Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 25 : Kamu Cantik


__ADS_3

"Jika aku tak khilaf" teriaknya sambil berlaku pergi memasuki kamarnya


Maira sontak membelalakan matanya terkejut dengan perkataan suaminya "Itu berarti... hhhuuuhh enggak nggaak.." kini pikiran maira sudah melayang kemana-kemana akan berbagai kemungkinan terjadi jika mereka tidur bersama


Lalu iapun pergi ke kamarnya hendak memindahkan barang-barangnya ke kamar utama, tak henti-henti lisannya mengucap Istighfar... untuk menghilangkan pikirannya dari yang iya iya wkwk..


Setelah selesai berkemas maira hendak memasuki kamar fabian yg memang terbuka lebar, disana maira tak melihat fabian, namun pintu kamar menuju balkon terbuka, saat mendekati pintu, ternyata benar fabian ada disana sedang menelpon seseorang


"maaf aku tak bisa menemuimu, kau hubungi saja teman-temanmu yang lain, aku sedang sibuk"


Hanya itu kalimat yg Maira dengar, setelah menyadari ada suara didalam kamarnya fabian pun masuk, saat melihat disana ada maira yg sedang berdiri menunggunya, "Ma maaf mas aku lancang memasuki kamarmu"


"Hehe... kamar KITA, bukan kamarku saja"


"I iya maaf" maira semakin gugup saat fabian mendekati dirinya, jarak yang semakin dekat hingga deruan nafas fabian menghembus di wajah maira, maira berusaha memalingkan pandangannya ke segala arah, saat fabian mendekati wajahnya kurang lebih berjarak 5cm "Aaawwwhhh"


Maira yg hamoir terjatuhbke belakang karna mundur tanpa keseimbangan, lalu dengan refleks fabian menangkap pinggang rampingnya


DEG


DEG


DEG


Entah kenapa kini jantung semakin berdeguk kencang.. tatapan mereka bertemu seperti seorang yg sedang berdansa, saat menyadari tubuhnya berada di pelukan suaminya maira berontak dan fabian melepaskan tangannya hingga maira terjatuh.. "Aaawwwhh"


Fabian bukannya menolong istrinya dia hanya berdiri dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya


Maira memasang wajah kesalnya pada suaminya, "Belum di apa-apain sudah menjerit-jerit seperti itu" ucap fabian seraya mengambil koper Maira memindahkannya ke walking closet


Sebetulnya fabian tadi menghampirinya untuk membantu Maira mengangkat dan mendorong kopernya, setelah melihat kegugupan di wajah istrinya fabian berinsiatif mengerjai istrinya yg semakin kikuk ketika berhadapan dengannya..


"Gimana gak njerit.. Mas jatuhin aku ke lantai kok" tutur Maira sambil mengibas-ngibaskan bokongnya


Fabian hanya tersenyum puas berhasil mengerjai istrinya...


Maira kini menyusul suaminya ke walking closet untuk membereskan pakaiannya


**


"Ternyata ketika perempuan sudah menikah sulit keluar ya Na" tutur gandis kepada helna di sebuah resort di mall setelah mereka pulang kerja.

__ADS_1


"Begitulah dis, mungkin nanti aku dan kamu pun sama, kita akan punya kesibukan masing-masing, karna ada tanggung jawab mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga kita"


Gandis hanya mengangguk-anggukan kepalanya


"Kita video call maira yuk.. kangeun rasanya, sekalian kita tanya besok mau ikut kajian apa ngga?"


"Boleh juga yuk" sahut helna sambil mengeluarkan ponsel genggam dari tasnya.


Setelah berhasil menghubungi sahabatnya "Maaay... Assalamualaikum, bagaimana kabarmu?" tanya helna dan gandis antusias setelah melihat wajah sahabatnya di layar ponsel mereka


Maira "Alhamdulillah aku dalam keadaan baik-baik saja, bagaimana kabar kalian berdua?"


"Alhamdulillah kita juga baik-baik aja kok, cuma kita kangen banget nih sama kamu may, apa kau tidak bisa keluar?"


"Euumm... gimana ya, kalian tau sendiri pagi ke kantor sore aku harus sudah dirumah" Maira mencebikkan bibirnya di balik cadarnya


"oh iya may.. besok ada kajian Ustadz Fatih, kamu coba izin suamimu barang kali aja dia juga ikut kajian, krn ini kajian untuk umum, gimana?"


"nanti aku obrolin dulu deh sama orangnya, skrg lg di ruang kerja khawatir mengganggu"


"ya udah ya may.. semoga Allah mudahkan segala urusan kita semua, dan aku berharap besok kita bertemu, banyak yg ingin kita cerita ke kamu may" ucap Helna


"Aamiin.. In Syaa Allah besok aku kabari lagi ya, daah.. Aassalamu'alaikum" Maira mengakhiri panggilan sahabatnya khawatir fabian sudha di dalam kamar


**


"Berbicara dengan siapa?"


"Eeuh.. Helna dan Gandis sahabatku"


fabian hanya mengangguk-anggukan kepalanya


"Mas.. besok kan aku libur, boleh gak aku ikut kajian rutin bersama sahabat-sahabatku?"


Fabian diam sesaat tak langsung menjawab "Dimana?"


"Daerah (..........) mas juga bis aikut kita kalau mas mau" tutur maira


"Apa sebelum menikah kau rutin dg aktifitas itu?"


"Iya mas"

__ADS_1


"Selain itu apa kegiatanmu sebelum menikah denganku?"


"Aku ngajar taekwondo setelah lulus kuliah, mendesign berlian untuk perusahaan daddy, dan aku juga rutin latihan menembak dan berkuda setiap sepekan sekali"


Tatapan fabian menelisiknya seperti tak percaya, bagaimana mungkin wanita bercadar ini banyak melakukan aktifitas yang tak biasa itu


"Kau boleh rutin melakukannya lg jika kau mau"


Maira sontak membuka lebar matanya tak percaya dengan apa yg dia dengar "Mas Abi serius?" tanya maira meyakinkan pendengarannya


"Heeumm.." sahut fabian


"Alhamdulillah.. makasih ya mas, aku gak akan ambil semua kegiatan itu kok, hanya ingin merutinkan salah satunya aja" ucapnya


"Tapi itupun jika tak melelahkanmu"


Maira menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku sudah biasa melakukannya"


Setelah obrolan ringan itu, Fabian menatap lekat mata biru maira yang membuat istrinya salah tingkah "Apa aku boleh melihat wajahmu?


Deg.. tiba-tiba jantung maira seperti sesak, maira tak menjawab permintaan dari suaminya namun ia hanya menganggukkan wajahnya tanda setuju


Fabian pun mengangkat kedua tangannya perlahan meraih sehelai kain yang menutupi wajah sang Istri, setelah membuka tali cadarnya dan kini terlepas


Fabian lalu melihat wajah istrinya yg cantik dan sempurna dia sontak mengucapakan "Maa Syaa Allah" lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah karna entah harus mengatakan apa lagi ketika melihat wajah istrinya yg berkulit putih mulus, bulu mata lentik, bibir merah muda dan tipis, hidung mancung, dan bola mata yang besar & berwarna biru yg selalu menghipnotis siapapun yg menatapnya


Maira hanya menundukkan wajahnya malu di tatap lekat seperti itu oleh suaminya


"Jangan gunakan ini saat kau berada dikamar bersamaku" ucap fabian, lalu menaruh cadar maira di meja, tatapannya yang tak berpindah dari netra biru sang istri dengan lekat


Maira hanya menganggukkan kepalanya


Fabian tersenyum bahagia melihat pemandangan yang indah yg ada di hadapannya..


_Sungguh sempurna ciptaan-Mu yaa Rabb_ batinnya


Semenjak cadarnya dibuka maira tak berani mengangkat wajahnya walaupun hanya sekilas, maira belum terbiasa berhadapan dengan laki-laki tanpa cadar setelah hijrahnya kecuali kaka dan ayahnya saja, dan kini fabian menjadi laki-laki ketiga yang melihat wajahnya dengan jelas.


Fabian perlahan mengangkat dagu istrinya lalu mendekatkan wajah mereka, kini detak jantung maira semakin tak beraturan di buatnya.


"Cuuupp.." Fabian mengecup kening istrinya, membuat maira entah harus bagaimana, dimana suaminya mengecup dengan durasi yg lumayan lama membuat maira semakin kikuk.

__ADS_1


Setelah melepaskan kecupannya fabian menatap wajah istrinya "Kamu cantik"


Bluussshh.. wajah maira kini memerah seperti tomat matang


__ADS_2