat berbincang dengan Ghulia"


"apa mereka sebelumnya saling mengenal?" tanya Fabian lagi


Maira menggelengkan kepalanya "entahlah"


Tiba-tiba Fabian turun mensejajarkan kepalanya dengan sang istri "Assalamualaikum anak-anak papa, sedang apa disana nak? semoga kamu selalu sehat sampai kita berjumpa nanti" ucapnya membuat Maira berkaca-kaca dan mengelus kepala suaminya


beberapa kali Fabian mencium perut rata sang istri "Terima kasih sayang kamu memberikan kebahagian extra untukku"


Tak selang berapa lama Ghulia datang dengan setumpuk dokumen yang harus Maira tanda tangani "Selamat siang nona" Maira melihat sumber suara "Kau sudah datang, silahkan duduk"

__ADS_1


Fabian masih berada disamping sang istri, karna dari awal memang tidak ada rahasia antara mereka berdua


Di tengah-tengah Maira membaca setiap laporan dengan detail "Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui Ghulia?" tanya Maira tanpa mengalihkan tatapannya dari dokumen yang ada di tangannya.. Maira aadalah wanita yang cerdas dan sulit di kelabuhi, Maira melihat dengan ekor matanya kegelisahan Ghulia


Tak juga mendapat jawaban kini Maira menatap asisten pribadinya di kantor itu "Apa ada yang ingin kau sampaikan"


"Ti-tidak ada nona" Ghulia sedikit gugup sampa untuk mengatakan tidak saja terbata-bata, Maira bisa menangkap gerak tubuh dan gerak bibir yang ia tampakkan "Baiklah"


"Semua sudah ku tanda tangani, untuk rapat lusa aku akan datang"


Degh!


jantung Ghulia semakin terasa sesak terkejut, karna selama ini ia di percaya menghandle pekerjaannya di kantor "Baik nona, akan saya reschedule" sahut Ghulia yang terlihat semakin gusar


padahal Maira tak menuntut dan menanyakan apapun padanya, ya begitulah jika orang melakukan kesalahan


"Terima kasih Ghulia kamu bisa pergi sekarang" ucap Maira dingin


"Baik nona saya permisi"


"Baik nona"


Kini kaki Ghulia terasa seperti mengambang, dia salah jika menganggap Maira sudah menyerahkan semuanya, ada beberapa staf dan karyawan yang tidak mengetahui dimana Maira menyembunyikan CCTV di kantornya


"Apa kamu yakin lusa akan ke kantor, inget sayang janin dalam kandunganmu" ucap Fabian menatap lekat sang istri


"Mas tadinya aku gak akan ke kantor, tapi setelah melihat banyak kejanggalan yang tertangkap dan dokumen keuangan yang gak jelas, apa mau di biarin?"


Fabian mengangguk-anggukan kepalanya, "aku akan mengutus seseorang kesana dan beritahu personalia mu untuk menerimanya" ucap Fabian membuat Maira mengalihkan tatapannya menghadap sang suami


"maksud mas?"


"Maksudku, kamu gak usah capek-capek sayang.. biar orang kepercayaanku mengurusnya" Ucap Fabian meyakin sang istri


"Tapi..." Fabian menangkup wajah cantik bermata itu "Percayalah padaku, jika tidak sesuai yang kau ingin, aku yang bertanggung jawab"


Maira pun mengangguk percaya pada suaminya, jelas percaya urusan perkantoran memang suaminya lebih ahli darinya yang baru terjun.

__ADS_1


tak terasa di akhir obrolannya adzan dzuhur pun berkumandang "Mas udah bisa ke mesjid?"


"In Syaa Allah bisa sayang, Mas mau mandi dulu gerah" lalu Fabian menarik tangan sang istri, pemandangan itu pun di saksikan Bi Asih yang mondar mandir menyiapkan makan siang


"Setiap hari semakin kaya pengantin baru saja ini" lirihnya


"Mas aja yang mandi, aku mandinya tar sore aja" tolak Maira, karna khawatir penyakit mesum suaminya kambuh di siang bolong


Mendengar penolakan sang istri Fabian pun kembali berjongkok di bawah Maira yang masih duduk di sofa "Sayang kau tau tidak tugas utama seorang istri?"


Maira mengangguk..


"Apa?"


"Mentaati suaminya, selama tidak menyalahi syari'at" jawab Maira ia sangat mengerti maksud pertanyaan dari suaminya.


"Bagus.. jadi ajakan mandi bersama tidak menyalahi syari'at bukan?" senyum menyeringai dan kedipan sebelah mata Fabian membuat Maira bergidik ngeri


Mau tidak mau akhirnya Maira ikut menaiki anak tangga bersama suaminya "Sayang apa perlu aku sediakan lift agar kau mudah naik turun jika kau sudah hamil besar nantinya?"


Tiba-tiba Fabian menggendong Maira "Mas.. mas turunin aku, tar jatuh skrg aku berat"


"Kalau kamu semakin berat berarti mas harus semakin banyak olah raga biar selalu kuat" Sahutnya dengan kekehan


"Jadi maksudnya mas aku benar-benar berat?" Fabian sangat tau jika wanita selalu bermasalah dengan yang namanya berat badan


"nggak sayang.. sekarang belum tapi nanti setelah dedek bayi tumbuh besar dalam sini" ucap Fabian dan matanya menunjuk perut yang tak di tanggapi Maira


"Bilang aja kalau sekarang aku gendutan" Maira membuang wajahnya ke sembarang arah


"Gak gendut sayang kamu tuh gemoy aku suka yang gemoy-gemoy" ucap Fabian


Kini mereka sudah sampai ke atas dan Maira meminta turun paksa "Oh jadi selama ini kamu suka yang gemoy gemoy ya ternyata"


_Hayyyhh... ku serahkan seluruh hidupku padamu ya Allah_ batin Fabian


__________________

__ADS_1


__ADS_2