
"Iissshhhh.. dasar ya Mas Hasan bikin orang kaget aja, sejak kapan mas Hasan menyakiti wanita" Maira berdecak kesal di buatnya
Bagaimana tidak Helna adalah sahabat baiknya sejak dulu, bagaimana jika benar-benar mas Hasan menyakitinya, sepertinya jika ini bukan prank Maira takkan pernah memaafkan kakaknya itu
Semenjak kepergian Hasan, Maira langsung berkemas karna hari ini Fabian di perbolehkan pulang
"Sayaaang.."
teriak Fabian dari balik pintu kamar mandi yg hanya menyembulkan kepalanya keluar dan menyembunyikan anggota badan lainnya di balik pintu kamar mandi khawatir ada suster atau dokter di ruangannya, beda lagi ketika di dalam rumah mereka
"Iya mas, kenapa? sahut Maira tanpa mengalihkan pandanganya dari koper yg sedang ia kemas barang-barang di dalamnya
"Tolong ambilin handuk, cepet ya dingin"
Maira mengerutkan dahinya dan sedikit menoleh ke arah kamar mandi tak terlihat lg wajah Fabian disana karna sudah masuk kedalam
Karna kalau dirumah pasti Maira sdh curiga suaminya akan menarik tangannya ikut ke dalam kamar mandi yg berakhir dengan adegan yang iya-iya
"Mas, handuknya ku taruh handle pintu yaa.."
Maira berdiri sesaat namun jaraknya jauh dari pintu, namun Fabian tak juga menjawab dan sekedar menyahut iya, Maira penasaran dia lalu mendekati pintu dan meninggikan suaranya
"Maas..'
Tok tok tok
"Mas Abi"
Fabian tak juga menyahut, karena Maira khawatir dengan suaminya pasca operasi karna baru sembuh dan di bolehkan pulang, akhirnya maira memasukkan kepalanya sedikit kedalam kamar mandi, kemudian Fabian membuka pintunya dan menarik Maira kedalam, tak lupa dia juga mengambil handuk di handle pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam
Setelah hampir satu jam dalam kamar mandi Maira terus mengerucutkan bibirnya tak menyangka jika suaminya tak kenal tempat, bagaimana jika adegan panas yg mengeluarkan ******* yang menguras keringat itu terdengar oleh dokter atau suster yang memasuki kamarnya, sekalipun menyalakan shower full
"Sayang.. kenapa bibirnya semakin kedepan, lihat-lihat sini bibir ini hampir saja menyamai letak hidung mancungmu" gida Fabian yang mengarahkan Maira ke hadapan cermin
__ADS_1
"Lagian Mas Abi kebiasaan selalu seperti itu, aku kan tadi panik takut mas kenapa-kenapa di kamar mandi"
_______________________
Kini keluarga besar Hasan sudah berkumpul di rumah Helna selain melakukan lamaran secara resmi mereka juga menentukan tanggal pernikahannya
Keluarga besar Hasan ingin mereka menikah di gedung/hotel karna pasti Hasan akan mengundang semua teman-temannya di kepolisian dan petinggi-petinggi disana tentunya
namun Helna hanya ingin menggelar pernikahan secara sederhana di rumahnya biar orang di kampungnya ikut merasakan kebahagiannya.
"Baiklah Nak Helna Bunda setuju, kita akan menikahkan kalian disini dan akan ada 2 resepsi, karna banyak kolega-kolega Daddy & bunda yang akan bunda undang" Tutur bunda Erna seraya di angguki semua orang disana
"Saya serahkan pada Bu Erna saja bagaimana baiknya" timpal Bu Farida
Erna menanggapinya dengan senyum bahagia, dia tak menyangka kini anak-anaknya sudah besar dan dua-duanya akan berumah tangga dan meninggalkan mereka berdua dengan suaminya.
"Bun.." Erna di sadarkan dari lamunannya oleh Hasan
"Eh iyaa.. kenapa?"
Seolah mengerti perasaan sang Bunda, Hasan menjelaskan panjang lebar agar bundanya tidak merasa kehilangan
__________________
Sampailah pada hari kebahagian Helna dan Hasan, dimana saat ini Hasan sedang duduk di meja akad dimana disana sudah ada penghulu, pak Galih ayah Helna dan Ayan Fabian, dan di hadiri ayah Fabian sebagai saksi dari pihak laki dan saksi dari pihak perempuan dari keluarga Helna
Setelah Hasan menyucapkan Ijab Qobul dan disertai doa untuk kedua mempelai pengantin, Hasan berhasil mengucapkannya dengan satu tarikan nafas
Setelah semua orang yang ada disana mengatakan "SAAAHHH" terutama gandis paling bersemangat mengatakan itu.
Pak penghulu dan di ikuti yang lainnya mendoakan kedua mempelai pengantin
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
__ADS_1
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud no. 2130).
Kini Helna dengan memakai gaun putih serta wajah yang sudah di tutupi cadar tak menghilangkan kecantikkannya sedikitpun, Hasan masih melihat wajah cantiknya melalui mata yang sedikit menunduk karna malu Hasan tak memalingkan pandangannya sedikitpun dari Helan yang tertuju padanya
"Tidak akan ada yang mengambilnya darimu" bisik Daddy Jasson yang melihat putranya tak mengedipkan mata saat pengantin wanita keluar dari kamarnya
Hasan hanya tersenyum dan kembali duduk di tempatnya mengarahkan tatapannya lurus ke depan hingga Helna duduk di sampingnya kini.
Kini pak penghulu membuka suara setela Helna duduk dengan nyaman disamping suaminya itu yang baru saja menghalalkannya.
"Nak Helna, siapa lelaki yang ada 6 samping Nak Helna ini?" tanya penghulu
Degh..!
Jantung Helna berdetak tak menentu ketika penghulu menanyakan itu seraya semua orang terkekeh menggoda pengantin wanita itu
Helna melirik sesaat ke arah Hasan dan Hasan hanya tersenyum jelas wajahnya sdh mereka oleh kelakuan mereka yang terus saja menggodanya
"Suami"
Degh.. kini jantung Hasan serasa berhenti berdetak ketika mendengar suara Helna mengatakan bahwa dirinya sebagai suami, Hasan sedikit berkaca-kaca ada haru dan bahagia di raut wajahnya, lalu ia berusaha menormalkan dirinya kembali
"Pak Galih silahkan sampaikan jika ada nasehat dan petuah untuk ananda" pak penghulu memberikan micnya ke pak Galih yakni ayah Helna
"Helna.. ku serahkan engkau pada laki-laki yang ada di sampingmu bernama Hasan, ku serahkan segala tanggung jawab, semua tentangmu nak kini sudah beralih ke pundak suamimu, bapak tidak ada hak lagi saat engkau telah di dipersuntingnya, jika dulu kami yang harus selalu kau utamakan, kini status itu beralih pada Hasan, engkau harus menjadi istri yang sholihah, taati suamimu dalam perkara yang ma'ruf, jangan pernah melawan ataupun membantahnya, jadilah anak yang berbakti pada bapak dan ibu dangan mentaati suamimu, penuhi kebutuhannya, jaga harya dan kehormatannya sebagai seorang laki-laki, sebab ia adalah pemimpinmu, semoga rumah tangga kalian berdua selalu dalam naungan dan Ridha Allah ta'ala"
Semua orang menangis haru mendengar nasehat Pak Galih pada anaknya lalau tatapan Galih kini beralih pada Hasan.
"Nak Hasan.. ku titipkan putriku padamu sebagai istrimu dan ku serahkan seluruh tanggung jawabku padamu sebagaimana mestinya engkau sebagai suami, jangan lukai hati anakku, jangan pernah sakiti hati dan fisiknya, kami sangat menyayanginya Bapak harap Nak Hasan akan menjadi suami & ayah yang baik untuk anak-anak kalian kelak"
Tangis harus terus pecah disana.. Hasan kemudian menunduk dan menjatuhkan air matanya disana
__ADS_1
___________________________