Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 22 : Lakukan sesuka hatimu


__ADS_3

Maira yg melihat itu heran "Ada apa dengannya" gumamnya dalam hati


**


Sampailah mereka berdua di rumah besar 2 lantai yang sangat besar dan mewah luasnya kira-kira 1000meter, sudah pasti ini adalah rumah idaman..


Kebetulan disana ada nick yang sedang menunggu dan membantu menurunkan koper-koper majikannya, kini Fabian berjalan terlebih dulu dan maira mengikuti dari belakangnya sambil melihat-lihat ke setiap sudut betapa megah huniannya yg fabian hadiahkan sebagai mahar pernikahan


"ini kamar utama, kau akan tidur denganku atau memilih kamar untuk dirimu sendiri?" setelah mengucapkan itu fabian berlalu membuat Maira gamang menghadapi sikapnya yg tiba-tiba dingin..


Akhirnya maira memutuskan memilih kamar tidur yang ada di sebelah kamar utama, karna mungkin saja suaminya belum terbiasa juga dg keberadaannya


"Aku harap kau memilih sekamar denganku jika kau faham bahwa kau seorang istri" gumam fabian saat di dapur mengambil air minum


"Tuan.. pekerja-pekerja baru baru datang besok" ujar nick menghampiri tuannya yg kini duduk di meja makan, Fabian hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya


"Baik tuan saya permisi" pamit nickolas


Setelah berada di kamarnya maira bingung mau ngapain, terlebih setelah mengetahui sifat asli suaminya yg tiba-tiba berubah


"Sebaiknya aku menghubungi Helna dan Gandis kali ya heumm.."


"Assalamualaikum.. "


kemudia 2 sahabatnya menjawab salam serentak


Gandis : "Pengantin baru bukannya honeymoon malah yg telponan


Helna : "Tau nih.. gimana-gimana malam pertama lancar hehe?"


"Heumm.. Aku rak bisa menceritakan apapun untuk saat ini, kalian tau sendiri aku di nikahkan dengan laki-laki yang gak ku kenal" tutur maira yg mencebikan bibirnya


"Ya ya... kamu butuh waktu agar terbiasa dengannya" tutur gandis

__ADS_1


"Tapi ingat satu hal may, kau harus melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri, jangan sampai malaikat memurkaimu karna kau tak memberi hak suamimu" ujar helna mengingatkan sahabatnya


Mendengar penuturan helna maira bangkit dari tidur kini duduk menyandarkan dirinya di dipan "Maksudmu apa na?"


"May maay.. masa gak ngerti sih, aku tidak maksud mengguruimu hanya saja dari buku yang ku baca, kita tidak boleh menolak ajakan suami kita, minimal kau minta maaf dan meminta pengertiannya jika kau memang belum siap agar dia faham" maira hanya diam menyimak dan mendengarkan sahabatnya


"Betul may apa yg helna ucapkan.. kamu harus mengubur egomu saat berhadapan dengan suamimu, belajarlah membuka diri dan hatimu, karna kini letak keridhoanmu ada di suamimu jadi kau harus pandai-pandai mengambil hatinya.


Setelah mereka mengobrol panjang lebar Maira kini melihat jam menunjukan pukul 11, dia harus menyiapkan makan siapa untuk pertama kalinya..


Maira keluar kamar dan menuruni anak tangga, setelah sampai bawah dia melihat suaminya di meja makan hanya memainkan ponselnya dan di hadapannya hanya ada air putih


Tanpa inisiatif menanyai suaminya maira memasuki dapur dan membuka lemari es berharap ada bahan-bahan yg bisa ia masak, meskipun dia tak pernah masak tapi dia harus belajar


Melihat istrinya yg mondar mandir di dapur seperti mencari sesuatu fabian hanya menatapnya dari meja makan, fabian kini yg jual mahal


Saat maira melirik ke arahnya fabian buru-buru mengalihkan pandangannya ke ponsel yg ada dalam genggamannya, berharap Maira tak menyadari bahwa fabian sedang memperhatikannya


Maira membuang jauh-jauh gengsinya dan menghampiri fabian yg masih berpura-pura tak melihat keberadaan istrinya


"Heummm... ada apa?"


"Apa mas tidak ingin memakan sesuatu untuk makan siang nanti? tanya maira


Mendengar pertanyaan dari istrinya fabian langsung meletakan ponsel fenggamnya dan menatap lekat mata istrinya "Apa kau bisa memasak mkanan untukku?"


"Aku belum bisa memasak apapun, tapi aku akan mencobanya"


Fabian hanya menyunggingkan senyum di wajahnya "lalu apa yang kau inginkan dariku?"


"Di dapur tak ada apapun untuk di masak"


"Makan siang ini aku akan memesannya dari luar, besok sudah ada koki untuk memasak makanan untuk kita"

__ADS_1


Maira sungguh kecewa mendengar ucapan fabian, dia tak mengindahkan istrinya yg mau belajar masak, padahal maira ingin mereka belanja keperluan dapur ke super market


"Ya sudah.." maira kembali ke atas menuju kamarnya, fabian hanya menatap kepergian istrinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun


Adzan dzuhur berkumandang, Fabian berangkat ke mesjid yang dekat dengan rumahnya sementara maira shalat di kamarnya, tak kupa Maira berdoa dan memohon untuk kebaikan rumah tangganya agar di berikan sakinah, mawaddah dan Rahmah


1 jam berlalu..


Fabian memasuki kamarnya, benar saja maira tak ada disana, dia memilih kamar lain "Aku takkan memaksamu sampai kau sendiri datang kepadaku" gumam fabian menatap dirinya di cermin


Maira sedang duduk di sofa sambil membaca buku, mendengar ketukan pintu, langsung mencari cadarnya dan membuka pintu, dan di depan sana sudah ada fabian sedang menunggunya.. "Iya mas"


"Makan siang kita sudah datang" tidaka menunggu maira merespon fabian berlalu meninggalkan istrinya yang menatapnya gamang


Maira pun turun, dan menyiapkan piring, sendok dan air putih, krn disana rumah baru jadi fabian blm mempersiapkan apapun.. dia rencana belanja setelah ada art rumah tangganya yg baru besok datang


mereka makan hanya fokus makan tak ada yg membuka suara satupun kecuali dentuman sendok yg bertabrakan sesekali dengan piring


"Mas aku mau minta izin, apa boleh jika aku masih tetap bekerja di kantor daddy?"


Fabian menghentikan makannya "Apa izin dariku penting bagimu?"


Deg!


kenapa maira merasakan sesak di dadanya mendengar kalimat itu keluar dr mulut suaminya


"Kau bebas melakukan apapun sesuka hatimu Maira"


_Ya Allah_ kenapa ucapan-ucapannya seperti menghujam jantungku. gumamnya dalam hati


Maira tak ambil pusing perkara perasaannya, skrg ia sedang membereskan meja makan, dan mencuci piring yg barusan mereka gunakan


Setelah selesai melakukan aktifitasnya maira pergi ke taman belakang disana di suguhkan pemandangan yg sangat indah, dimana banyak bunga-bunga dan tanaman-tanaman hias, lalu ada kolam renang 2 sekat, sepertinya 1 untuk anak-anak satunya lg yg spacenya besar untuk orang dewasa..

__ADS_1


Maira kini duduk di kursi yg ada disana dan membaca buku dengan mengenakan kaca mata


ia tak menyadari jika ada sepasang mata sedang menatap ke arahnya


__ADS_2