
Melihat istrinya yang keluar dari kamar mandi dalam keadaan murung sudah bisa di pastikan hasilnya negatif lalu Fabian memeluk istrinya
"Gak apa-apa sayang kita akan usaha lagi harus lebih keras lagi" tutur membuat Maira jengah mendengar suaminya yang selalu mesum
"Iya mas harus berusaha lebih keras lagi, karna sebentar lagi akan menjadi ayah" Tutur Maira berbisik di telinga suaminya yang posisi mereka masih dalam keadaan saling berpelukan, setelah mendengar penuturan istrinya Fabian gegas melepaskan pelukannya
"Maksudmu apa sayang?" lalu Maira mengangkat tangannya yang masih memegang testpack yang disana terlihat jelas ada 2 garis, sontak membuat Fabian terkejut lalu menggendong Maira dan memutarnya sambil tertawa bahagia
"Kita harus segera ke rumah sakit" Tutur Fabian dan berkali-kali mengecup bibir ranum Maira saking bahagianya
____________________
keesokan paginya di kediaman pengantin Baru Hasan & Helna
"Mas.. mas hasan" Helna mengusap-usap lembut pipi sang suami agar segera bangun dari tidurnya
"Euummm.. apa sayang" sahut ya khas suara orang bangun tidur
"Sebentar lagi subuh, mas mandi dulu ya aku udah siapin air hangatnya"
Bukannya bangun Hasan malah menahan sang istri dan memeluk pinggangnya erat "5 menit lagi yaa, biarkan seperti ini sebentar"
Helna membiarkannya sebentar tak dapat menolak suaminya, setelah selesai melakukan ritual panjang sebagai suami istri yang lagi panas-panasnya semalam wajar saja jika Hasan masih mengantuk, sementara Helna sudah terbiasa terbangun jam 3 dini hari untuk melakukan shalat qiyamu lail
Saat di meja makan "Mas jadi jenguk Fabian?" (panggilannya berubah karna mengikuti suaminya &di sisi lain kini mereka statusnya menjadi adik ipar, yang seharusnya mereka memanggil Helna kaka/mba)
"In Syaa Allah, kamu ikut ya.. pasti Maira juga merindukanmu" ujar Hasan yang di angguki oleh sang istri seraya tersenyum
Keduanya melanjutkan sarapan sebelum gegas berangkat
____________________
Maira dan Fabian kini sudah berada di rumah sakit, dan sedang duduk di ruang tunggu untuk mendapat giliran, saat ada seseorang duduk di samping Fabian refleks Fabian "Emmppph... eemmppph" orang di samping Fabian melirik sesaat lalu ia mencium aroma tubuh dengan mengangkat kedua tangannya secara bergantian "Perasaan gak bau deh" gumamnya
"Mas mual lagi, kita ke toilet dulu yuk" ajak Maira lalu memapah suaminya yang tubuhnya semakin lemas
__ADS_1
Setelah sampai di kamar mandi ia memuntahkan isi perutnya yang hanya mengeluarkan cairan karna Fabian masih belum bisa memasukkan makanan apapun, Maira setia mengelus-elus tengkuk sang suami sampai suaminya benar-benar sudah merasa nyaman
Baru membuka pintu toilet terdengar namanya di panggil "Ibu Almaira"
"Saya sus" Maira menghampiri suster sambil memapah Fabian
Keduanya Masuk ke ruangan praktek dokter Obgyn
"Ibu Maira dan Bpk Fabian, ini kehamilan ke berapa?" tanya seorang dokter yang bernama Dokter Dewi terlihat dr uniform yang di kenakannya
"Anak pertama dok" sahut Maira
"Baik, ada keluhan?" tanya dokter itu lagi kini melihat ke arah Maira dan Fabian secara bergantian
"Saya tidak dok tapi suami saya"
"Baik nanti saya jelaskan sekarang Bu Maira silahkan berbaring duku disana" Dokter itu menunjuk sebuah brankar yang ada di ruangan itu, akhir mengikuti arahan sang dokter, Fabian pun ikut menghampirinya meski sempoyongan
"Maaf yaa.. gamisnya di angkat dulu" izin sang dokter kepada Maira
Maira pun mengangkat gamisnya sampai perut putih mulusnya terlihat meski masih rata, lalu dokter itupun memberikan gel khusus di perut Maira dan mengulaskannya lalu memakai alat USG
Maira dan Fabian kini saling menautkan jari mereka, terlihat keduanya berkaca, sesekali Fabian menciumi tangan sang istri "Terima kasih sayang" ucap Fabian setengah berbisik di telinga sang istri sebelum keduanya mengikuti sang dokter yang sudah duduk di kursinya sambil menuliskan resep vit & obat untuk ibu dan janin
Setelah sepasang suami istri itu duduk "Selamat ibu Maira dan Pak Fabian, kalian akan menjadi orang tua, karna ini kehamilan masih di trimester pertama janin masih sangat lemah, di harapkan ibu Maira tidak beraktifitas yang berat-berat, makan-makanan yang sehat dan teratur, minum susu hamil, konsumsi buah-buahan & untuk pak Fabian mood istrinya harus selalu di jaga" dokter itupun tersenyum melihat Fabian yg sedari tadi menahan mualnya
"Jadi yang di alami pak Fabian banyak di alami oleh suami-suami lain juga hanya dari 100 mungkin 20% yang mengalami sindrom cauvade atau kita lebih umum menyebutnya hamis simpatik dimana istri yang sedang hamil namun suami ya g merasakan efek kehamilannya" lanjutnya
"Lalu adakah obat penghilang atau yang dapat mengurangi rasa mual itu dok?" tanya Maira
"Ada bu, sudah resepkan disini nanti di konsumsi 3x sehari sebelum makan" Jawab sang dokter
"Eeuh.. anu dok" Fabian ingin mengatakan sesuatu yang membuat Maira memicingkan kepalanya "Kenapa mas?"
Dokter itupun terkekeh melihat apa yang ingin di tanyakan Fabian "Boleh melakukan hubungan suami istri namun harus dengan lembut dan hati-hati"
__ADS_1
Fabian cengir kuda dan tak menyadari jika seorang yang di sebelahnya sudah jengah, bagaimana mungkin dalam keadaan seperti itupun suaminya masih memikirkan masalah ranjang
____________
Seorang gadis cantik kini sedang menunggu taxi yang ia pesan sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya
Drrtt drrtt.. ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba bergetar suara panggilan no tak dikenal
"Assalamualaikum dengan siapa ini?"
Taxi online
["Mba gandis saya mohon maaf tiba-tiba mobil saya mogok, mohon di batalkan saja ya"] ucap seorang bapak di sebrang telponnya
Gandis dengan lemas "Iya pak gak apa-apa"
Akhirnya mau gak mau gandis menunggu angkutan umum di halte, dimana dalam 45 menit ia harus segera sampai di kantornya
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Gandis "Ayo masuk" ternyata itu Nick
"Gak usah mas saya nunggu angkot aja" Gandis gak nyaman jika terus menerus merepotkan Nick
"Ya sudah dari pada telat, angkot jam segini akan full lihat lah mereka yang di belakangmu" Gandis melihat kearah belakangnya sesaat lalu ia berpikir ia juga ya.. kalau memaksakan naik pun pasti desak-desakan
"Mau naik atau tidak?" tanya nyak lagi sebelum menaikan kaca mobilnya, belum sampai tertutup Gandis sudah duduk di sebelahnya
Nick hanya menyunggingkan senyumnya penuh kemenangan "Kamu kenapa akhir-akhir ini menghindari saya?" ujar Nick setelah kejadian waktu itu Gandis selalu menghindarinya
"Ah tidak.. karna aku gak enak sama Mas Nick selalu merepotkan, lagi pula aku sudah tidak apa-apa" ucapnya dalam keadaan menundukkan kepala
Nick hanya mendengarkan dan menganggukkan kepalanya.. "Saya tidak merasa di repotkan" ujarnya masih dalam posisi mengemudi dan tatapannya fokus ke jalanan
___________________
Jangan lupa pada mampir ya shalihat..
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah setia mampir dan baca, jangan lupa othornya di kasih semangat ya..
dengan cara dukung terus, vote, gift, like dan komen, komennya yang membangun yaa jgn yang menjatuhkan karna hati othor mudah rapuh wkwk...