
Kini semua tamu undangan satu persatu telah pergi meninggalkan rumah Helna yang masih terhias layaknya rumah pengantin pada umumnya
kini tinggal keluarga besar Ghilbert dan Dirgantara disana yang masih bercengkarama
Helna berada di kamarnya di temani Maira dan Gandis, yang terus saja meledeknya sampai Helna tak berani mengangkat wajahnya di hadapan mereka, ia hanya mencebikkan bibirnya krn dua sahabatnya terus saja menggodanya menjelang malam pengantin baru
"Duuuh.. gimana ya rasanya malam pengantin" ucap Gandis
"Makanya cepetan nikah, betah aja hidup sendiri" kini yang jomblo yang terpojok Helna & Maira tertawa bersama karna status mereka kini sama tinggal Gandi yang belum sold out wkwkwk
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Helna ada yg mengetuk dari luar, saat dibuka oleh Gandis ternyata itu Fabian
"Suamimu May" Ucap Gandis seraya memasuki kamar Helna kembali
Setelah Maira berbincang sebentar dengan suaminya di depan kamar Helna, lalu Maira berpamitan krn sudah malam Fabian mengajaknya pulang
Kini semua keluarga besar dari besannya sudah pulang, Hasan, Helna dan keluarga Helna mengantarkan mereka sampai teras hingga mobil besannya tak terlihat lagi.
"Sebaiknya Nak Hasan istirahat pasti capek" Ucap bu Farida yang langsung masuk kedalam kamarnya di susul oleh sang suami.
Kini di teras rumah tinggal Hasan dan Helna, Hasan duduk di kursi yanga ada disana
"Ngapain terus berdiri disitu kata patung, sini" Hasan menepuk kursi yang kosong yg ada di sampingnya
Helna terus saja menundukkan wajahnya karna jujur masih gugup dan malu, ini pertama kali dalam hidupnya dekat dengan laki-laki dengan jarak yang begitu dekat
Hasan terus saja mengembangkan senyumnya dari setelah melakukan ijab qobul tadi pagi, tatapannya tak berpaling ke arah lain
Hasan membuka cadar Helna tanpa meminta izin darinya "Jika hanya bersamaku jangan pakai kain ini"
Helna menganggukkan kepalanya
Lalu hasan berdiri dan meraih tangan Helna mengajaknya ke kamar, rumah Helna sudah sepi seperti ya orang tua dan adiknya sdh tidur, Helna yg gemetar sejak di sentuh Hasan lalu menarik tangannya perlahan "Mas gak laper" tanya Helna
__ADS_1
"Nggak.. kenapa, kamu lapar?" Hasan bertanya balik pada istrinya
Helna juga menggelengkan kepalanya
"Ayo tidur sudah malam pasti kamu capek" ucap Hasan seraya menggandeng kembali gangan istrinya memasuki kamar Helna dan menguncinya
Helna masih berdiri mematung ketika mendengar kamarnya di kunci lalu Hasan mendahuluinya menaiki ranjang yg lebar ya 160cm x 2meter saja krn selama ini memang kamar itu hanya tempat tidurnya seorang diri
"Huuuh.. enak sekali tidur disini" Hasan memejamkan matanya menyilangkan tangan di jadikan bantal kepalanya
Hasan kembali membuka matanya karna tidak mendengar pergerakan dari istri ha sama sekali, ternyata benar saja Helna masih berdiri mematung disana persis seperti Hasan sebelum memejamkan matanya
"Apa setelah menikah statusmu berubah selain menjadi istriku kau akan menjadi patung piguranku? Hasan terkekeh melihat istrinya yang polos dan tak bergerak sama sekali
lalu Hasan beralih posisi menjadi duduk dan bersandar di dipan, "Kemarilah istriku" dengan senyum tampannya Hasan menepuk-nepuk kasur di sampingnya yang masih kosong
Dengan jantung yang sudah tak beraturan entah dari kapan, kini mau tidak mau Helna berjalan dan menaiki ranjangnya kemudian duduk disana
"Aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap" ucap Hasan membuat Helna sedikit lebih lega ketika mendengar langsung penuturan itu dari Hasan
Lalu memberikan senyum tipis pada suaminya "Aaaww..."
"Jantungku"
"Jantung tiba-tiba terasa terpanah saat melihat senyummu" Hasan kembali terkekeh betapa malunya Helna di buatnya, kirain benar-benar sakit, sampe wajah Helna khawatir
"Heumm.. Mas bikin aku kaget"
"Tapi jika kau menginginkannya malam ini, aku sudah siap" bisiknya di telinga Helna, Helna sontak membelalakkan matanya dan langsung berbaring membelakangi Hasan
________________
"Morning sayangku.." Fabian menghampiri Maira yang sedang di dapur dan memeluknya dari belakang dengan wajah bantalnya
"Morniing.." sahut Maira singkat, tangannya tetap aktif menyiapkan sarapan untuk suaminya, meskipun gerak langkahnya terus di ikuti oleh Fabian krn tak juga melepaskan pelukannya dan menaruh dagunya di pundak Maira
"Mas.. mandi dulu giih, abis itu kita sarapan"
Fabian memutarkan tubuh Maira hingga mereka kini saling berhadapan, Fabian memeluk pinggangnya erat & Maira kini mengalungkan tangannya di leher sang suami
__ADS_1
"Mandi bersama" Tutur Fabian sambil mencium bibir istrinya singkat karna takut ada asisten-asisten rumah tangganya memergoki merek
"Tapi aku sudah mandi tadi"
"Ya sudah kalau begitu aku gak mandi" Ujarnya seraya melepaskan pelukan lalu duduk di ruang makan
Maira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya seperti anak kecil yang gak di kasih jajan
Setelah mereka sarapan dan kini akhirnya mau pergi mandi setelah Maira membersamainya di kamar mandi dan berakhir dengan ritual panas mereka, entah sejak kapan Fabian mulai suka dengan gaya bercinta di kamar mandi
Maira tengah duduk di kursi meja riasnya.. ia sedang mengeringkan rambutnya yg panjang dan basah
lalu Fabian menghampirinya dan menarik kursi kemudian duduk di belakang Maira
"Sini aku bantu keringkan" Maira memberi seulas senyum mengembang melihat suaminya yg aktif mengeringkan rambutnya, meskipun sesekali ada drama cium-cium lehernya membuat Maira sedikit meremang dengan perlakuannya
"Kamu selalu cantik, Bunda dan Daddy memang diberi bibit unggul oleh Allah sehingga terciptalah kesempurnaan ini" Fabian menadahkan dagunya di pundak Maira setelah selesai mengeringkan rambutnya
"I love you.. i'll always love you" Ucap Fabian yang terus menciumi leher Maira sehingga meninggalkan jejak disana, Maira yang sudah terbiasa di perlakukan seperti sudah tidak aneh lagi, mungkin jika dia belum menutup auratnya akan malu melihat leher dan seluruh tubuhnya ada bekas tanda cinta dari Fabian
"Maira mengelus pipi suaminya, I love you too" lalu mencium singkat bibir suaminya
"Apa kau menginginkannya lagi sayang, sepertinya juniorku bangkit lagi"
Maira sontak menepuk jidatnya
________________________
"Kenapa harus mati di jalan sepi seperti ini sih"
"Duh gimana nih, pasti ibu mengkhawtirkanku, ponselnya juga lowbat"
"Ssssttt..." dua orang laki-laki saling melempar pandang dan senyum smirknya melihat Gandis yang baru pulang kantor dan tiba-tiba motornya mogok
"Kenapa neng motornya?" tanya salah satu dari mereka pura-pura ingin membantu
"Ini pak, motor saya tiba-tiba mati" suara Gandis terbata-bata sepertinya 2 orang laki-laki ini terlihat menyeramkan sejak tadi melihat Gandis dari bawah hingga atas dan begitu terus membuat Gandis bergidik ketakutan
"Sini saya bantu dorong disana ada bengkel yg buka 24 jam"
__ADS_1
Gandis yang memang butuh pertolongan dengan senang hati di bantu, dalam hatinya berharap mereka benar-benar membantunya
"Pak kok sudah jalan jauh bengkelnya belum juga keliatan ya" tanya Gandis polos..